Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Bujang Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Namun, mereka berdua saling menyayangi.

Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seseorang yang sangat penakut.

Suatu hari Tanjung menangis karena kelaparan. Tidak ada sedikit pun makanan yang dapat mereka makan. Bahkan, untuk memasak, mereka tidak mempunyai api.

“Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan? Api untuk masak pun kita tak punya,” ujar Tanjung.
“Iya Dik. Kalau begitu, sekarang kakak pergi dulu untuk mengambil api ke gunung,” jawab Lematang.

Ia pun berpesan, “Adik tidak usah takut. Kalau nanti datang Antu Ruak Belekang dan dia memanggil-manggilmu, janganlah sekali-kali engkau jawab. Selama Kakak pergi, tinggallah engkau di atas langit-langit.”

“Kak aku lapar nian, tapi cak manela makanan kite dek katik, apelagi api,” ujar Tanjung sambil memegang perutnya karena menahan lapar.
“La ngape adek tu tak ngomong ngan Kakak. Kalu mek tu, kakak pegi ngambek api ke gunung,” jawab Lematang. Ia pun berpesan, “Adek jengan takut kalu Antu Ruak Belakang detang. Kalu die manggel kau jengan kau simbet, diem ke be. Selame kakak pegi kau ngimbang di atas palang.”


Setelah menyembunyikan adiknya, Bujang Lematang segera pergi ke gunung. Berhari-hari Bujang Lematang pergi keluar masuk hutan. Akhirnya, sampailah ia di gunung untuk mengambil api. Sementara adiknya menunggu di rumah dalam ketakutan bukan kepalang.

Suatu hari di saat Tanjung sedang ketakutan, datanglah Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang sangat ditakuti di desa karena ia sering memakan manusia.

“Celendup-celentam,” terdengar suara hentakan kaki Antu Ruak Belekang. Tanjung hanya bisa terdiam di tengah ketakutannya.

“Celendup-celentam. Ini rumah siape?” tanya Antu Ruak Belekang.
“Rumah kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” sahut Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke tangga rumah, Celedup-celentam
”Tangge siape ini?”
“Tangge Kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” jawab Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke teras. Celedup-celentam…
“Gerang siape ini?”
“Gerang kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepoloh ari,” jawab Tanjung.

Pintu rumah dibuka Antu Ruak Belakang. Secepatnya dicari sumber suara tadi. Antu Ruak Belekang berhasil menemukan Tanjung. Tanjung langsung disantapnya hidup-hidup.

Bujang Lematang pun pulang. Dari kejauhan ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengingat lelahnya perjalanan yang telah dirasakan, ia berlari secepatnya agar segera tiba di rumah. Ia khawatir akan adiknya yang sendirian di rumah. Ternyata, apa yang menjadi kekhawatirannya memang benar terjadi. Tanjung adiknya telah tiada. Kini yang tersisa hanya rambut, bekas darah, dan kuku adiknya. Kesedihan mendalam dirasakan Lematang karena kehilangan adik satu-satunya. Akan tetapi, secara tidak sengaja Lematang meletakkan sapu lidi ke rambut, bekas darah, dan kuku adiknya.

“Hatciiiimm,” tiba-tiba Bujang Lematang bersin.

Keanehan pun terjadi. Tanjung hidup kembali. Kegembiraan Lematang pun tidak terlukiskan, walau ada rasa tidak percaya dalam dirinya kalau adiknya dapat hidup kembali.

Dasar Tanjung Anak yang manja. Kakaknya baru saja pulang dan belum lepas dari lelah, Tanjung menyuruh kakaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Akhirnya Lematang pergi. Tetapi,seperti biasa sebelum ia pergi menyembunyikan adiknya dan meninggalkan pesan.

“Kalu Antu Ruak Belekang detang, jengan lupe kau tutup idongmu supaye die dek tau kalu di rumah ado urang.”
Setelah itu pergilah Lematang dengan hati cemas.

Celedup-celentam… bunyi kaki Antu Ruak Belekang.

Sayangnya pada saat itu Tanjung terlambat menutup hidungnya jadi kecurigaan Antu Ruak Belekang timbul karena waktu ia datang ia mencium bau manusia, tetapi sekarang tidak. Tanpa berkata lagi Sang Antu masuk ke rumah dan mencari-cari manusia untuk disantapnya.

Pada saat itu Bujang Lematang pulang dilihatnya pintu rumah terbuka ia tergesa-gesa karena takut hal yang lalu akan terulang kembali. Ketika Lematang sampai ia langsung berkelahi dengan Antu Ruak Belekang. Ternyata Lematang pun kalah dan ia pun dimakan Antu Ruak Belekang.

Tanjung kasihan melihat kakaknya dimakan Antu Ruak Belekang. Ia pun keluar dari persembunyianya. Pada akhirnya kakak beradik ini meninggal dunia. Yang tinggal hanya rambut, bekas darah, dan kuku mereka berdua.

Cerita ini berasal dari Desa Pangkalan Panji KM.38, Kabupaten Banyuasin III.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *