Dahulu kala ada seorang putri yang sangat cantik namanya putri Mahligai, ia adalah selir dari sunan yang memerintah di Desa Tebing abang. Kecantikan Putri sangat luar biasa. Suatu ketika ada pasukan Belanda yang masuk ke Desa Tebing abang.
Pasukan itu dipimpin oleh seorang Jendral, saat Jendral melihat putri Mahligai ia langsung jatuh hati pada Putri dan ia pun ingin memiliki sang Putri, walau dengan cara apapun.
Mendengar hal itu putri menjadi cemas dan panik, ahirnya ia menceritakan semuanya pada sunan, setelah mendengar cerita Putri sunan mencoba menenangkan Putri, ia mencoba mencari cara agar Putri selamat dari kejaran Jendral, ahirnya Jendral mendapat ide bahwa cara satu-satunya adalah menyembunyikan Putri ditempat yang paling aman yaitu di Tanjung yang bereda di hutan. Ia bersama pengawalnya yang bernama Siden ali segera membawa putrid ketempat itu. Setelah sampai sunan berkata pada Putri,
“Mahligai kau harus bersembunyi disini, jika ada bahaya sebuah wahyu akan menolong mu”. 
Putri hanya mengangguk. Sunan dan Siden ali pun meninggalkan Putri sendirian, di sana Putri membuat tempat persembunyian yang disebut Mahligai untuk mengintip pasukan Jendral. Setelah Jendral mengetahui bahwa Putri telah di sembunyikan oleh Sunan ia segera mencari Putri ke berbagai tempat, tidak lama kemudian ia mendengar bahwa Putri bersembunyi di Tanjung. Jendral tidak membuang waktu ia lansung pergi ke Tanjung tempat Putri bersembunyi. Saat kapal Jendral mendekati Tanjung, Putri lansung mengetahuinya, ia lansung panik, kepanikan itu tidak bertahan lama, ia lansung teringat kata-kata Sunan, dan ia pun memiliki kekuatan untuk terbang.
Putri terbang ke hutan yang berda di Desa Pengumbuk untuk menghindari Sunan. Saat Pasukan Jendral mengejarnya ke Pengumbuk ia pun terbang kembali ke Tanjung, bertahun-tahun hal itu di lakukan Putri, di saat Putri telah menjadi lemah Jendral masih mengejar Putri, ahirnya saat kapal Jendral mendekati Mahligai Putri sesuatu yang aneh terjadi, semua itu di luar dugaan Jendral, seketika ombak menjadi besar menggulung kapal Jendral, Jendral dan pasukannya tenggelam beserta kapal yang mereka kendarai, tidak lama setelah kapal Jendral tenggelam ombak berubah menjadi tanah di saat itu pula hidup Putri Mahligai berahir. Tanah yang dulunya ombak kini di beri nama Tanah Tanjung mahligai oleh Masyarakat Tebing abang untuk mengenang Putri Mahligai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *