5 Destinasi Wisata di Kabupaten Banyuasin

Kabupaten Banyuasin yang merupakan pecahan Kabupaten Musi Banyuasin juga memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik. Kelima destinasi tersebut memiliki nilai sejarah dan sosial budaya yang luar biasa. Berikut 5 destinasi wisata di Kabupaten Banyuasin:

Sungsang, Desa Wisata Air

Sungsang sebagai Desa Wisata Air yang terkenal mempunyai pemandangan alam yang indah. Sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata air di daerah Kabupaten Banyuasin yang dapat meningkatkan pemasukan daerah dengan menempuh pembangunan industri pariwisata air dan lebih memantapkan dan menaruh perhatian yang lebih mendalam menyangkut pariwisata di Desa Sungsang.

Selain itu, adat istiadat pernikahan desa Sungsang yang dikenal dengan nama basengi juga menarik disaksikan. Upacara adat pernikahan ini diawali dengan pemotongan hewan kerbau sebagai persembahan untuk sang pencipta sebagai rasa syukur warga atas segala nikmat. Wisata Budaya ini di tampilkan saat acara Pawai Budaya Nusantara di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tim kesenian Kabupaten Banyuasin yang mewakili provinsi Sumatera Selatan dibawahkan oleh 45 penari dari sanggar seni Sedulang Setudung dibawah asuhan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuasin Hj Hafinalty Amiruddin Inoed. Ini menunjukan bahwa Wisata Budaya di Kabupaten Banyuasin memiliki potensi. Adat tersebut merupakan salah satu kekayaan kebudayaan Budaya Bumi Sedulang Setudung yang bisa dijadikan objek wisata dan memperkenalkan kebudayaan daerah yang sangat menarik.

Monumen Front Langkan

Front bersejarah yang terletak di Jalan palembang – betung KM 35. Banyuasin III. Monumen yang dibuat karena pristiwa pertempuran lima hari lima malam dikota palembang tanggal 1 Januari s/d 5 Januari 1947, merupakan salah satu ikon Kabupaten Banyuasin karena bangunan bersejarah ini memiliki daya tarik pengunjung, terkadang banyak para pengunjung yang berkunjung ketempat bersejarah ini untuk melihat monumen dan berfoto disini, Dengan adanya kegiatan pariwisata jangka pendek, misalnya pada akhir pekan atau dalam masa liburan sehingga orang dapat mengadakan perjalanan sekedar untuk melihat bangunan bersejarah, suasana pedesaan atau kehidupan  dan dengan di potensi tempat bersejarah ini diharapkan para wisatawan bisa berkunjung untuk mengetahui dan menambah wawasan tentang tempat bersejarah daerah Kabupaten Banyuasin.

Sembawa, Lokasi Penas KTNA XII

Lokasi Penas KTNA XII Desa Sembawa Kecamatan Banyuasin III, yang dicanangkan Presiden SBY sebagai kawasan percontohan pengembangan agrobisnis atau dikenal dengan agrocenter penelitian tanaman Holtikultura dan mempunyai banyak sarana bangunan yang dibangun pemerintah Propinsi Sumatera Selatan di Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, baik itu berupa jalan, gedung, taman dan rumah adat. Tetapi karena kurang pemanfaatan, perawatan dan perhatian dari Pemerintah setempat sekarang kondisinya terlantar dan disalah gunakan pemanfaatannya oleh remaja. Mulai dari dijadikannya sebagai tempat berpacaran yang dinilai sudah melebihi batas diluar kewajaran sampai yang paling menonjol sekarang sarana jalan dijadikan arena balapan liar. Kondisi lokasi yang menghabiskan anggaran mencapai Rp 3 miliar ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai ikon daerah dan dijadikan objek wisata Kabupaten Banyuasin jika dirawat dan dikelola dengan baik.

Pulau Ekor Tikus

PEMERINTAH Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan akan mengembangkan Pulau Ekor Tikus atau Pulau Alangan Tikus yang berada dalam wilayah Desa Sungsang 2, Kecamatan Banyuasin II, sebagai lokasi wisata yang potensial.

Suasana alam yang menawan mengisyaratan lokasi ini mirip kawasan wisata di Raja Empat ataupun wisata sungai di Mekong Vietnam. Letaknya juga mudah dikunjungi dengan melalui akses Jalan sungai dan laut yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Siapi-api (TAA) hanya berkisar waktu 20 menit sudah dapat sampai.

Taman Nasional Sembilang

Secara administratif pemerintahan, TN Sembilang termasuk wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Aksesibilitas menuju Kawasan TN Sembilang dilakukan dengan menggunakan kendaraan air. Hal ini dikarenakan karakteristik dan lokasi kawasan yang merupakan perairan. Jalur yang umum digunakan untuk mencapai kawasan TN Sembilang adalah dengan menggunakan kendaraan air speedboat dari Palembang.

Peserta Kompetisi Foto Ekspedisi Burung Migran oleh Tribun Sumsel-Sriwijaya Post  membidik foto burung migran di Taman Nasional Sembilang, Sabtu (10/11/2018).
Peserta Kompetisi Foto Ekspedisi Burung Migran oleh Tribun Sumsel-Sriwijaya Post membidik foto burung migran di Taman Nasional Sembilang, Sabtu (10/11/2018). (Tribun Sumsel/ Agung Dwipayana)

Biasanya, masyarakat Palembang menempuh perjalanan sungai dari dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) selama 4 jam. Atau bisa juga menggunakan kendaraan darat dari Palembang ke Simpang PU atau Parit 5 yang terletak di Jalan Raya Tanjung Api Api sekitar 1 jam. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan speedboat sekitar 2 jam.

Terdapat beberapa tipe habitat, yakni hutan manrgrove, rawa dan dataran lumpur. Dan hutan mangrove di TN Sembilang merupakan yang terluas di Indonesia bagian barat dengan luas 87.000 hektar.

Potensi Satwa

a. Terdapat tidak kurang dari 53 spesies mamalia, di antaranya Berang-Berang (Lutra lutra) Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kucing Bakau (Felis bengalensis), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), Musang Air (Cynogale Bemetti), Babi (Sus Srofta).

b. Setidaknya terdapat lima primata termasuk Ungko (Hylobates agilis), Kera Ekor Panjang (Масаса Fascicularis), Beruk (M. nemestrina) dan Lutung Kelabu (Presbytis cristata).

Sejumlah burung-burung yang ada di Taman Nasional Sembilang, Sumsel
Sejumlah burung-burung yang ada di Taman Nasional Sembilang, Sumsel (Tribun Sumsel/ Agung Dwipayana)

c. Terdapat 213 jenis burung, 112 jenis ditemukan di daerah mangrove dan 44 jenis di antaranya menggunakan mangrove sebagai habitat utama. Hasil kajian 2016-2018, terdapat 28 spesies burung air migran.

Sekitar 80.000 ekor burung dapat dijumpai setiap harinya di Delta Banyuasin, di antaranya Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea), Bangau Tongtong (Leptoptilos Javanicus), Cucuk Besi (Threskiornis Melanocephalus), Bangau Storm (Ciconia Stormy), Cangak Sumatera (Ardea Sumatrana), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Rangkong Helm (Rhinoplax Virgil), Rangkong Hitam (Antrhacoceros Malayanus), Gajahan Timur (Numenius Madagascariensis), Dara Laut (Sternidae), Cerek (Charadrius), Biru Laut (Limosa) dan Kedidi (Calidris),

d. Reptil tercatat ditemukan Buaya Muara (Crocodylus Porosus), Buaya Sinyulong (Tomistoma Schlegelii), Ular Cincin Mas (Boiga Dendrophila) dan Ular Sawah (Phyton).

Cerita Rakyat Banyuasin | Asal Mula Rumah Lama Rantau Bayur

Zaman dahulu ada sebuah keluarga yang hidupnya susah. Keluarga ini mempunyai 7 anak laki-laki. 6 dari 7 anaknya ini merupakan anak yang rajin. Semua orang di desanya senang melihat mereka. Tapi, anaknya yang paling bungsu merupakan anak yang nakal, jelek, dan pemalas. Semua warga tidak menyenangi anak yang paling bungsu. Oleh saudaranya, si bungsu dijuluki Lanang Penyungkan.

Suatu hari, seperti biasa bapak dan ibunya pergi ke sawah. 6 anak laki-lakinya ikut semua. Tapi, anak yang paling bungsu tidak pernah ikut setiap kali diajak. Ketika bapaknya mengajak si bungsu pergi si bapak dimarahi olehnya.

Kemudian pergilah orang tuanya beserta saudara-saudaranya ke sawah. Di sawah, saudara-saudaranya teringat kata-kata si bungsu. Kemudian saudara-saudaranya merencanakan sesuatu untuk mencelakakan si bungsu. Mereka ingin menghanyutkan si bungsu ke aliran sungai Musi. Pulanglah mereka kerumah. Di rumah, mereka tambah tidak senang melihat si bungsu karena si bungsu seolah menari-nari di atas penderitaan keluarganya. Si bungsu sedang tertidur lelap sedangkan orang tuanya banting tulang di sawah. Dengan segera, saudaranya membuat sebuah rakit. Tidak lama berselang terbuatlah sebuah rakit. Dihanyutkanlah si bungsu ke aliran sungai Musi. Si bungsu tidak sadar kalau dia telah hanyut. Dengan perasaan sedih bercampur kesal saudara-saudara bertembang,

Bebuah kau kesek
Dak bebuah labu parang

Aman masih betuah, masih balek
Aman dak betuah ilang di jalan

Saudara-saudaranya terus bertembang sampai si bungsu tidak terlihat lagi. Sampai sore hari, rakit si bungsu itu tersangkut di sebuah batang kayu besar bernama Kayu Bayur. Si bungsu terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat ia tidak berada lagi di rumahnya. Dengan cepat ia naik ke atas batang bayur. Ia duduk termenung dan bertembang.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Tidak ada orang yang peduli dengan keadannya. Bertambah sedih hati si bungsu. Bertembang lagi dia.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Sadarlah si bungsu bahwa yang dilakukan selama ini salah.Akhirnya ia naik ke tebing. Di atas si bungsu berusaha keras banting tulang. Berkat kerja kerasnya ia dapat membangun sebuah rumah. Rumahnya besar. Di dalam rumah ini banyak terdapat barang berharga. Percaya atau tidak barang siapa mencuri barang tersebut niscaya ia akan gila sampai ia mengembalikan barang tersebut. Sampai sekarang rumah tersebut dinamakan Rumah Lame oleh penduduk sekitar. Rumah Lame masih dijaga dan di lestarikan sebagai peninggalan legenda.


Diceritakan oleh Dyan Rachmatullah
Cerita ini bersumber dari Desa Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin

Cerita Rakyat Banyuasin | Asal-Asul Pangkalan Panji

Dahulu kala di sebuah hutan belantara, tinggallah seorang pemuda yang sangat tampan dan baik hati. Pemuda itu tinggal bersama kakeknya di dalam rumah yang sangat sederhana yang beratap daun rumbia, dan berdinding papan. Kedua orang tuannya telah tiada. Kakeknyalah yang merawatnya sejak kecil. Pemuda itu bernama Panji.

Sang kakek memiliki ilmu bela diri dan juga memiliki kesaktian. Di bawah asuhan sang kakek, Panji diajarkan ilmu bela diri. Ia juga diajarkan hidup disiplin dan tidak sombong sebagai manusia. Bahkan, semua kesaktian yang dimiliki sang kakek pun diturunkannya kepada Panji karena sang kakek yakin Panji tidak akan menyalahgunakan ilmu yang telah diberikannya. Seiring bertambahnya waktu, Panji semakin mantap dengan ilmu yang diberikan sang kakek dan ia telah menguasai semua ilmu yang diajarkan sang kakek.

Seiring bertambahnya waktu, Kakek pun semakin bertambah umurnya. Tubuhnya semakin renta dan pandangannya pun sudah kabur dan sakit-sakitan.Hari itu sang kakek memanggil Panji.

“Panji cucuku, kemarilah!”
“Iya ,Kek. Aku di sini.” Panji mendekat dan memegang tubuh kakek.
“Panji cucuku, kakek sudah tua dan tidak ada lagi yang bisa kakek berikan kepadamu, mungkin umur kakek tinggal sebentar lagi.”
“Kakek!” ucap Panji dengan lirih.
“Kakek minta semua yang telah kakek berikan dapat kau gunakan dengan sebaiknya, jangan disalahgunakan.”
“Kek!” ucap Panji mencoba menahan emosi
“Setelah kakek tiada, pergilah ke kota, carilah pekerjaan dan hiduplah dengan uang hasil jerih payahmu. Akan tetapi, ingatlah, di kota banyak orang-orang jahat. Jagalah dirimu, jangan sampai engkau ikut-ikutan seperti mereka, tegakkanlah keadilan di sana!”
“Iya Kek, saya berjanji.” Jawab Panji mencoba meyakinkan kakeknya walaupun hatinya sangat sedih.

Tidak lama setelah kejadian itu, sang kakek meninggalkan Panji untuk selama-lamanya. Panji tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya. Ia merasa sendiri. Setelah memakamkan kakeknya, ia pun melaksanakan pesan terakhir kakeknya.Ia tinggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke kota.

Setelah lama berjalan, sampailah ia di kota. Ia pun bekerja dan tinggal di sana. Ia pun membuktikan sendiri ternyata apa yang disampaikan sang kakek memang benar. Perampok sangat sering terjadi. Saat melihat perampok beraksi, Panji langsung memberantasnya. Karena keberaniannya, Panji menjadi terkenal sebagai pemuda misterius yang berani melawan kejahatan.

Keberanian Panji melawan kejahatan sampailah ke telinga sang sang raja. Raja pun menyuruh pengawalnya untuk mencari Panji.

“Hulubalangku, kemarilah!”
“Duli Tuanku” jawab hulubalang.
“Segeralah kau Pergi mencari pemuda yang bernama Panji. Kudengar ia memiliki kesaktian yang tinggi dan bawalah ia menghadapku.”
“Baik Tuanku, hamba berangkat.”
Berangkatlah hulubalang raja untuk mencari pemuda bernama Panji. Setelah lama berjalan, akhirnya hulubalang raja berhasil menemukan Panji dan membawanya ke hadapan raja.
“Duli Tuanku, hamba Panji datang menghadap”
“Benar kau pemuda yang telah berani melawan setiap terjadi perampokan?” Tanya sang raja.
“Benar Tuanku,” Jawab Panji
“Aku telah mendengar keberanianmu dan kesaktianmu. Untuk itu, sekarang engkau kuangkat menjadi panglima perang kerajaan.”
“Hamba dengan senang hati menerima tugas yang Tuan berikan pada hamba.”
“Aku juga akan memberikan puteriku yang cantik ini sebagai istrimu”.
“Terima kasih, Tuan,” jawab Panji terbata-bata karena tidak menyangka raja memberinya sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang tidak pernah terbesit dalam hatinya.

Panji pun diangkat sebagai panglima perang dan dinikahkan dengan putri raja.
Di bawah pimpinan Panji, negeri itu menjadi makmur dan terkenal akan kekuatannya. Perampok dan pemberontak ditumpas habis, sehingga negeri itu menjadi sejahtera. Setiap ada peperangan, Panji selalu berada di barisan terdepan.

Karena jasa besar Panji, raja akhirnya mengubah nama negeri mereka menjadi Pangkalan Panji. Nama pangkalan di ambil dari pelabuhan dagang kerajaan yang merupakan pangkalan kerajaan yang telah menjadikan negeri itu sejahtera. Panji dan istrinya hidup bahagia.

Kesamaan Batik dan Tato

TATO dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Inggris TATTOO, sedangkan istilah tersebut berasal dari bahasa Polinesia (yang berada di Samudra Pasifik), yaitu TATAU. Polinesia adalah negeri kepulauan di sebelah timur Papua; penduduknya pun masih keturunan bangsa Austronesia. Bahasa Polinesia juga masih bersaudara dengan bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Tagalog, dll.

Kapten James Cook diyakini sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah “tatau” ke Eropa. Ia pertama kali melihat “seni melukis pada tubuh” di Tahiti, Polinesia. Makna harfiah “tatau” adalah “to strike”. Kata kerja “to strike” bisa bermakna “menyerang” atau “mencoret”. Dalam bahasa Jawa, ada yang mirip dengan “tatau”, yaitu “tatu”. Secara harfiah, kata “tatu” dalam bahasa Jawa bermakna “luka” atau “goresan”.

Apakah ada hubungan antara kata “tatau” (Polinesia), yang bermakna mencoret, dengan kata “tatu” (Jawa), yang bermakna goresan? Saya hanya berhenti pada tahap hipotesis saja. Biarlah para pakar linguistik yang meneliti soal ini.

Jadi, kata TATAU sebenarnya berhubungan dengan “proses mencoret tubuh”, sedangkan hasil coretannya dalam bahasa Proto-Melayu-Polinesia disebut BETIK atau BATIK. Misalnya, coretan tubuh pada bahasa Tagalog, Filipina, (keturunan bahasa Melayu-Polinesia juga) disebut BATOK, sedangkan ahli pembuatnya disebut MAMBABATOK.

Hipotesisnya:

– “Batik” yang makna aslinya “gambar atau coretan pada tubuh” kemudian dialihkan menjadi “gambar pada kain”.
– Bahasa Tagalog masih menggunakan kata “batok” untuk menyebut “gambar pada tubuh”, sedangkan ahlinya disebut “mambabatok”.
– “Tatau” yang makna aslinya “proses membuat gambar pada tubuh” diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “tattoing”, sedangkan hasil karyanya disebut “tattoo”.
– “Tatau” mirip dengan bahasa Jawa “tatu”, yang bermakna “luka” atau “goresan”. Mungkin masih ada hubungannya.

Sekali lagi, itu semua hanya hipotesis. Masih perlu diselidiki kebenarannya.

Penulis: Purwanto Heri.

Kbal Sapean, River of Thousand Linggas

Kbal Spean

Di ulu sungai ada ukiran Brahma sebagai sang pencipta, dan pas air terjun diukir dengan Wisnu dengan kisah avatar dan dilanjutkan dengan ukiran beribu-ribu lingga setelah air terjun pertama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan dan tempat ruwatan yang sangat sakral sampai sekarang.

Kbal Spean begitulah daerah ini dikenal. Ini adalah salah satu sungai di Angkor yang airnya sangatlah jernih. Dasar dari sungai ini telah diukir dengan beribu ribu lingga dan kedua sisinya juga diukir dengan berbagai ukiran dari jaman keemasan raja raja Khmer pada waktu itu yaitu raja Suryawarman I dan raja Udayadityawarman II sekitar abad 11-12 Masehi. Daerah ini sekarang dikenal denga ‘River of Thousand Linggas’.

Pengalaman Pertama Makan di Imperial Kitchen & Dimsum

Selesai bincang buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” pada Minggu (8/9), aku pun berhenti sejenak di Depok Town Square. Waktu telah menunjukkan pukul setengah lima lewat. Aku memutuskan early dinner karena nanti kalau sampai rumah, anak-anak tinggal lanjut tidur. Setelah berpikir sejenak, aku pun melangkahkan kaki ke Imperial Kitchen & Dimsum di Depk Town Square. Jujur, ini adalah pengalaman pertama makan di Imperial Kitchen & Dimsum.

Karena namanya “Imperial Kitchen & Dimsum”, jadilah wajib hukumnya makan dimsum. Aku sekeluarga belum pernah makan dimsum di restoran. Biasanya yang kubeli hanyalah dimsum murah yang dijual di gerobak. Harganya murah. Sepuluh ribu dapat tiga. Pernah juga makan dimsum di pesta nikahan. Rasanya hampir sama dengan dimsum yang di gerobak. Makanya, aku penasaran juga, bagaimana sih rasanya “dimsum beneran” yang dijual di restoran dengan spesialisasi dimsum seperti Imperial Kitchen & Dimsum?

Imperial Kitchen & Dimsum

Inilah dimsum yang kami pesan. Dimsum yang artistik, bukan? Dibentuk seperti burung bangau. Isinya sayuran dan udang. Teksturnya lembut dan rasanya memang terasa segar. Sayang, porsinya terlalu sedikit buat saya. Hehe.

Imperial Kitchen & Dimsum bukan cuma soal Dimsum

Kenapa pilihan makan early dinner jatuh ke Imperial Kitchen & Dimsum? Sebabnya sederhana. Anakku yang masih balita suka susah makan di luar. Aku pun mencari restoran yang menjual bubur. Biasanya ada Ta-Wan. Namun, di Depok Town Square tidak ada Ta-Wan, makanya kami mencoba ke Imperial Kirchen & Dimsum. Biasanya di restoran bernuansa oriental selalu menjual bubur.

Imperial Kitchen & Dimsum

Varian buburnya bisa sampai tiga rasa. Kami pilih yang satu rasa saja. Bubur ayam. Ada rasa lain seperti udang juga. Namun, karena kami nggak mau macam-macam dulu, biarlah dipilih rasa yang paling familiar yakni bubur ayam.

Kayaknya ada ciri khas cita rasa dari Imperial Kitchen & Dimsum yakni fresh. Bubur ayamnya juga terasa segar sehingga anakku makan tanpa penolakan sama sekali. Sesekali aku juga ikut mencicip. Hanya sayangnya, cakuenya terlalu garing. Mungkin hanya soal selera, tapi aku lebih suka cakue yang lembut,

Imperial Kitchen & Dimsum

Nasi goreng Yangchow  juga enak sekali. Di atasnya ada daging ikan yang lembut. Teksturnya mirip dengan ikan dori. Namun tidak tahu apa nama ikannya. Yang seperti burung itu adalah telur yang digoreng kering. Nasi goreng ini juga cocok buat lidahku. Anakku yang pertama bahkan ikut rebutan makan nasi goreng Yangchow ini. Enak katanya.

Imperial Kitchen & Dimsum

Menu lain yang kupesan adalah ayam goreng saung jeruk. Yang unik, bentuknya bulat-bulat kayak chicken ball. Saus jeruknya terasa asam manis. Suapan pertama membuatku mendapatkan pengalaman rasa yang baru. Jujur, aku menyukainya. Anakku juga suka. Namun, setelah makan yang ke-3, anakku bilang, rasanya terlalu manis sehingga kalau kebanyakan jadi berasa kurang enak.

Aku menyetujuinya. Hal itu kemudian kusiasati dengan menambahkan sambal sehingga campuran antara rasa asam, manis, dan pedas menjadi satu kesatuan. Aku suka sekali.

Minumnya aku memesan teh krisan panas. Disajikan dalam teko kecil. Satu teko untuk kami saja masih bersisa.

Sungguh tidak menyesal bisa mendapatkan pengalaman makan di Imperial Kitchen & Dimsum. Total yang kuhabiskan untuk makan malam dini ini tidak sampai 150 ribu. Kami makan berempat. Puas rasanya.

Asal-usul Pangkalan Balai | Cerita Rakyat Banyuasin

asal-usul pangkalan balai

Pangkalan Balai, ibukota Kabupaten Banyuasin yang dimekarkan sejak 2002. memiliki cerita asal-usul yang menarik. Cerita ini menjadi semacam mitos atau pun cerita rakyat di Banyuasin, Sumatra Selatan.

Dulu, ada perkampungan yang diberi nama ‘Talang Gelumbang’. Di kampung tersebut, awalnya hanya dihuni tujuh buah rumah oleh beberapa keluarga yang dipimpin oleh tiga tokoh masyarakat. Ketiga tokoh masyarakat tersebut yaitu Puyang Beremban Besi (seorang pahlawan). Ia adalah penduduk asli yang mempunyai kekuatan kebaal terhadap berbagai senjata tajam, Kedua Bujang Merawan selaku pimpinan Pemerintahan, dan ketiga adalah Cahaya Bintang selaku pimpinan adat.

Di antara ketiga tokoh tersebut, ada yang berasal dari Cirebon. Ia adalah anak Mangkubumi dari kesultanan Cirebon. Dikarenakan kebijaksanaan dan wibawa mereka, desa kecil itu terus berkembang, Satu per satu rumah bertambah. Banyak daya tarik dari desa ini. Akhirnya desa ini menjadi perkampungan yang ramai.

Mata pencaharian penduduk desa ini adalah bercocok tanam dan sebagai nelayan. Kehidupan masyarakat desa ini selalu dalam suasana aman dan damai. Sekitar tahun 1600, datanglah seorang yang tak dikenal dengan kapal layar bernama ‘Tuan Bangsali’. Beliau adalah seorang ulama yang menyebarkan agama Islam sehingga penduduk baik laki-laki maupun perempuan belajar agama islam. Tuan Bangsali memilih Thalib Wali sebagai orang kepercayaannya atau orang yang pandai ilmu agama.

Setelah kedatangan Tuan Bangsali desa ini mengalami perkembangan yang pesat. Karena kampung ini kecil dan kurang memadai, pemimpin desa ini memperluas kampung dan memindahkan penduduknya ke seberang yang diberi nama Napal. Di desa Napal ini mereka membangun perkampungan baru dan banyak rumah kokoh berdiri. Penduduk pun membangun sebuah Balai Desa yang cukup besar dan sebuah pangkalan tempat berlabuhnya perahu dagang dan perahu nelayan Pangkalan ini diberi nama Pangkalan Napal atau Pangkalan Bangsali.

Puyang Beremban Besi Wafat

Beberapa tahun kemudian Puyang Beremban Besi wafat dan berwasiat agar dimakamkan di hilir dusun (kira-kira dua kilometer dari Boom Berlian). Ternyata di tempat makam beliau ditumbuhi nipah kuning. Setelah wafatnya Puyang Beremban Besi, Bujang Merawan dan Cahaya Bintang pun mengundurkan diri karena sudah tua dan sering sakit-sakitan.

Akhirnya kepemimpinan beralih ke tangan Thalib Wali. Thalib Wali menunjuk dua orang yaitu Puyang Rantau Pendodo sebagai kepala pemerintahan dan Muning Cana sebagai orang yang gagah berani. Thalib Wali ini bernama Munai maka orang-orang desa ini memanggil beliau dengan sebutan ‘Muning Munai’. Perkembangan desa dan keadaan pemerintahan yang kurang memadai, maka Thalib Wali mengambil kebijaksanaan bersama musyawarah rakyat setempat untuk memilih wakil-wakilnya. Mereka yang terpilih adalah Ngunang sebagai Rio (Kerio) Desa untuk pertama kalinya. Kemudian Thalib Wali ditetapkan menjadi khotib yang mengemban tugas agama sebagai pencatat nikah, tolak, dan rujuk, mengurus kelahiran dan kematian serta mengurus persedekahan rakyat.

Beberapa tahun kemudian Tuan Bangsali menilai ada beberapa orang yang pandai ilmu agama Islam. Mereka adalah Thalib Wali dan Dul. Dul berasal dari Talang Majapani (Lubuk Rengas) dan kedua orang ini diajak pergi haji ke tanah suci Mekkah dengan menggunakan perahu layar. Setahun kemudian mereka yang pergi haji tersebut kembali ke desa ini. Thalib Ali menanam dua jenis pohon yaitu Serumpun Pohon Paojenggih dan Serumpun Pohon Beringin Nyusang. Dengan ketentuan harus ditanam di dusun, pohon Poejenggih ditanam di sebelah kiri dan Pohon Beringin Nyusang ditanam di sebelah kanan. Sedangkan Dul membawa serumpun Maje. Dari tahun ke tahun dusun ini terus mengalami kemajuan dan masih tetap bernama ‘Talang Gelumbang’ dan pangkalannya masih tetap bernama Pangkalan Bangsali.

Setelah 40 tahun, wafatlah Kerio Ngunang, kerena perkembangan dusun sangat pesat maka dipilih seorang pasira (Depati) oleh Susuhunan Raja-raja Palembang, yang kedudukan di dusun Limau.

Menurut ceritanya, Dusun Limau ini dibuat oleh anak dalam Muara Bengkulu. Rio Bayyung seorang anak dari Mangku Bumi Kesultanan Majapahit. Pada waktu Majapahit jatuh, kelima anak dari Mangku Bumi melarikan diri ke Sumatera yaitu yang tertua ke daerah Sung Sang bernama Ratu Senuhun, yang kedua di daerah Limau bernama Rio Bayung, yang ketiga di daerah Betung bernama Rima Demam, dan dua orang wanita di daerh Abad Penungkal (Air Hitam).

Ratu Senuhun pada waktu berlayar perahunya tersangsang (tersangkut) dan tidak bisa turun lagi. Maka daerah tersebut dinamakan Sung Sang, tetapi sebenarnya adalah Sang-Sang. Sedangkan Depati Bang Seman, anaknya yang menjabat sebagai depati, namun istrinya meninggal. Maka Depati Buta, karena matanya buta sebelah, tetapi kewibawaannya tinggi dan pergaulannya sangatlah luas, orang-orang hormat padanya. Setelah tujuh tahun beliau memegang tampuk pemerintahan, kemudian beliau sakit dan wafat.

Seorang Khotib di Tiap Rio

Setiap dusun yang ada Rio (kepala desa) harus mempunyai seorang khotib, yang bertugas mencatat nikah, tolak, rujuk, kematian, kelahiran, dan persedekahan rakyat. Perhubungan laut di Dusun Limau sulit untuk dijangkau maka diambil suatu kebijaksanaan bahwa pemerintahan Stap Pasirah dipindahkan ke Dusun Galang Tinggi. Dusun Galang Tinggi konon ceritanya dibuat oleh Si Pahit Lidah. Setelah di dusun Galang Tinggi diadakan musyawarah dan hasil musyawarah itu terpilihlah Depati Jebah sebagai depati pertama di dusun Galang Tinggi. Lima tahun kemudian Jebah wafat dan digantikan oleh depati Renyab.

Di suatu desa yang bernama dusun Galang Tinggi, ada seseorang yang sangat sakti mandraguna karena apa yang diucapkannya akan menjadi nyata. Si Pahit Lidah namanya. Jika berucap menjadi batu maka gajah itu pun akan berubah menjadi batu dan banyak lagi kejadian yang lain.

Oleh karena itu, dia dijuluki si Pahit Lidah dan bukti-bukti peristiwa itu masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Di dusun Galing Tinggi ini kemudian ada pertarungan untuk memilih depati harus dengan keputusan musyawarah bersama, hingga terpilihlah Mentadi. Mentadi adalah saudara kandung ibu Depati Berdin yang bungsu Thalib Wali bernama Mentadi dipilih menjadi depati.

Mentadi

Setelah lebih kurang empat tahun Mentadi menjadi depati di Tanjung Menang, terjadi kemarau panjang selama sembilan bulan. Pada waktu itu kayu bergesekan maka keluarlah api. Pada saat itu pula Mentadi sedang membuat sebuah ladang ketika ia membakar ladangnya untuk dibersihkan ternyata api itu pun menyebar luas lalu membakar hutan-hutan dan kampung-kampung kecil sekitarnya. Ada dua rumah yang di dalamnya ada orang tua yang sedang sakit dan anak berumur dua tahun ikut terbakar dan meninggal dunia.

Karena peristiwa itu maka Depati Mentadi dijatuhi hukuman oleh hakim pada waktu itu. Dia dihukum selama tiga tahun penjara dan diberhentikan sebagai depati. Penjara (obak) itu dinamakan Macan Lindung. Akan tetapi Mentadi mempunyai sahabat karib yang bernama Marem Bubok dan Jamaer yang nama aslinya Tamsi.

Kedua sahabat Mentadi mengharap pengadilan akan menemani Mentadi selama dalam penjara. Pengadilan pun memperbolehkan. Akhirnya hukuman Mentadi diputuskan hanya satu tahun berkat bantuan sahabatnya itu. Setelaah Mentadi berhenti dari jabatannya sebagai depati, dari hasil musyawarah terpilihlah Betiah sebagai depati dan beliau digelari sebagai Depati Bungkuk. Sayangnya beliau ini buta huruf dan hanya bisa menjabat depati selama tiga tahun.

Semasa pemerintahan Depati Bungkuk, Palembang telah jatuh kepada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Depati Bungkuk berhenti. Hasil musyawarah terpilih kembali Mentadi sebagai Depati untuk jabatan selama dua puluh tahun. Pada masa kepemimpinan Depati Mentadi, pejabat-pejabat pemerintah Hindia Belanda datang ke dusun Tanjung Menang dan menanyakan mengapa nama dusun ini Tanjung Menang dan nama Pangkalannya adalah Pangkalan Bangsali. Depati Mentadi menerangkan bahwa dinamakan Tanjung Menang karena dusun ini telah berhasil memenangkan peperangan melawan Lanun (bajak laut) sedangkan Pangkalan Bangsali karena dibuat oleh Tuan Bangsali sendiri.

Setelah Pemerintah Hindia Belanda mendengar alasan yang dikemukan oleh Depati Mentadi, maka mereka mengadakan musyawarah untuk mengubah nama dusun Tanjung Menang menjadi Pangkalan Bali. Oleh karena dusun Tanjung Menang mempunyai Balai, maka namanya pun diubah menjadi Pangkalan Balai. Pangkalan Balai adalah pelabuhan Balai tempat pertemuan. Pangkalan Balai mempunyai arti tempat berlabuh yang digunakan untuk pertemuan-pertemuan. Itulah asal usul nama kota Pangkalan Balai.

Belajar “Kawin Culik” dari Dusun Sade, Lombok

“Proses pernikahan di sini, Pak, tidak ada yang namanya lamaran sebelumnya. Kita memiliki tradisi kawin culik.

Kutajamkan pendengaranku lagi. Mungkin aku salah dengar. Tapi sang pemandu mengulanginya lagi. Kawin culik. Ya, kawin culik.

Kalau liburan ke Lombok, jangan lupa datanglah ke Dusun Sade. Dusun Sade yang terletak di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah (tidak jauh dari Bandara Praya) ini memiliki tradisi yang unik. Salah satunya, sang calon suami harus menculik calon istrinya. Sang perempuan kemudian diinapkan di kediaman keluarga atau kerabatnya di luar desa.

Bila berhasil sampai matahari terbit lagi tanpa ditemukan oleh keluarga sang perempuan, maka kedua pasangan ini harus dinikahkan. Sebelumnya, pihak pria akan meminta keluarga atau kepala dusun untuk memberikan informasi ke keluarga wanita, bahwa anaknya sudah diculik.

Lalu, kedua pihak keluarga akan menjalani adat ‘Selabar’, ‘Mesejati’, dan ‘Mbait Wali’, yaitu proses meminta izin pernikahan dari pihak pria ke wanita.

Proses penculikannya pun lebih unik lagi. Penculikan ini direncanakan oleh kedua belah pasangan. Mereka sebelumnya sudah berpacaran. Penculikan akan dibantu oleh beberapa kerabat dari pihak laki-laki dan tidak boleh ketahuan oleh keluarga perempuan. Jika ketahuan, penculikan pun batal.

Pohon Cinta. Dokumentasi pribadi.
Pohon Cinta. Dokumentasi pribadi.

Tidak ada rekayasa sedikit pun dari pihak keluarga perempuan. Penjagaan di rumah pihak perempuan pun sekarang sangat ketat. Menurut pemandu, sudah tidak mungkin lagi sekarang menculik anak gadis dari dalam kediamannya.

Karena itu, biasanya mereka janjian di sebuah pohon di tengah desa. Sebatang pohon nangka tanpa daun berdiri di sana. Pohon ini kini disebut sebagai Pohon Cinta, karena menjadi tempat pertemuan sebelum kawin culik dilaksanakan.

Karena sifat dasarku yang kepo, aku bertanya lagi, “Pernah tidak, ada kawin culik yang tidak dilandasi suka sama suka?”

Ternyata pernah. Meski sulit, hal itu pernah terjadi. Pihak keluarga akan menikahkan jika kedua pasangan masih dalam satu kakek. Jika di luar itu, akan ribet.

okumentasi pribadi
Dusun Sade adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya) dusun yang masih menjaga adat Sasak dengan teguh. Sasak adalah suku asli di Lombok yang berarti rumpun bambu. Karena itulah, rumah-rumah di Sade semuanya terbuat dari bambu.

Bangunan rumah di Sade sangat tradisional. Dindingnya bambu beratapkan alang–alang, dan beralaskan tanah liat. Lantainya itu sama sekali tidak memakai semen.

Percaya atau tidak, perekat pengganti semen itu adalah tahi kerbau, yang dioles (seperti dipel) seminggu sekali. Bangunan ini disebut dengan bale dan dikategorikan menjadi delapan bagian yaitu Bale Jajar Sekenam, Bonter, Bale Tani, Beleq, Tajuk, Bencingah dan Berugag.

Pintu rumah adat itu dibuat rendah agar setiap tamu yang datang menghormati pemilik rumah, ruangan depan atau bale luar adalah untuk menerima tamu dan sebagai tempat tidur laki-laki sedangkan bale dalam diperuntukkan tempat tidur wanita dan sebagai tempat melahirkan. Untuk mencapai bale dalam, kita harus menaiki 3 anak tangga yang mencerminkan kehidupan, yaitu, dilahirkan, berkembang, dan meninggal.

Bale tani, tempat menyimpan beras. Dokumentasi pribadi.
Bale tani, tempat menyimpan beras. Dokumentasi pribadi.

Kurang-lebih sudah 200 tahun dusun ini menjaga tradisi mereka. Satu dusun ini masih satu kerabat (leluhur). Mata pencaharian utama mereka bertani. Namun, Lombok Tengah terbilang sulit air, sehingga masa tani mereka hanya sebanyak 4 bulan dalam satu tahun mengikuti musim hujan dari Januari-April.

Pihak perempuan di Dusun Sade terkenal dengan keahliannya membuat kain tenun. Kurekomendasikan banget buat membeli kain tenun dari Sade karena bukan hanya kain, kain tenun ini menurutku adalah barang seni sekaligus barang budaya, bahkan sejarah. Pembuatannya masih serba manual, bahkan dari pembuatan benangnya dibuat dari kapas langsung.

Begitu pun proses menenunnya dan pewarnaannya masih dari pewarna alami. Harganya memang relatif lebih mahal dari “kain Lombok” di pasaran. Namun, buatku, itu terasa murah karena nilai yang ada di baliknya.

Kain tenun dan berbagai motifnya ini punya peran penting dalam perkawinan di Lombok. Jadi, kain tenun ini akan menjadi semacam mas kawin yang harus diberikan. Jumlahnya ada 25 motif. Namanya ajikrame.

Kira-kira saya beli yang mana? Dokumentasi pribadi.
Kira-kira saya beli yang mana? Dokumentasi pribadi.

Beda halnya jika perkawinan terjadi antara desa yang berbeda. Laki-laki Sade diperbolehkan mencari pengantin dari luar Sade, namun di Lombok ada adat tagih-menagih bila perkawinan beda keluarga terjadi. Seperti halnya potong kerbau.

Laki-laki Sade juga diperbolehkan merantau, sedangkan perempuan tidak. Rata-rata tingkat pendidikan perempuan Sade pun hanya sebatas SMP. Mereka sudah diajari menenun sejak usia 8-9 tahun. Rata-rata usia pernikahannya pun sangat muda yakni 15 tahun bagi perempuan dan 17 tahun bagi laki-laki.

Kalau feminis pasti gatal buat mengkritik. Tapi kita harus menghormati bagaimana teguhnya pendirian orang-orang Sade menjaga adat mereka.

Buat yang hendak ke Sade, biaya masuknya hanya Rp 25.000. Kita akan ditemani pemandu yang dibayar seikhlasnya. Ia akan menemani kita keliling Sade dan menjelaskan segala seluk beluknya. Jangan segan bertanya.

Dan biasanya ia akan mengajak kita ke toko keluarganya untuk melihat berbagai jenis kain mulai dari bahan batik, songket, sarung, dan kain tenun. Semuanya alami. Harga kain-kain itu mulai 150 ribu – 700 ribu. Aku sarankan untuk membelinya. Selain bagus dan bernilai, kalau ada rejeki, tak ada salah kita membantu mereka.

Selong Belanak. 15 menitan dari Sade.
Selong Belanak. 15 menitan dari Sade.

Begitulah salah satu catatan perjalananku ke Lombok pada Sabtu kemarin. Lombok tak cuma alamnya yang indah. Kita juga bisa melakukan wisata budaya, mengenali saudara sebangsa kita dari Suku Sasak.

Makan di Bali Niksoma & Soal Wisata Halal

Bali Niksoma

Dalam rangkaian acara Danone Blogger Academy 2019 lalu, aku berkesempatan mencicipi makanan di Bali Niksoma. Bali Niksoma terletak di Jalan 69, Seminyak. Di depannya tersaji pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai.

Kami mengadakan acara inagurasi, penutupan DBA 2019 di tempat tersebut. Aku beruntung bisa diikutsertakan dalam DBA kali ini bersama 10 peserta lain yang keren-keren. Posisiku hanya sebagai alumni DBA sebelumnya yang mencoba membantu mereka mengerjakan outline tugas akhir.

Aku mengernyit sebenarnya saat melihat menu yang diperlihatkan ke kami sejak siang di hotel. Menu ini akan kami makan buat dinner. Early dinner sebenarnya karena maghrib kami sudah harus berangkat ke bandara.

Lihat saja makanan pembukanya. Vegetables Spring Roll dan Caesar Salad. Aku memilih Caesar Salad karena aku belum pernah makan salad. Nggak suka. Tapi karena ini di Bali, sekalian saja aku mencoba pengalaman baru makan salad. Untuk menu utamanya, aku memilih Aglio Olio. Meski sebenarnya aku kepengen sekali makan Mahi-mahi. Sayang di situ tertera “white wine”. Aku takut itu haram.

Menu datang satu per satu. Mulanya appetizer datang. Salad terhidang di meja.

Caesar Salad

Jadi beginilah bentuk Caesar Salad itu. Yang dimaksud dengan Prawn in weet potato coat adalah seekor udang goreng yang dibalut sehelai ubi ungu seakan-akan udang tersebut memakai jaket. Indah kelihatannya, tapi buat orang Indonesia sepertiku, sepertinya ada aroma yang asing. Mungkin kejunya atau apanya. Entahlah.

Aglio Olio

Hidangan utamanya adalah Aglio Olio. Yang tidak kusangka adalah porsinya besar sekali. Wah, ini tidak sesuai dengan teori “Isi Piringku” karena seharusnya karbohidratnya cukup sepertiga porsi saja, ditambah sepertiga protein, dan sepertiganya lagi sayur dan buah. Proteinnya yang kurang. Aku tadinya berharap ada suwiran ayam atau ikan yang lumayan banyak di Aglio Olio ini.

Meski rasanya enak, tetap saja ada aroma yang asing buatku. Hatiku agak tak nyaman karenanya.

Kuliner dan Wisata Halal

Wisata Halal

Baru-baru ini ramai soal Wisata Halal. Banyak yang masih salah kaprah dalam wisata halal ini, baik yang mendukung maupun yang kontra. Padahal Wisata Halal sebenarnya adalah terminologi pariwasata dalam memarketing toleransi.

Misalnya, dalam kasus Bali, yang banyak hotel dan restonya juga menyediakan babi dan wine. Ketika konsep wisata halal diterapkan, maka di hotel dan resto tersebut akan menerapkan SOP yang terpisah soal memasak makanannya. Sebab, kehalal-dan-haraman suatu makanan bukan cuma karena tidak makan babi atau minum wine, melainkan juga dalam prosesnya, alat masaknya tidak tercampur dengan alat yang digunakan untuk memasak babi dan wine.

Boleh jadi ketidaknyamananku keliru. Aroma yang kuhidu saat memakan makanan itu, yang asing itu, kucurigai berasal dari sesuatu “yang berbeda”.

Seorang teman kemudian tahu ketidaknyamananku dan menyuruhku mengonfirmasi. Namun kukatakan padanya, “Kalau kita nggak tahu, kita nggak dosa saat memakan ini semua. Tapi kalau tahu, kan jadi nggak boleh makan….” Wakakaka.