Bebas Traveling dengan Vaksin Corona

Siapa yang masih nggak berani traveling sejak pandemi Covid-19 terjadi? Ya, aku mungkin termasuk salah satu yang nggak berani berada di kerumunan tertutup seperti kendaraan umum (pesawat, kereta api, bus) karena potensi penularan virusnya lebih tinggi. Apalagi biaya ekstra harus dikeluarkan untuk memenuhi syarat rapid test antibodi dan kini rapid test antigen. Satu-satunya harapan untuk bebas traveling dengan vaksin corona demi mencapai herd immunity.

Herd immunity atau kekebalan massal terjadi lewat dua cara. Pertama, membiarkan 70% masyarakat Indonesia terkena Covid-19. Kedua, dengan cara vaksin Corona.

Saat ini, Indonesia sudah memesan sekian juta dosis vaksin Corona dan tengah memastikan bahwa vaksin ini aman digunakan oleh masyarakat. Memang banyak kritik atas hadirnya vaksin di kita. Negara-negara Barat sudah memesan Pfizer yang sudah diberikan kepada sekitar 1 juta warga di Amerika Serikat misalnya. Namun, penggunaan Pfizer ini terkendala di peranti distribusinya. Pfizer harus disimpan dalam suhu minus 70 derajat celcius. Suhu yang jauh lebih rendah dari suhu vaksin pada umumnya yang hanya minus 8 derajat celcius.

Tentu kita semua mengharapkan hasil uji akhir Sinovac yang kita pesan baik-baik saja. Tertepis keraguan masyarakat karena tidak ada negara besar yang memesan Sinovac seperti Indonesia. Setelah itu proses vaksinisasi pun segera dimulai agar rasa aman bepergian tercipta kembali.

Meskipun vaksinasi dilakukan, sejumlah ahli berpendapat bahwa dunia tidak akan kembali sama seperti semula. Protokol kesehatan tetap harus dilakukan. Kebiasaan memakai masker, mencuci tangan dengan rutin, dan menjaga jarak perlu diteruskan.

Isu lain yang terjadi adalah keefektifan vaksin yang hanya berfungsi selama 6 bulan. Artinya, untuk mencapai herd immunity, 70% masyarakat sudah harus divaksin dalam tempo 6 bulan.

Selain itu, laju penambahan kasus perlu ditekan sedikit mungkin agar virus yang cerdas ini tidak telanjur bermutasi. Seperti kasus di Inggris, mutasi virus memungkinkan penyebaran lebih cepat dan muncul pertanyaan apakah vaksin yang sudah dibuat efektif untuk menghadapi mutasi baru dari virus tersebut.

Apapun itu, jika ditanya apakah saya bersedia divaksin, dengan segala keraguan yang ada di masyarakat, saya tetap menjawab bersedia. Sebab tampaknya, selain menjaga imunitas dan terus menerapkan protokol kesehatan, vaksin menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi virus.

Ada satu kota yang pengen kukunjungi banget setelah divaksin. Yaitu, Malang. Entah kenapa, Malang itu ngangenin banget. Di sana ada banyak Coban (air terjun). Seperti Coban Talun, Coban Rondo, Coban Putri, dan Coban Parang Tejo. Makanannya pun murah meriah.

Namun, agak bergeser dari Malang, ada satu tempat yang menjadi salah satu tempat yang wajib kukunjungi selama hidup. Air terjun Tumpak Sewu di Lumajang. Air terjun ini bikin liurki menetes bahkan bila melihat foto-fotonya saja. Semoga suatu hari terwujud.

Vaksin corona sudah di depan mata. Aku berharap usaha ini berhasil. Pemerintah berkewajiban menyediakan dosis virus yang cukup untuk menciptakan herd immunity. Masyarakat wajib mentaati aturan yang dibuat Pemerintah.

Ketimbang mewajibkan antigen atau jenis tes Covid-19 untuk melakukan perjalanan, aku berharap Pemerintah bisa menjamin orang-orang yang bepergian dengan naik kendaraan umum itu sudah divaksin. Tidak ada lagi surat keterangan yang dipalsukan. Harus ada mekanisme yang memadai bahwa vaksin menjadi syarat bepergian.

Dengan cara itulah bebas traveling dengan vaksin corona bisa terjadi. Pariwisata bisa tumbuh kembali tanpa efek samping penambahan klaster baru. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *