Coban Sewu

Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang, Terindah di Indonesia (?)

Rasanya masih begitu takjub, niatan untuk datang ke Air Terjun Tumpak Sewu itu akhirnya tercapai. Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu aku ingin ke Tumpak Sewu, yang juga dikenal dengan nama Coban Sewu itu. Tepatnya saat menjadi relawan Kemenkeu Mengajar di Malang sebelum pandemi, aku sudah berniat ke sana. Namun, pihak rental motor yang kusewa bilang tak boleh membawa motor ke sana, ditambah aku sendirian dan katanya jalannya jelek.

Padahal di Google Maps jaraknya hanya 60-an kilometer. Ya berkendara santai saja, paling-paling tidak lebih dari 2 jam.

Tahun demi tahun berlalu, dan ternyata kita harus meyakini untuk tidak takut punya mimpi. Ndilalah, ada jadwal KKL ke Malang awal Maret lalu, dan segera kususun rencana untuk mengunjungi air terjun Tumpak Sewu, yang bisa bilang terindah di Indonesia itu.

Aku tawarkan rencana itu ke rekanku dan alhamdulillah, Hamzah dari Ambon juga penasaran ingin mengunjunginya. Jadilah kami berangkat berdua, menyewa motor dari Sewa Motor Malang (@momo_rent). Memang sih, biaya sewa motor di sana hanya meliputi Malang Raya, untungnya ke Tumpak Sewu diperbolehkan dengan menambah biaya sewa dari semula 75 ribu/hari menjadi 105 ribu (+30 ribu) untuk biaya sewa di luar Malang Raya.

Niat hari berangkat sangat pagi, supaya dapat golden hour, ternyata baru setengah 8 lewat kami pergi. Sarapan di batas kota. Sambil memegang peta, kami mencari di mana air terjun terindah itu.

Saat sudah dekat di peta, kami menemukan gapura bertuliskan Coban Sewu. Ragu kami bertanya ke penduduk setempat di sana dan bilang memang itu pintu ke Coban Sewu. Kami masuk tanpa rasa curiga dan benar ada parkiran menuju Air Terjun Coban Sewu.

Kami pun bertanya ke Ibu Penjaga, sekali lagi tentang kebenaran pintu Coban Sewu. Sebab di sana hanya ada 1 motor lain yang terparkir selain kami. Sang Ibu mengatakan ini pintu 1. Ada 2 pintu masuk ke Air Terjun Tumpak Sewu. Pintu 1 disebut juga Pintu Malang. Pintu 2 pintu Lumajang.

Kami bertanya lagi, bagaimana rute tempuhnya. Sang ibu menjawab sama saja.

Dengan semangat kami berjalan dan rasanya sampai ke panorama medannya tidak sulit. Bahagialah kami sampai ke panorama, berfoto ria, mengambil gambar sepuasanya. Sebelum melanjutkan perjalanan dan kami sebut pintu 1 ini sebagai “pintu neraka”.

Pasalnya, rute turunnya sangatlah terjal. Hanya ada tangga besi, bambu, tali, tanpa pengaman sama sekali. Sudut elevasinya begitu mengerikan. Tak terbayang bagaimana nanti harus mendaki. Celakanya, minuman yang kubawa jatuh saat menuruni tangga itu dan aku kehausan dalam kira-kira nyaris 1 jam menuruni tebing itu.

Tentu saja tidak sempat aku mengambil gambar apa pun dari pintu 1 ini! Tapi ada beberapa foto di Google yang bisa dijadikan gambaran.

Sesampainya di bawah, lelah dan lutut gemetar. Mental benar-benar diuji karena ada tangga yang bikin ngeri. Melintang di atas jurang dan kita menitinya hati-hati karena besinya itu bergoyang-goyang.

Segera aku berpikir mencari solusi. Berkenalan dengan orang-orang di bawah. Meminta air minum. Dan bertanya apakah ada pintu lain.

Jawabannya pintu 2. Ternyata pintu 2 tidak seekstrem pintu 1. Walau juga harus melewati bebatuan yang dialiri air yang cukup deras, tapi masih mendingan lah. (Memang benar demikian karena ternyata pintu 2 masih jauh lebih manusiawi).

Di bawah itu aku puas-puas mengambil gambar dan menikmati keindahan Air Terjun Tumpak Sewu. Aku tak tahu bagaimana menggambarkannya. Biarkanlah foto-foto yang bicara.

Air Terjun Tumpak Sewu

Asal Mula Air Terjun Tumpak Sewu

Berawal dari keprihatinan terhadap warga sekitar di Desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo, Lumajang Jawa Timur Abdul Karim selaku pengelola Tumpak Sewu, ia berinisiatif untuk menghasilkan pendapatan untuk masyarakat sekitar.

Karena potensi alam di Desa Sidomulyo sangat indah dan bagus, akhirnya, Ia mempunyai ide untuk membuat kawasan wisata dan mengajak para warga untuk mengelola kawasan wisata alam yant terpendam di sana.

Abdul Karim beserta warga pada awalnya ingin mengelola tempat wisata Goa Tetes, tetapi pemerintah setempat tidak menyetujuinya, karena tempat wisata tersebut sudah dikelola oleh pemerintah. Akhirnya ia mencari tempat wisata yang mempunyai potensi alam lainnya.

Setelah mencari, ada 10 air terjun,  akhirnya Ia menemukan air terjun tersebut, setelah difoto di berbagai sudut, akhirnya sepakat bahawa air terjun ini mampu dijual baik nasional dan internasional.

Awalnya warga tidak setuju, karena tempat terebut merupakan tempat warga mencari rumput, dan mereka berpikir bahwa siapa yang ingin berkunjung ke sana? Namun, setelah bersosialisasi, dan tekad yang kuat, akhirnya warga menyetujui untuk mengelola kawasan air terjun tersebut.

Pada mulanya, untuk mengelola air terjun tersebut Abdul Karim menggunakan dana pribadi, dan seiring berjalannya waktu dananya terkumpul dari uang-uang sumbangan.

Air Terjun Tumpak Sewu yang terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang memiliki sejarah dan keunikannya sendiri. 

Diberi nama Tumpak Sewu,  yaitu, Tumpak dalam artian Jawa kuno, yang artinya Sabtu kita bukanya hari Jumat sore habis dzuhur, kalau hitungan Jawa sudah masuk dalam hari Sabtu. Sedangkan, Sewu adalah Air Terjun Seribu karena alirannya terbagi menjadi banyak bagian dan  walaupun musim kemarau, tidak akan berkurang.

Sejak saat itu, Abdul Karim bersama warga sekitar sepakat untuk menjadikan Tumpak Sewu dijadikan tempat wisata khas di Desa Sidomulyo. 

Berkat bantuan dana pribadi dan dana dari sumbangan dari beberapa warga sekitar, seiring berjalannya waktu Abdul bersama warga membuat fasilitas untuk turun dan naik untuk menikmati keindahan panorama Tumpak Sewu selama empat bulan. Tepat tanggal 13 Maret 2015, air terjun tersebut diresmikan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.