Pada zaman dahulu, penduduk masih hidup pindah-pindah tempat dari satu daerah ke daerah yang lain. Akhirnya mereka menetap di suatu tempat yang kelak daerah tersebut diberi nama desa Tanjung Beringin.

Desa Tanjung Beringin terdiri atas beberapa wilayah yaitu Pulau Simpang Pelantar, Pulau Jemewe, Pulau Belatek, Pangkalan Kijang, Matang Mecang Air Rempah, Sake Tige, Bundud Satu, Bundud Dua, Pulau Enau, Pulau Pak Meben, dan Gaung Beringin.

Pada Tahun 1909, para penduduk dari berbagai wilayah yang ada di desa tanjung beringin bersatu membentuk sebuah kampung yang dinamakan Rengan Nangka yang dipimpin oleh seorang Karie yaitu Karim bin Jaiman serta seorang Depati bernama Seman. Beberapa tahun kemudian Karienya diganti oleh Hamid dan Depatinya Mamad. 

Pada masa kepemimpinan Karie Muhammad Yahya dan tepatnya Aziz dan Nurhasan, banyak kejadian yang ditemukan oleh salah satu penduduk. Temuan tersebut adanya sebuah rumah bersake tige yang letaknya tidak jauh dari Pulau Air Rempah dan Pulau Sake Tige. Kemudian Kerie tersebut mengumpulkan penduduk desa dan bertanya. “Wahai penduduk siapakah yang telah membuat rumah bersake tige ini, karena rumah itu berbeda dengan rumah penduduk yang lain, serta rumah tersebut dari kayu besar dan diikat menggunakan rotan tanpa dibelah?”

Salah satu penduduk menjawab. “Pemilik rumah bersake tige itu adalah orang Kubu yang bertelapak lebar, mereka hidup berpindah-pindah dan melakukan perjalanan dari Pulau Ipuh menuju ke Pulau Sake Tige, kemudian menyusuri Sungai Air Palal yang terletak di antara jalan Pangkalan Balai menuju Pengumbuk. Selain itu juga di kampung Rengan Nangke terdapat tiga pulau dan tiga sungai yang melingkari Rengan Nangke, di antaranya Pulau Simpang Pelatar, Pulau Sake Tige, Pulau Gaung Beringin. Sejak saat itulah, kampung Rengan Nangke berubah nama menjadi Kampung Sake Tige.”

Karie Muhammad Yahya kemudian digantikan oleh Karie Bujang Ayu. Pada saat kepemimpinan Karie Bujang Ayu tidak ada lagi Depati tetap, digantikan oleh seorang Pesiranya Sabidi Majid. Kemudian Kaarie Bujang Ayu mengusulkan agar nama kampung Sake Tige diubah namanya menjadi dusun Tanjung Beringin. Hal ini dikarenakan di daerah tersebut terdapat telaga atau gaung yang di sampingnya ada pohon beringin dan kira-kira 200 meter terdapat pula pohon Tanjung yang apabila berbunga harumnya semerbak mengharumi Dusun Tanjung Beringin.

Pada awalnya dusun tersebut namanya Gaung Beringin bukan Tanjung Beringin tetapi dalam suatu musyawarah dusun mufakat diberi nama Dusun Tanjung Beringin.

Kira-kira lebih kurang satu tahun di bawah pimpinan Karie Hasim bin Duliman muncullah peraturan baru yang mengusulkan bahwa pemilihan pimpinan atau kepala desa harus dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilihan pun berlangsung dan dimenangkan oleh Arifin bin Hasim pada tahun 1982, maka Arifin bin Hasim mengubah nama dusun menjadi desa yaitu Desa Tanjung Beringin. Sampai pemilihan kepala desa berikutnya yang dipimpin oleh Mesir bin M. Zaini di bawah pemerintahan Syarkowi, MH nama desa tersebut tidak mengalami perubahan, tetap Desa Tanjung Beringin yang terletak di Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Pangkalan Balai – Sumatera Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *