Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki yang bernama Ario Bajung. Ia adalah seorang pemimpin desa yang sangat di hormati oleh rakyatnya. Ia merupakan sosok pemimpin yang adil dan bijaksana yang sangt sulit ditemukan pada zaman sekarang ini. Selain itu Ia sangat ramah terhadap semua orang.Ia sangat peduli terhadap
nasib rakyatnya. Kadang kala tidak segan-segannya ia datang kerumah penduduk unuk menyelesaikan kesulitan-kesulitann yang dihadapi masyarakatnya. Kalau keadaan panen kurang memuaskan maka Rio bajung menganjurkan agar rakyatnya membuka ladang ditempat lain. Ia selalu memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dihadapi oleh rakyatnya.
“Wahai saudaraku suddah kehendak alam kita harus mencari tempat baru untuk hidup. Tanah kita ini sudah tidak subur lagi, Kalau sudah seperti ini, jalan satu-satunya kita harus berladang di tempat lain , tapi kita mesti berpusah ditempat yang berbeda-beda.” Seru Ario bajung denga penuh kebijaksanaan.
“Tapi kami sudah terlanjur betah tinggal di dusun ini juga denganmu Ario Bajung”. Salah seorang penduduk yang hendak menolak tawaran Ario bajung.
“Karena itu kita berpisah hanya pada musim bercocok tanam, ketika sudah panen kita berkumpul lagi di dusun ini . Supaya hubungan persaudaraan kita tidak terputus ada baiknya kita menggunakan isyarat. Isyarat yang kita gunakan adalah pukulan gong. Apabila gong berbunyi tiga kali itu berarti ada kabar baik dan kita berkumpul lagi di dusun ini, tetapi apabila gong berbuniy beruntun dan terus menerus berarti ada bahaya yangg datang. Itulah isyarat untuk kita patuhi bersama “
Setelah Ario bajung berbicara demikian maka semua rakyatnya menyatakan sependapat dan mereka semua berjanji unutk mematuhi akan tanda isyarat tersebut. Selanjutnya mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing, mereka pun pergi ke tempat yang berbeda-beda untuk bercocok tanam sambil terus memperhatikan apabila ada tanda isyarat gong di bunyikan mereka yang mendengar lebih dulu akan saling menyampaikan satu sama lain, agar segera kembali ke dusun mereka.Gong tersebut di letakkan di sebuah banngunan menara yang tinggi dan dijaga secara bergantian okeh penduduk dusun. 
Pada suatu hari penduduk yang sedang bertugas menjaga gong tersebut tertidur dengan nyenyak karena sudah seharian penuh bekerja di ladang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki ke atas menara tersebut, karena dilihatnya ada sebuah gong maka lelaki itu dengan sangat bernafsu memukul gong itu berulang-ulang tanpa henti. Penjaga yang tertidur itupun terkejut dan langsung bangun, lalu dilihatnya orang yang sedang memukul-mukul gong itu dengan sangat bernafsu, 
“ Hai saudaraku apa yang sedang kamu lakukan dengan gong itu ?”
Karena pertanyaan itu tidak dijawab, sang penjaga gong tadi marah, lalu ditariknya tangan orang itu agar ia berhenti memukul gong, dan akhirnya mereka berkelahi. Tidak lama kemudian semua penduduk dusun datang berkerumun menanyakan ada bahaya apa yang telah terjadi. Penduduk itupun melihat sang penjaga gong yang sedang berkelahi di atas menara, lalu mereka naik ke menara dan berusaha melerainya .
Semua orang bertanya-tanya apa yang telah terjadi, namun penjaga gong itu tidak bisa menjawab. Tiba- tiba muka orang yang memukul gong tadi terbelalak dan kemudian ia tertawa sendirian. Ternyata orang yang telah memukul gong itu adalah orang gila .
“Dimana musuh kita, apa bahaya yang terjadi“ teriak para penduduk yang berdatangan dari ladang yang letaknya sangat jauh, dengan membawa peralatan perang di tangan . Mereka pun terdiam dan mengelilingi Ario bajung .
“Saudaraku aku senang melihat kalian semua masih ingat dan menepati kesepakatan kita dulu, Dan aku berharap bahwa kalian tidak akan melupakan kesepakatan yang telah kiat buat. Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa sebab gong itu dipukul oleh orang gila yang tadi, ya sudah kalau begini sebaiknya kalian kembali ke tempat kalian masing-mmasing dan gong ini sebaiknya diturunkan saja lalu dijaga baik-baik.” 
Demikianlah akhirnya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing dengan penuh kelegaan walaupun mereka terlihat agak kecewa. Kini gong itu tidak lagi dipergunakan untuk memberikan isyarat kalau terjadi sesuatu. Penduduk tetap menjalin komunikasi yang baik walaupun jaraknya terpisah. Berkat kepemimpinan Ario bajung yang adil dan bijaksana tersebut, dusun lubuk karet menjadi aman. Persatuan dan kesatuan warga masih tetap terjaga walaupun tidak ada lagi suara gong,. Gong tersebut di anggap sebagai lambang kesatuan dan persatuan penduduk di desa Lubuk karet.
Cerita ini berasal dari desa Lubuk Karet, BayuasinDiceritakan oleh Dyan Racmatullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *