Menguji Tol Baru dari Bakauheni ke Palembang

Hal yang menjadi alasan kenapa aku malas pulang kampung lewat darat adalah keharusan melalui Lintas Timur yang jalannya selalu rusak. Belum lagi ditambah ancaman ketidakamanan dari bajing loncat. Dulu, bila naik bis, kira-kira jam 8-9 berlabuh di Bakauheni, sampai ke Palembang paling cepat pukul 9 pagi. Atau minimal 12 jam perjalanan. Nah, mengatasi itu, Pak Jokowi berinisiatif mengeksekusi jalan tol baru dari Lampung ke Palembang yang baru diresmikan 11 Mei kemarin.

Klaimnya, hanya butuh waktu 6 jam dari Bakauheni ke Palembang. Benarkah demikian?

Pukul 6.15 kira-kira, aku baru keluar dari kapal laut. Berangkat dari Bogor sekitar pukul 9 malam, aku melaju dengan cepat tanpa hambatan berarti. Hanya karena keasikan ngobrol, abai pada rambu, sehingga kebablasan ke Pantai Indah Kapuk. Putar balik, sampai Bakauheni sekitar setengah 1 dini hari. Keadaan sudah begitu ramai sehingga kami harus mengantre. Pukul 3 lewat baru bisa masuk kapal laut. Penyeberangan pun kulalui tanpa gelombang yang berarti. Meski ya, kapal penuh sesak dengan penumpang, sehingga sulit sekali mencari tempat istirahat yang nyaman.

Bakauheni ke Terbanggi Besar

Begitu keluar pelabuhan, aku langsung masuk tol. Sayangnya, gerbang tol tampaknya gagal membaca kartu e-money milikku. Sang petugas datang dan bertanya apa ada kartu lain. Aku menggeleng. Sang petugas lalu memberi karcis tanda pembayaran manual.

Dokumentasi pribadi

Mobil kemudian melaju dengan kencang. Rata-rata kecepatan 100 km/jam. Pemandangan di sisi jalan begitu indah. Matahari yang baru terbit nampak di sisi kanan, memamerkan sinarnya yang kemerahan. Di sisi kiri, bukit hijau memanjakan mata. 

Dokumentasi pribadi

Kurang lebih 1,5 jam kemudian, nampak ada petugas yang mengarahkan kendaraan yang ingin menuju Palembang harus berbelok ke ruas jalan yang lain. Bagian jalan yang menuju Bakauheni diberikan sebagian kepada kendaraan yang menuju Palembang, dengan pembatas sekadarnya. Bahaya sebenarnya bila ada pengemudi yang abai dengan pembatas minim itu.

Tak lama kemudian baru kuketahui alasannya, terdapat penumpukan kendaraan. Entah apa sebabnya. 

Di sini, mulai kuragukan waktu tempuh 6 jam yang digadang-gadang itu.

Kurang lebih setengah jam sampai kuketahui penyebabnya. Ternyata penyebabnya adalah gerbang tol Terbanggi Besar. Gerbang pembayaran belum siap untuk melayani pembayaran. Seperti di gerbang masuk, e-money yang gagal terbaca bukan karena e-money ku yang rusak, melainkan alat mereka yang tidak berfungsi. Begitu juga di gerbang pembayaran, semuanya jadi manual. Petugas satu per satu melayani pembayaran. Dan tampaknya memakan waktu untuk memeberi kembalian.

Bagi yang mau keluar ke Bandar Lampung, bisa keluar di Terbanggi Besar ini. Tarif tol Bakauheni-Terbanggi Besar adalah Rp112.500. Tarif ini mulai berlaku sejak 17 Mei 2019.

Terbanggi Besar ke Palembang

Keluar dari Terbanggi Besar, mobil pun melesat bagai peluru. Selambat-lambatnya ya 100 km/jam. Jalan sudah bagus. Sebagian sudah diaspal. Sebagian besar masih semen beton. 

Ruas tol ini masih digratiskan lho buat arus balik mudik. Sayangnya karena baru, sepanjang perjalanan tidak ada rest area yang layak. Jadi, kusarankan untuk membawa makanan yang cukup saat berangkat. Begitu pula SPBU—tidak ada SPBU. Ada SPBU seperti pertamini di beberapa rest area yang terdapat di sepanjang jalan tol. Jadi lebih baik sebelum masuk Merak, pastikan tangki bahan bakar mobilmu terisi penuh ya.

Bagaimana dengan toilet? Toiletnya masih berupa toilet darurat seperti kalau kita ikut event olahraga. Belum ada toilet permanen. Namun, kualitasnya memadai. Hanya saja, di beberapa rest area, jumlahnya sangat terbatas sehingga memunculkan antrean yang panjang bila ingin ke toilet. Kami pun melewat satu demi satu rest area sampai menemukan rest area yang toiletnya banyak.

Sesampainya di Kayu Agung, kendaraan harus melambat. Kenapa? Karena jalan belum jadi secara sempurna. Sebagian besar ruas jalan masih berupa koral yang dipadatkan. Dan beberapa titik jalan bergelombang, tidak rata, sudah menunjukkan kerusakan. Cukup sulit melaju di atas 40 km/jam di jalan ini. Dari Kayu Agung sampai ke Palembang, waktu tempuh kira-kira 1,5 jam.

Total Waktu Tempuh

Dengan adanya macet di Terbanggi Besar ditambah jalan yang masih belum jadi di Kayu Agung, waktu tempuh yang kami catat masih tak sampai 6 jam. Menakjubkan bukan? Jarak tempuhnya sekitar 370 km. Kalau jalan mulus tanpa kemacetan, malah bisa 4-5 jam sepertinya.

Gila. Dibandingkan lewat Lintas Timur yang jalannya jelek dan tidak aman, efisiensinya luar biasa. Terima kasih banget ke Pemerintah yang berani mengambil keputusan pembangunan jalan tol ini. Palembang Lampung serasa selemparan cung.

Hanya, pesan sih, membangun lebih mudah dari memelihara. Dulu, aku masih ingat juga, awal-awal Lintas Timur dibangun, dari rumah ke Bakauheni ya cuma 8 jam. Tapi begitu rusak, ya rusak terus. Aku harap jalan tol baru ini tetap mulus terus. Bila perlu, truk-truk besar dilarang lewat jalan tol ini biar awet jalannya. 

Terima kasih sekali lagi buat Pak Jokowi. Semoga di tahap kedua jadi Presiden, bikin jalur kereta Sumatranya juga terealisasi. Biar makin asik.

ASAL MULA DESA TANJUNG AGUNG | Cerita Rakyat Banyuasin


ALKISAH pada zaman dahulu kala terdapat sebuah desa yang sangat sepi karena tidak berpenghuni. Semua wilayahnya berupa hutan. Panjang wilayahnya kurang lebih empat kilometer. Desa tersebut berada di perbatasan Pangkalan Panji yang di dalam karena desa ini menyambung dan dibatasi oleh Sungai Kertak, anak dari Sungai Musi.

Cukup lama desa tersebut baru perpenghuni. Itu pun masih sangat sedikit. Karena penduduknya masih sangat sedikit, tentu saja desanya masih sangat sepi.

Pada saat itu hiduplah seorang pemuda bernama Agung. Ia sangat suka bermain di sekitar muara Sungai Kertak. Ia selalu sendirian saat bermain karena ia memang tidak punya teman. Selain bermain, ia juga memancing hampir setiap hari di sana.

Suatu hari, seperti biasa, Agung bermain dan memancing di muara Sungai Kertak, Hari itu ia berhasil mendapatkan ikan yang sangat banyak. Karena mendapatkan ikan yang banyak, ia semakin asik memancing. Setelah lama memancing, tiba-tiba pancingannya tersangkut di kumpai (rumput). Karena kejadian itu, ia menghentikan kegiatan memancingnya dan  memutuskan pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang, di tengah hutan yang sepi ia dihadang  oleh dua orang pemuda.“Hei pemuda, mau ke mana, hah!?” tanya salah seorang dari pemuda yang menghadangnya.
“Saya mau pulang,” jawab Agung.
“Heh, tidak bisa. Kamu pikir kamu siapa?”
“Permisi, maaf saya mau pulang.”
“Tidak semudah itu. Apa yang kau bawa itu?”
“Ini ikan hasil pancingan saya.”
“Bagus, kalau begitu cepat kau serahkan ikanmu. Baru kau poleh pulang.”
“Maaf, saya seharian memancing untuk mendapatkan ikan ini,” jawab Agung mencoba mempertahankan miliknya.
“Baik kalau itu maumu,” jawab kedua pemuda itu. Kedua pemuda itu pun langsung merampas secara paksa ikan milik Agung  yang sudah dengan susah payah dan seharian dipancingnya.“Sekarang pulanglah!” teriak salah satu dari pemuda itu.

Agung tidak berani melawan. Ia ketakutan dan ia pun pulang sambil menangis.

Keesokan harinya, Agung kembali ke Sungai Kertak. Setelah sampai, ia langsung memasang pancing dan mulai memancing. Hari ini ia berhasil memancing, Ia mendapatkan ikan yang sangat banyak. Ia kembali memasang umpan dan kembali melemparkan pancingnya. Umpannya selalu disambar ikan. Pada saat ia kembali melemparkan pancingnya, tiba-tiba pancingnya tersangkut. Ia pun langsung mengambil pancingannya yang tersangkut. Setelah itu, entah dari mana datangnya, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik berambut panjang yang sedang mandi di muara.

“Agung, ke mari,” teriak si gadis itu.
Mendengar seorang wanita yang sangat cantik memanggil namanya, tentu saja Agung sangat senang. Segera ia mendekati si gadis.”
“Kita main-main dan mandi di sini, yuk,” ajak si gadis.
Karena senangnya, Agung menurut saja ajakan si gadis dan hatinya tidak mungkin menolak. Tidak lama setelah itu, Agung tenggelam ditarik hantu air. Ternyata, gadis cantik yang mengajak Agung bermain tadi adalah hantu air.

Sementara itu, Ibu Agung yang menunggu kepulangan anaknya menjadi sangat cemas karena sampai sore dan hampir malam, anaknya belum pulang juga. Padahal, selama ini tidak pernah anaknya pulang sesore ini.
Ibu Agung tidak tinggal diam. Ia pun meminta bantuan seorang dukun untuk mencari anaknya. Semalaman Agung dicari, tetapi tidak berhasil. Pagi harinya Agung baru berhasil ditemukan. Agung ditemukan berada di dalam kumpai yang tebal. Dukun yang membantu mencari Agung langsung mengangkat Agung ke darat. Ternyata, Agung tidak bernyawa lagi. Ibu Agung berteriak histeris mengetahui anaknya tidak bernyawa lagi. Warga di sana pun turut merasakan kesedihan yang dialami ibu Agung. Warga di desa itu pun akhirnya sepakat memberi nama desa itu dengan nama Talang Sabrang (Tanjung Agung).

Saat ini Desa Tanjung Agung sudah cukup maju, sudah ada rumah-rumah walaupun jumlahnya tidak begitu banyak hingga sekarang. Kini Desa Tanjung Agung lebih dikenal dengan nama Desa Panji Sabrang.

ASAL USUL TANJUNG BERINGIN | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu, penduduk masih hidup pindah-pindah tempat dari satu daerah ke daerah yang lain. Akhirnya mereka menetap di suatu tempat yang kelak daerah tersebut diberi nama desa Tanjung Beringin.

Desa Tanjung Beringin terdiri atas beberapa wilayah yaitu Pulau Simpang Pelantar, Pulau Jemewe, Pulau Belatek, Pangkalan Kijang, Matang Mecang Air Rempah, Sake Tige, Bundud Satu, Bundud Dua, Pulau Enau, Pulau Pak Meben, dan Gaung Beringin.

Pada Tahun 1909, para penduduk dari berbagai wilayah yang ada di desa tanjung beringin bersatu membentuk sebuah kampung yang dinamakan Rengan Nangka yang dipimpin oleh seorang Karie yaitu Karim bin Jaiman serta seorang Depati bernama Seman. Beberapa tahun kemudian Karienya diganti oleh Hamid dan Depatinya Mamad. 

Pada masa kepemimpinan Karie Muhammad Yahya dan tepatnya Aziz dan Nurhasan, banyak kejadian yang ditemukan oleh salah satu penduduk. Temuan tersebut adanya sebuah rumah bersake tige yang letaknya tidak jauh dari Pulau Air Rempah dan Pulau Sake Tige. Kemudian Kerie tersebut mengumpulkan penduduk desa dan bertanya. “Wahai penduduk siapakah yang telah membuat rumah bersake tige ini, karena rumah itu berbeda dengan rumah penduduk yang lain, serta rumah tersebut dari kayu besar dan diikat menggunakan rotan tanpa dibelah?”

Salah satu penduduk menjawab. “Pemilik rumah bersake tige itu adalah orang Kubu yang bertelapak lebar, mereka hidup berpindah-pindah dan melakukan perjalanan dari Pulau Ipuh menuju ke Pulau Sake Tige, kemudian menyusuri Sungai Air Palal yang terletak di antara jalan Pangkalan Balai menuju Pengumbuk. Selain itu juga di kampung Rengan Nangke terdapat tiga pulau dan tiga sungai yang melingkari Rengan Nangke, di antaranya Pulau Simpang Pelatar, Pulau Sake Tige, Pulau Gaung Beringin. Sejak saat itulah, kampung Rengan Nangke berubah nama menjadi Kampung Sake Tige.”

Karie Muhammad Yahya kemudian digantikan oleh Karie Bujang Ayu. Pada saat kepemimpinan Karie Bujang Ayu tidak ada lagi Depati tetap, digantikan oleh seorang Pesiranya Sabidi Majid. Kemudian Kaarie Bujang Ayu mengusulkan agar nama kampung Sake Tige diubah namanya menjadi dusun Tanjung Beringin. Hal ini dikarenakan di daerah tersebut terdapat telaga atau gaung yang di sampingnya ada pohon beringin dan kira-kira 200 meter terdapat pula pohon Tanjung yang apabila berbunga harumnya semerbak mengharumi Dusun Tanjung Beringin.

Pada awalnya dusun tersebut namanya Gaung Beringin bukan Tanjung Beringin tetapi dalam suatu musyawarah dusun mufakat diberi nama Dusun Tanjung Beringin.

Kira-kira lebih kurang satu tahun di bawah pimpinan Karie Hasim bin Duliman muncullah peraturan baru yang mengusulkan bahwa pemilihan pimpinan atau kepala desa harus dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilihan pun berlangsung dan dimenangkan oleh Arifin bin Hasim pada tahun 1982, maka Arifin bin Hasim mengubah nama dusun menjadi desa yaitu Desa Tanjung Beringin. Sampai pemilihan kepala desa berikutnya yang dipimpin oleh Mesir bin M. Zaini di bawah pemerintahan Syarkowi, MH nama desa tersebut tidak mengalami perubahan, tetap Desa Tanjung Beringin yang terletak di Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Pangkalan Balai – Sumatera Selatan.

Burong Kuwaw | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu, di salah satu desa hiduplah seorang anak perempuan dan ibunya. Anak perempuannya bernama Siti Gelembung (Gelembungan). Nasib Gelembung sangat malang. Setiap hari, pagi-pagi sekali Gelembungan ditinggalkan Ibunya ke kebun dan menjelang malam Ibunya baru pulang ke rumah. Setiap sebelum pergi Ibunya selalu berpesan kepada Gelembungan agar tidak pergi ke mana-mana apalagi pergi jauh dari rumah.

Gelembung anak yang patuh. Dia selalu ingat pesan Ibunya, maka dia tidak pernah keluar rumah. Akibatnya, dia tidak mempunyai seorang pun teman. Sehari- hari ia hanya di rumah sendirian. Setiap hari menjelang subuh dia selalu bangun lebih dahulu. Disiapkannya semua keperluan Ibunya. Setelah semuanya siap, ia membangunkan Ibunya.

“Bu, hari ini di kebun panen tebu, ya?” tanya Gelembung pada suatu pagi setelah ibunya bangun. 
“Iya, Nak.”
“Bu, aku ingin sekali makan tebu. Pulang nanti bawakan aku tebu ya!” 
“Iya, kalau ibu ingat.”

Pagi itu seperti biasa pergilah ibunya ke kebun. Ternyata, Ibunya berpacaran di kebun. Pacar Ibunya bernama Nang Cik. Sambil memanen tebu mereka berpacaran. Semua hasil panen tebu yang bagus-bagus diberikan ibunya kepada Nang Cik. Sementara, tebu yang busuk dibawanya pulang. Setelah sore, Ibunya pun pulang.

“Hore, Ibu pulang. Pasti Ibu membawa tebu pesananku. Iya kan Bu?”
“Ya, Nak,” kata Ibunya sambil memberikan tebu yang dibawanya.
“Bu, kok tebunya busuk semua?”
“Oh,sepertinya Ibu salah ambil.”

Hati gelembung menjadi sangat sedih. Apa yang dinantikannya seharian tidak diperolehnya. Keesokan harinya dia seperti biasa bangun pagi dan menyiapkan segala keperluan Ibunya. Setelah Ibunya bangun, ia kembali menyampaikan keinginannya.

“Bu, hari ini aku ikut ke kebun ya?”
“Tidak usah, Nak, Di sana banyak pekerjaan, nanti kamu lelah.”
“Tidak apa-apa Bu, aku ikut ya Bu?” Gelembung kembali memohon kepada Ibunya.
“Tidak usah, kamu di rumah saja!”
“Ya sudah kalu begitu, tapi pulang nanti jangan lupa bawakan aku tebu, ya Bu!”
“Ya,” jawab Ibunya sambil meninggalkan Gelembung.

Seperti biasa, Ibunya berpacaran di kebun. Setelah sore Ia pulang dengan membawa tebu pesanan anaknya.
“Ini tebu pesananmu!”
Gelembung bergegas mengambil tebu yang dibawakan Ibunya. “Bu, kok tebu busuk lagi yang dibawa? Mana tebu yang bagusnya Bu?”

Ibunya langsung meninggalkan Gelembung tanpa menghiraukan pertanyaan Gelembung. Pedih hati Gelembung melihat sikap Ibunya. Ia pun bertembang

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Nyanyian Gelembung terdengar sangat merdu. Beberapa hari kemudian, Ia terus meminta dibawakan tebu, tetapi selalu tebu busuk yang dibawakan oleh Ibunya. Setiap Ibunya membawakan tebu busuk, Ia selalu bertembang dan berdoa agar Ia ditumbuhkan sayap.

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Suatu malam ia bermimpi bertemu ayahnya.
“Nak, kalau kau ingin tumbuh sayap dan berubah menjadi burung. Banyak-banyaklah bertembang. Jangan berhenti sebelum kau berubah menjadi burung,” pesan ayahnya.

Gelembung pun terbangun. Ia tidak sabar menanti pagi hari. Pagi itu, ia pun langsung bertembang, merdu sekali tembang yang ia nyanyikan.

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Beberapa kali ia bertembang, tumbuhlah sayap di tangannya. Ia pun kembali bertembang. Setelah berkali-kali bertembang, Gelembung berubah menjadi seekor burung. Ketika Ibunya melihat gelembung, ia sangat terkejut melihat anaknya telah berubah menjadi burung. Dikejarnya anaknya. Gelembung terbang ke suatu ranting pohon yang kecil. Ditebanglah pohon itu oleh Ibunya agar anaknya turun. Gelembung pun pergi ke pohon yang lebih tinggi.

“Nak turun Nak, nanti Ibu bawakan tebu yang bagus-bagus untukmu. Turunlah Nak, turun!” jerit Ibunya sambil menangis.

Gelembung semakin tinggi terbang meninggalkan Ibunya. Ibunya hanya dapat menyesali perbuatan yang ia lakukan pada anaknya. Lalu, Ibunya pun bertembang

Tebu sebetang aku sayang
Anak sekok aku tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Burung ini dikenal dengan sebutan Burung Kuwaw karena setiap pagi mengeluarkan bunyi “Kuwaw, kuwaw.”

Wisata Brang Bako yang Eksotis

oleh Randal Patisamba

“Di balik foto-foto yang indah tentang sebuah tempat yang keren, butuh perjuangan untuk mencapainya.”

Kalimat di atas begitu pas menggambarkan perjalanan saya Sabtu Kemarin (16/11/19) bersama rekan Adventurous Sumbawa dan Pokdarwis Dararambado mengeksplorasi potensi pariwisata kawasan Tero dan Brang Bako di Desa Jotang Beru, Kecamatan Empang Sumbawa. Kondisi jalan yang belum beraspal disertai tanjakan yang cukup ekstrim menjadi tantangan tersendiri menuju kedua kampung ini.

Tujuan utama kami yaitu Kampung Brang (sungai) Bako (bakau). Sebuah perkampungan kecil di bagian paling selatan pulau Sumbawa yang hanya dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga. Rasa penasaran saya tentang kampung ini begitu besar, selain hutannya yang masih lebat juga memiliki garis pantai cukup panjang, berpasir putih, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Wilayah Brang Bako dan sekitarnya pernah menjadi lokasi syuting beberapa program TV swasta nasional.

Dari Desa Jotang Beru, mobil ranger yang kami tumpangi melesat di atas jalan beraspal. Matahari lumayan terik. Awal Bulan Nopember seperti sekarang ini, musim kemarau lagi panas-panasnya. Hujan pun tak kunjung turun. Setelah 3 kilometer lebih, kondisi jalan mulai menanjak, berkerikil, disertai batuan lepas dan berdebu. Tanjakan pertama yang cukup miring, si ranger agak kesulitan menaklukkannya. Setelah beberapa kali percobaan, baru kemudian berhasil. Benar-benar the real adventure.

Sebenarnya jarak ke Brang Bako tidak terlalu jauh, cuma sekitar 20-an kilometer, namun karena medan jalannya lumayan parah, perjalanan jadinya agak lama. Satu hal yang bikin saya sedih, di kiri kanan jalan, bukit-bukit sudah gundul, terbabat habis akibat jagungnisasi. Cuma di beberapa titik kondisi  hutannya masih cukup lebat. Bisa dibayangkan betapa sejuknya perjalanan kami seandainya hutan di sekitar masih terjaga dengan baik.

Kampung pertama yang kami jumpai yaitu Dusun Tero. Penduduknya sekitar 90-an jiwa. Berada di dataran sebuah lembah subur yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Di sini terdapat sebuah pantai berpasir putih bernama Dara Belang. Pantai yang sangat indah. Bersih berpasir putih. Jangan tanya jaringan seluler di sini karena kita sudah memasuki area blank spot. Otomatis hanya bisa berkomunikasi lewat radio.

Dari kampung Tero rute perjalanan kembali menanjak. Terdapat sebuah tanjakan yang cukup bikin sport jantung. Orang setempat menyebutnya Paruak Setekuk. Dari puncak tanjakan Satekuk nun jauh di sana keelokan ombak Dara Belang menghampiri pantai dengan genitnya. Tak jauh dari Paruak Satekuk terdapat spot paralayang. Angin yang relatif stabil, hamparan pasir putih pantai Dungko Kore di bawahnya serta birunya samudera, menjadi sensasi tersendiri para penghobi paralayang. Kami mampir sejenak. Kebetulan waktu itu beberapa atlet paralayang lokal sedang unjuk kebolehan.

Perjalanan kami lanjutkan. Kembali menyusuri perbukitan ladang-ladang tandus yang akan ditanami jagung. Jalan kembali menurun, berkelok, bebatuan lepas dan berdebu. Kemudian  menyusuri jalan sempit sepanjang pinggir pantai. Kami sampai di sebuah sungai kecil. Namanya Brang Rora. Walau mengalir kecil namun airnya sangat jernih.  

Kondisi hutan sekitar Brang Rora masih terjaga. Menurut orang tua yang punya lahan yang ikut bersama rombongan kami, dulunya antara Kampung Tero hingga Kampung Brang Bako vegetasi hutannya sangat padat. Sepanjang hari hampir tak bisa melihat matahari secara langsung karena tertutup rimbun pepohonan. Namun semuanya berubah karena alasan perut dan perut. Klasik memang.

Kami tiba di Brang Bako. Perkampungan kecil yang semua masyarakatnya sebagai petani dan peladang. Kadang-kadang mereka juga mencari ikan di sepanjang pantai saat air laut surut. Mereka menyebutnya Bakalili. Masyarakatnya sangat ramah dan menyambut kami dengan antusias. 

Suara dentuman ombak memecah pantai begitu keras terdengar hingga perkampungan. Serta merta saya bergegas mengikuti rasa penasaran saya. Deburan Ombak pantai selatan menyambut saya bersama rekan-rekan yang lain. Sempat ngeri juga melihatnya tapi ketakutan itu sirna dengan keelokan pantainya yang masih perawan. Tempat yang sunyi dan tersembunyi hanya deburan ombak yang menemani.

Pantai Brang Bako memiliki panjang kira-kira 4 kilometer. Sebagian berpasir putih halus dan seperti biji merica. Tumbuhan pandan dan semak belukar seakan menambah keasrian area pantai. Di pantai ini kita dapat menikmati sunrise dan sunset dengan indahnya. Dari sudut manapun, setiap foto yang diambil dijamin Instragramable banged. Pantai yang begitu eksotis!

Kami memilih mendirikan tenda di pinggir pantai, sebagian hanya memakai sleeping bag. Hal yang tak boleh lupa! pakai lotion antinyamuk kalau tidak ingin menjadi santapan nyamuk-nyamuk pantai yang terkenal ganasnya.

Malam semakin beranjak. Hanya suara deburan ombak menyapu pantai yang berjarak belasan meter dari tenda kami. Suasana sunyi  mendadak ramai. Air laut tiba-tiba menyapu sebagian peralatan dan perlengkapan kami. Sontak semua kaget! Rupanya malam itu lagi purnama. Pengaruh gravitasi bumi dan bulan berdampak pada gelombang pasang air laut. Konon ombak pantai selatan juga kadang sulit diprediksi. Malam yang panjang ditemani nyamuk-nyamuk nakal.

Tak kalah menariknya, di Pantai Brang Tiram dan Brang Bako terdapat spot surfing. Keunikan ombak surfing Brang Bako memiliki arah sapuan ke kiri yang disebut ombak kidal, bukan ke kanan seperti pada umumnya. Salah satu jenis ombak yang membutuhkan keahlian khusus untuk menaklukkannya sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para peselancar. Keunikan ini semakin lengkap dengan keindahan panorama pantai yang sangat mempesona serta kehidupan masyarakatnya yang sangat ramah dan bersahaja.

Ooh yaa, rombongan kami juga bersama para surfer yang tergabung dalam Maluk Sekongkang Surfing Club’s (MSSC) yang berniat menjajal ombak Brang Bako. Sensasi spot surfing Brang Bako dan Brang Tiram sudah pernah dijajal oleh para peselancar dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, Singapura, Brazil dan beberapa negara eropa. Oleh peselancar Amerika, spots ombak tersebut di namakan Ombak Macan (tiger waves).

Di sebelah timur spot surfing Brang Bako terdapat pantai yang tak kalah indahnya. Namanya Batu Dulang (nampan), karena terdapat sebuah batu menyerupai nampan. Namun bentuknya sudah tidak utuh. Disekitarnya tersebar bongkahan batu dengan aneka ukuran dan bentuk yang unik. Kemungkinan akibat gelombang pasang pantai selatan yang terkenal ganas sehingga batu-batu tersebut terlempar ke sisi pantai. Batu-batu ini pas banged buat berswafoto ataupun sebagai objek foto lanscape para pencinta fotografi ditambah dengan di sekitar pantainya terdapat hutan yang masih lebat dengan pohon-pohon menjulang tinggi. So amazing!

Selain Pantai Brang Bako dan Brang Tiram juga terdapat spot wisata alam lainnya seperti Air terjun Ai Ngarebas, Air Terjun Bukit Batu, Pantai Dungku Kore serta Pantai Batu Bangka.

Karena keterbatasan waktu. Cuma dua hari satu malam. Waktu yang tak cukup untuk mengeksplore spot-spot lainnya ataupun menemukan spot yang baru yang tak kalah menarik. Akan ada trip selanjutnya. Inshaa Allah saya pasti akan berbagi kisah perjalanan dengan pembaca sekalian yang budiman.

Entah kenapa namanya Tiram. Mungkin karena di muara sungai ini yang tak terlalu jauh dengan pantai, dulunya banyak ditemui kerang kerang laut.

Si Tampok Pinang | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda yang tinggal di sebuah hutan yang besar. Janda tersebut hidup sendirian setelah ditinggal oleh suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Ia sangat mendambakan seorang anak. Suatu hari, ia pergi ke belakang rumahnya. Dilihatnya sebuah tampok pinang. Ia pun berdoa agar diberikan seorang anak walaupun hanya sebesar tampok pinang itu.

Beberapa bulan kemudian, ia baru menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang anak. Ia  merasa amat bahagia. Ia menganggap bahwa doanya benar-benar terkabul. Setelah beberapa bulan, anak yang dinanti-nantikannya pun lahir. Namun, alangkah terkejutnya janda tersebut  melihat anak laki-lakinya itu hanya sebesar tampok pinang, sama persis dengan doa yang ia ucapkan waktu itu.

Anak laki-lakinya itu dipanggil Si Tampok Pinang.

Waktu terus bergulir. Namun, Si Tampok Pinang masih saja sebesar tampok pinang. Setelah dewasa,Si Tampok Pinang  diusir oleh ibunya sendiri karena ia malu memiliki anak .yang sangat  kecil. Dengan sedih, Si Tampok Pinang meninggalkan ibunya dan pergi tanpa arah.

Di tengah jalan, ia melihat sebuah tenunan yang terjatuh dari atas maligai. Ternyata, tenunan itu milik seorang  Putri yang sangat rupawan yang tinggal di atas maligai. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat ada seorang yang menemukan tenunan itu. Ia pun mengajak orang tersebut, yaitu Si Tampok Pinang, untuk naik ke atas maligai karena Si Putri telah berjanji bahwa barang siapa yang menemukan tenunannya itu, jika laki-laki akan dijadikan sebagai suami, sedangkan jika perempuan akan dijadikan saudaranya.

Alangkah terkejutnya Si Putri ketika melihat bahwa laki-laki yang menemukan tenunannya itu hanya sebesar Tampok Pinang. Diusapkanlah Si Tampok Pinang ke rambut Si Putri yang sangat panjang itu. Secara ajaib, Si Tampok Pinang berubah menjadi pangeran yang tampan dan rupawan. Tentu saja memiliki tubuh yang normal layaknya manusia pada umumnya. Si Putri pun jatuh cinta kepada Si Tampok Pinang. Begitu juga sebaliknya. Sejak pertama kali melihat Si Putri, Si Tampok Pinang langsung jatuh hati kepada Si Putri.  Sesuai dengan janji Si Putri, mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan. Untuk itu, Si Tampok Pinang mengajak Si Putri untuk bertemu ibunya yang sudah mengusirnya dari rumah. Dia ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya karena sebenarnya ia masih sangat sayang kepada ibunya.

Awalnya, sang ibu tidak percaya bahwa lelaki yang tampan itu adalah anaknya sendiri, Si Tampok Pinang. Setelah dijelaskan  Si Putri, ibunya pun percaya dan merasa sangat bahagia. Tentu saja sang ibu menyetujui  rencana pernikahan anaknya itu dengan Si Putri. Ibu Si Tampok Pinang pun melakukan berbagai persiapan yang besar untuk membuat pesta pernikahan yang sangat meriah. Selama persiapan itu, Si Putri naik ke atas maligai untuk menunggu hingga hari pernikahan nanti.

Layaknya kebiasaan yang ada, ibu Si Tampok Pinang mengajak orang-orang yang ada di dusunnya untuk memasak makanan untuk acara pesta pernikahan anaknya. Banyak orang yang diajaknya, termasuk juga Si Kenam. Si Kenam adalah seorang perempuan yang berhati jahat dan juga buruk rupa. Diam-diam, dia juga jatuh hati akan ketampanan yang dimiliki oleh Si Tampok Pinang.

Pada acara masak-memasak, Si Kenam  mendapat tugas untuk mengambil air di sungai. Akan tetapi, ia tidak mau karena ia merasa tidak pantas untuk melakukan pekerjaan itu.  Ketika seseorang memberinya sebuah ember untuk mengangkut air, ia selalu memecahkannya. Hal itu dilakukannya berulang kali. Sampai akhirnya, orang-orang tidak memberinya ember lagi, melainkan sebuah kelingan. Kelingan adalah suatu wadah yang terbuat dari kulit sapi yang tidak bisa pecah, kecuali jika digigit anjing.

SI Kenam tidak kehilangan akal. Dia pun memanggil anjing untuk mengigit kelingan itu. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat perbuatan itu dari atas maligai. Dia merasa geli dan akhirnya tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Si Kenam itu. Namun, itulah awal dari kekacauan yang besar. Entah kenapa, Si Kenam terkena sinaran cahaya dari Si Putri yang kemudian tiba-tiba membuatnya menjadi perempuan yang sangat cantik, sama persis seperti Si Putri. Namun sebaliknya, Si Putri menjadi seseorang yang sama persis seperti Si Kenam.

Melihat penampilan barunya itu, Si Kenam merasa sangat senang dan menjadi semakin sombong. Saking sombongnya, ia menyuruh Si  Putri untuk turun dari atas mahligai. Lain halnya dengan Si Putri. Dia menjadi stres karena memikirkan keadaannya sekarang. Karena merasa sangat terkesan ia mengacak-mengacak mukanya hingga menjadi tidak karuan. Akhirnya , ia turun dan bertemu dengan Si Kenam yang sudah menjadi secantik dirinya dulu. Mereka melakukan suatu pertukaran tugas. Si kenam akan menjadi “Si Putri” yang tinggal di atas maligai, sedangkan Si Putri akan menjadi “Si Kenam”. Mulai saat itu, Si Putri melakukan tugas seperti yang dilakukan oleh Si Kenam waktu itu.

Setelah beberapa waktu, orang-orang sekitar merasa aneh dengan perilaku “Si Kenam” yang sekarang. Ia menjadi seorang yang penurut dan baik hati.

Waktu pernikahan pun semakin dekat. Si Putri Kenam yang sekarang berada di atas maligai disuruh turun untuk melaksanakan pernikahan dengan Si Tampok Pinang di dusun seberang yang melewati laut. Si Putri” alias Si Kenam di suruh orang-orang untuk memanggil angin agar bisa menyeberangkan kapal ke seberang dusun. Hal itu adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan bagi seorang putri yang tinggal di atas maligai. Ketika Si Kenam memanggil angin, entah kenapa bau busuk datang menyengat. Sementara itu, dari kejauhan Si Putri memanggil angin untuk bisa  menyeberangkan orang-orang ke seberang dusun. Kali ini, bau harumlah yang datang menghampiri. Seluruh rombongan naik kapal untuk pergi ke dusun seberang. Setelah sampai, mereka semua turun, termasuk juga “Si Putri” alias Si Kenam.

Setelah menikah, “Si Putri” alias Si Kenam tinggal bersama Si Tampok Pinang. Di sisi lain, Si Putri disuruh untuk menjaga padi milik Si Tampok Pinang. Ia menjaga padi dengan baik sambil menenun. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang hendak memakan padi itu, ia pun menembangkan suatu lagu yang intinya, jika burung itu memakan padi itu, ia akan dibunuh oleh pemilik sawah itu. Tiba-tiba, Si Putri kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Ia pun merasa sangat senang.

Dari atas maligai, Si Kenam mengintip dan merasa bingung akan kejadian itu. Tak disangka-sangka, ternyata Si Tampok Pinang mendengar suara dari tembang yang dinyanyikan oleh Si Putri itu. Ia sangat mengenali suara itu. Ia pun menyadari bahwa putri yang bersamanya itu adalah putri palsu. Karena perbutannya, Si Kenam diusir dari dusunnya. Si Tampok Pinang kembali mengajak Si Putri untuk menikah. Akhirnya, mereka  menikah dan hidup bahagia selamanya.

Diceritakan kembali oleh: Neny Tryana, S.Pd. dan Putri Munawaroh

*) Cerita rakyat ini berasal dari daerah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Sumber.

Bujang Sungsang | Cerita Rakyat Banyuasin

Desa Sungsang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah sebuah sepasang suami istri. Suaminya sudah renta dan tidak lagi bekerja. Sehari-harinya istrinya berjualan kerupuk keliling di desa. Selama bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Mereka telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan anak. Akan tetapi, semua itu belum mendatangkan hasil. Meskipun demikian, mereka tidak putus asa dan tetap berusaha dan berdoa agar dikaruniai anak.

Suatu hari seperti biasa istrinya berdagang kerupuk keliling. Saat ia berkeliling menjajakan dagangannya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang tidak memakai baju. Anak kecil tersebut meminta makanan kepadanya.

“Mana orang tuamu?” tanya istrinya.

Anak tersebut tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

“Mana orang tuamu?”

Anak itu kembali menggelengkan kepalanya.

“Apakah kamu tidak mempunyai orang tua lagi?”

Anak itu selalu menggelengkan kepalanya.

Anak kecil itu pun diajak ke rumah istrinya. Mereka lalu merawat anak itu. Anak tersebut mereka beri nama Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun tumbuh dewasa. Ia melakukan perubahan pada desanya. Untuk menjaga keamanan desa, ia melakukan ronda pada malam hari. Ia pun sangat ringan tangan. Tidak segan-segan ia menolong orang banyak. Ia rajin bekerja dan sering melakukan kegiatan memacing ikan.
Perbuatan baik bujang Sungsang banyak ditentang oleh orang sekitarnya. Sebagian orang merasa terusik dengan perbuatan Bujang Sungsang. Mereka yang tidak menyukai Bujang Sungsang berencana untuk mencelakai Bujang Sungsang.

Sesuai rencana mereka, Bujang Sungsang pun ditangkap. Setelah ditangkap, Bujang Sungsang dimasukkan ke dalam kandang dan akan dibuang ke Sungai Musi. Saat itu, muncullah keajaiban. Bujang Sungsang yang sudah berada di kandang tiba-tiba telah berada di luar kandang.

Setelah di luar kandang, Bujang Sungsang berubah wujud menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Semua yang hadir terkejut dan terpesona melihat ketampanan Bujang Sungsang.

Baca juga: Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Rumah Lama

“Wahai warga sekalian, saya mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa kebersamaan dalam hidup itu sangat perlu. Percaya kepada kebaikan orang lain juga sangat perlu. Berbuat baiklah dan tolong-menolonglah sesama manusia,” ujar Bujang Sungsang. Perkataannya terdengar sangat berwibawa.

Bujang Sungsang segera mendekati kedua orang tua angkatnya, “Bapak, Ibu, terima kasih telah mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya selama ini. Bapak dan Ibu telah mengasuh saya dengan sangat baik. Saya tidak dapat membalas kebaikan yang telah Bapak dan Ibu lakukan, Bapak, Ibu, saya pamit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, ” kata Bujang Sungsang sambil menahan emosi.

Semua warga yang hadir menyaksikan perbuatan dan mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Bujang Sungsang. Mereka semua seolah terhipnotis dengan kata-kata Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun pergi ke tepian Sungai Musi. Sejenak ia amati sekelilingnya dan kemudian melompat ke dalam sungai tersebut. Semua warga menunggu kemunculan Bujang Sungsang dari sungai. Akan tetapi, setelah lama ditunggu, Bujang Sungsang tidak muncul-muncul. Warga yang berkumpul pun akhirnya bubar.

Perbuatan dan ucapan Bujang Sungsang jadi pembicaraan di desa itu. Siang malam mereka tak habis-habisnya membicarakan hilangnya Bujang Sungsang di Sungai Musi. Di warung kopi, di rumah, siang, malam, mereka terus membahas perkataan Bujang Sungsang sebelum menceburkan dirinya di sungai.

Akhirnya, penduduk desa tersebut sepakat memberi nama desa tempat Bujang Sungsang dengan nama Desa Sungsang. Warga Desa Sungsang yakin Bujang Sungsang membawa berkah pada para nelayan karena sejak Bujang Sungsang menceburkan diri di sungai tersebut banyak sekali ikan yang hidup dan nelayan selalu mendapatkan hasil yang melimpah.

Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Antu Ruak Belekang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Bujang Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Namun, mereka berdua saling menyayangi.

Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seseorang yang sangat penakut.

Suatu hari Tanjung menangis karena kelaparan. Tidak ada sedikit pun makanan yang dapat mereka makan. Bahkan, untuk memasak, mereka tidak mempunyai api.

“Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan? Api untuk masak pun kita tak punya,” ujar Tanjung.
“Iya Dik. Kalau begitu, sekarang kakak pergi dulu untuk mengambil api ke gunung,” jawab Lematang.

Ia pun berpesan, “Adik tidak usah takut. Kalau nanti datang Antu Ruak Belekang dan dia memanggil-manggilmu, janganlah sekali-kali engkau jawab. Selama Kakak pergi, tinggallah engkau di atas langit-langit.”

“Kak aku lapar nian, tapi cak manela makanan kite dek katik, apelagi api,” ujar Tanjung sambil memegang perutnya karena menahan lapar.
“La ngape adek tu tak ngomong ngan Kakak. Kalu mek tu, kakak pegi ngambek api ke gunung,” jawab Lematang. Ia pun berpesan, “Adek jengan takut kalu Antu Ruak Belakang detang. Kalu die manggel kau jengan kau simbet, diem ke be. Selame kakak pegi kau ngimbang di atas palang.”


Setelah menyembunyikan adiknya, Bujang Lematang segera pergi ke gunung. Berhari-hari Bujang Lematang pergi keluar masuk hutan. Akhirnya, sampailah ia di gunung untuk mengambil api. Sementara adiknya menunggu di rumah dalam ketakutan bukan kepalang.

Suatu hari di saat Tanjung sedang ketakutan, datanglah Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang sangat ditakuti di desa karena ia sering memakan manusia.

“Celendup-celentam,” terdengar suara hentakan kaki Antu Ruak Belekang. Tanjung hanya bisa terdiam di tengah ketakutannya.

“Celendup-celentam. Ini rumah siape?” tanya Antu Ruak Belekang.
“Rumah kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” sahut Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke tangga rumah, Celedup-celentam
”Tangge siape ini?”
“Tangge Kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” jawab Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke teras. Celedup-celentam…
“Gerang siape ini?”
“Gerang kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepoloh ari,” jawab Tanjung.

Pintu rumah dibuka Antu Ruak Belakang. Secepatnya dicari sumber suara tadi. Antu Ruak Belekang berhasil menemukan Tanjung. Tanjung langsung disantapnya hidup-hidup.

Bujang Lematang pun pulang. Dari kejauhan ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengingat lelahnya perjalanan yang telah dirasakan, ia berlari secepatnya agar segera tiba di rumah. Ia khawatir akan adiknya yang sendirian di rumah. Ternyata, apa yang menjadi kekhawatirannya memang benar terjadi. Tanjung adiknya telah tiada. Kini yang tersisa hanya rambut, bekas darah, dan kuku adiknya. Kesedihan mendalam dirasakan Lematang karena kehilangan adik satu-satunya. Akan tetapi, secara tidak sengaja Lematang meletakkan sapu lidi ke rambut, bekas darah, dan kuku adiknya.

“Hatciiiimm,” tiba-tiba Bujang Lematang bersin.

Keanehan pun terjadi. Tanjung hidup kembali. Kegembiraan Lematang pun tidak terlukiskan, walau ada rasa tidak percaya dalam dirinya kalau adiknya dapat hidup kembali.

Dasar Tanjung Anak yang manja. Kakaknya baru saja pulang dan belum lepas dari lelah, Tanjung menyuruh kakaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Akhirnya Lematang pergi. Tetapi,seperti biasa sebelum ia pergi menyembunyikan adiknya dan meninggalkan pesan.

“Kalu Antu Ruak Belekang detang, jengan lupe kau tutup idongmu supaye die dek tau kalu di rumah ado urang.”
Setelah itu pergilah Lematang dengan hati cemas.

Celedup-celentam… bunyi kaki Antu Ruak Belekang.

Sayangnya pada saat itu Tanjung terlambat menutup hidungnya jadi kecurigaan Antu Ruak Belekang timbul karena waktu ia datang ia mencium bau manusia, tetapi sekarang tidak. Tanpa berkata lagi Sang Antu masuk ke rumah dan mencari-cari manusia untuk disantapnya.

Pada saat itu Bujang Lematang pulang dilihatnya pintu rumah terbuka ia tergesa-gesa karena takut hal yang lalu akan terulang kembali. Ketika Lematang sampai ia langsung berkelahi dengan Antu Ruak Belekang. Ternyata Lematang pun kalah dan ia pun dimakan Antu Ruak Belekang.

Tanjung kasihan melihat kakaknya dimakan Antu Ruak Belekang. Ia pun keluar dari persembunyianya. Pada akhirnya kakak beradik ini meninggal dunia. Yang tinggal hanya rambut, bekas darah, dan kuku mereka berdua.

Cerita ini berasal dari Desa Pangkalan Panji KM.38, Kabupaten Banyuasin III.


Upacara Odalan atau Piodalan

Upacara Odalan merupakan ritual keagamaan dalam rangka peringatan terhadap Mahalingga Padma Bhuwana Manggir yang merupakan sebuah situs peninggalan dari Ki Ageng Mangier. Dalam sebagai keyakinan, Odalan memiliki makna membawa umatnya ke dalam sebuah kehidupan beragama yang lebih baik.

UMAT Hindu di Bali, Indonesia merayakan odalan di masing-masing pura mereka setiap 210 hari. Odalan dirayakan berdasarkan kalender Pawukon Bali yang umurnya 210 hari, kira-kira setiap tujuh bulan menurut kalender Masehi. Setiap odalan biasanya berlangsung sekitar tiga hari hingga seminggu atau lebih, tergantung dari klasifikasi pura bersangkutan.

Piodalan berasal dari kata wedal yang memiliki arti keluar atau lahir. Jadi, layaknya kita merayakan hari ulang tahun, saat peringatan upacara Piodalan (odalan) tersebutlah ditetapkan sebagai hari lahir sebuah Pura atau bangunan suci. Dengan kata lain, piodalan/pujawali/petoyan merupakan peringatan hari lahirnya sebuah tempat suci umat Hindu.

Untuk hari-hari baik yang dipilih dan ditetapkan sebagai hari Piodalan atau Pujawali sebuah tempat suci diantaranya adalah, Purnama Kapat, Kalima, Kadasa. Anggar kasih Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Perangbakat dan Dukut. Saniscara Kliwon (Tumpek) Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye dan Wayang. Buda Wage Ukir, Warigadean, Langkir, Merakih, Menail dan Klawu, dan masih banyak hari baik lainnya.

Bage Samawa Alias Tamarindus Indica

Keberadaan Bage Samawa banyak ditemui di Pulau Sumbawa. Nama lainnya adalah pohon Asam, atau ilmiahnya, Tamarindus Indica. Saking banyaknya pohon ini, soal rasa pun, lidah Sumbawa sukanya yang asam-asam.

Di samping memiliki banyak manfaat, pohon ini jugalah yang mempercantik alam Sumbawa hingga di beberapa titik, terutama di dekat pantai, kesannya terasa magis. Buahnya sering mengisi bagasi-bagasi bus antar provinsi karena banyaknya permintaan paket kiriman dari Jawa, Bali dan Lombok, baik itu dari rekan-rekan luar daerah yang sudah mengenal manfaatnya, kerabat hingga anak-anak kost yang tidak bisa jauh dari Sepat Bage.

Biji buahnya telah mengukir banyak kenangan pada generasi 90-an, karena dengan mengunyah biji tersebut kita bisa buktikan gigi siapa yang paling kuat. Generasi zaman sekarang mungkin kurang pengalaman dalam hal ini 😁

Tamarindus Indica atau Bage Samawa adalah vegetasi yang harus dilestarikan karena itu menjadi salah satu identitas pulau Sumbawa. Ah kamu, sudah pernah merasakan minuman sirup Tamarin dicampur madu Sumbawa?

Credit: Cerca Trova