Catatan Perjalanan di Danau Toba

Setengah enam pagi. Di lobi Hotel Labersa. Resepsionis yang rapi sudah menyambutku. Syukurlah, penyewaan sepeda sudah bisa dilakukan. Tadinya Anjas bilang ingin ikut bersepeda pagi, tapi dia tidak jua muncul. Akhirnya kukayuh sepeda di jalan raya Kota Balige. Menuju Pantai Bulbul. Udara dingin yang menusuk tulang tak mampu menggodaku mengurungkan niat mengarungi keindahan pagi di Toba.

Cahaya matahari memerah di balik bukit menyertai kayuhan demi kayuhan. Kadang aku berhenti sejenak untuk menangkap momen itu.

Dalam benak, aku tergelak, ternyata penyebutan pantai tidak hanya milik daratan di tepi laut. Setelah sampai di Bulbul, baru aku paham, memang tepi danau toba juga berpasir putih seperti di pesisir. Kapal-kapal kecil terlihat, beristirahat dari rutinitas ke Samosir. Kucelupkan kaki. Rasanya ingin berenang. Tetapi kuingat pesan, tidak boleh berenang. Sebab, tepi pantai yang tampak tenang seringkali menjebak. Mendadak bisa ada palung yang kedalamannya tidak diketahui.

Pantai Bulbul. Dokumentasi pribadi.

Berapa kedalaman Danau Toba itu sendiri? Di buku-buku lama tercantum sekitar 500 meter. Namun, Kak Fitri Manalu mengatakan, penelitian terbaru menunjukkan hasil kedalamannya lebih dari 1000 meter. Dalam sekali.

Sayangnya, sewa sepeda hanya 1 jam. Ditambah pukul delapan aku harus berangkat mengikuti perjalanan mengelilingi Danau Toba bersama teman-teman dari Kemenparekraf dan Kompasiana. 

Kaldera Toba sudah ditetapkan sebagai Geopark Global oleh UNESCO pada didang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Perancis, 2 Juli 2020 lalu. Hanya ada 5 Geopark Global di Indonesia. Selain Kaldera Toba, ada Batur, Gunung Sewu, Ciletuh, dan Rinjani. Aku sendiri sebelumnya baru pernah ke Ciletuh bersama Backpacker Jakarta.

Pengalaman di Ciletuh sangat mengesankan. Meski mengikuti trip hemat, pengalaman perjalanan di sana sangatlah luar biasa. Karena itu, aku mengharapkan pengalaman yang serupa saat mendapatkan kesempatan perjalanan ke Toba.

Bagiku, perjalanan selalu mengenai 2 hal: alam dan manusia. Dari jendela mobil yang melaju kencang, terlihat langit begitu biru menaungi kumpulan air di Kaldera Toba. Pertanda udara masih sangat bersih. Pemberhentian pertama kami adalah Taman Eden 100. Di sini kami berkenalan dengan andaliman, rempah khas Toba, yang selalu digunakan dalam berbagai kuliner di Toba. Mulai dari sambal hingga kreasi terbaru seperti Pizza Andaliman. 

Di dalam taman ini pun ada air terjun yang menyegarkan. Beberapa teman sampai merendam dirinya di air yang jernih itu. Setelah puas, kami disuguhi kopi dan camilan. Rasanya nikmat sekali. Meski, tidak bisa kumengerti kenapa yang dipakai sebagai campuran kopi adalah kental manis, bukan susu. Ya, kental manis sebenarnya bukan susu, melainkan gula.

Dari Taman Eden 100, kami makan siang di Parapat. Menu khas daerah Toba adalah ikan nila. Ikan nilanya berukuran besar dan segar. Di Piltik sebelumnya, kami disajikan ikan nila goreng. Di Museum Silalahi, dimasak arsik. Di Parapat, menu yang dihidangkan dimasak asam manis. Semuanya terasa nikmat selama itu ikan (soalnya aku suka sekali makan ikan, kalau tidak nanti ditenggelamkan Ibu Susi).

Tepi Debang Resort di Desa Tao Silalahi. Dokumentasi pribadi.

Kenyang, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Tao Silalahi. Kami diinapkan di Debang Resort. Persis di tepi Danau Toba. Bukit-bukit kecil menjadikan lanskapnya begitu indah. Rasanya tak puas berfoto sekali-dua kali di sana. Beberapa teman berinisiatif menaiki bukit itu keesokan paginya. Aku tak ikutan. Rasanya sudah cukup lelah. Saat sesi menjelaskan sejarah Raja Silahi pun aku sudah tak fokus. Begitu pula saat teman-teman diajak menari Tor-tor, aku hanya menyaksikan dari dalam ruangan sambil menelepon anakku, melepas rindu.

Dalam perjalanan ke desa ini, mata kameraku tak bisa berdiam diri. Pemandangan Danau Toba dari jalan di atas bukit sungguh indah. Selintasan kulihat air terjun nan megah dari kejauhan. Ternyata itulah air terjun Sipiso-sipiso yang masuk daftar air terjun yang paling ingin kukunjungi selain Tumpak Sewu di Lumajang dan beberapa air terjun lain. Sebagai pencinta air terjun, rasanya hati ini melengos melihat kesempatan di depan mata itu melayang. Sempat terpikir mau sewa motor Subuh, menjalani perjalanan yang di GMaps hanya sekitar 20 km untuk menyambanginya, tapi melihat jalan yang curam dan berkelak-kelok, rasanya perjalanan itu tak sepadan dengan bahaya yang akan kuhadapi.

Jadilah aku berdoa, semoga saja ada kesempatan lain, wisata khusus air terjun di sekitar Toba bersama Kemenparekraf (uhuk uhuk) mengingat Ciletuh berhasil “dijual” karena air terjunnya.

Dalam konsep wisata tematik, kusadari kemudian bahwa air terjun adalah elemen penting yang tidak boleh dilupakan. Bentang alam Toba sudah menyediakan semua itu mentah-mentah, tidak perlu diapa-apakan lagi. Tinggal tugas Pemerintah adalah memfasilitasi kemudahan untuk menempuh itu semua dan sekaligus menjawab enam rekomendasi UNESCO berikut ini:

Pertama, mengembangkan hubungan antara warisan geologis dan warisan teritorial lainnya seperti biotik alami, budaya, tidak berwujud melalui interpretasi, pendidikan dan wisata. Termasuk melatih pemandu lokal, pariwisata, operator dan masyarakat setempat dan lainnya. Kemudian tentang tautan antara geologi dan ekologi, untuk diaktifkan berbagi pengetahuan dengan pengunjung. Kedua mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. 

Hal itu berlaku untuk akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas dan produsen produk lokal. Ketiga, memperkuat keterlibatan dalam aktivitas Global Geoparks Network dan Asia Pasifik Jaringan Geoparks untuk mempromosikan nilai internasional wilayah melalui kemitraan dengan Global Geoparks di bawah payung UGG. 

Keempat, mengembangkan strategi pendidikan dengan bekerja dalam kemitraan dengan UGG lainnya. Kelima, meningkatkan strategi dan kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi mitigasi bahaya alam dan perubahan iklim di sekolah-sekolah untuk populasi lokal. Terakhir, memperkuat keterlibatan UGG dalam studi penelitian, konservasi dan promosi penduduk asli setempat dan budaya serta bahasa mereka.

Soal alam, perjalanan ke Toba sudah membuatku puas. Soal manusia, justru pengalaman itu kudapat dalam situasi yang tak kuduga.

Saat hari terakhir, ketika sebagian peserta sudah pulang lebih dulu, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan sendirian. Tujuanku tentu saja mencari air terjun dan berkeliling Kota Balige. Tapi tak kudapatkan sewa motor dari pihak agen perjalanan yang menemani kami semua. Perjalanan sendiri itu adalah hobi karena di situlah aku jadi lebih bisa berinteraksi dengan kemendadakan. 

Dan ternyata kejutan pertama itu datang dari satpam hotel. Dia meminjamkan motornya kepadaku. Dan tidak mematok bayaran. Berkat motor itu aku berjalan ke Desa Siboruon. Dari jalan raya, aku menyusuri jalan kecil, masuk ke jalan setapak cor-coran di pinggir-pinggir bukit. Perjalanan yang amat menantang ketika jalan cor itu habis, aku menempuh jalan tanah berkerikil agak menanjak. Hingga sampailah ke rumah terakhir. Di sana aku menitipkan motorku.

Hari masih pagi, dan kuberanikan diri menuju Air Terjun Siboruon. Berjalan kaki menyusuri jalan semak yang curam sekali. Untunglah jaraknya tidak begitu jauh. Kulihat air terjun Siboruon itu megah sekali. Kusiapkan kamera untuk mengambil gambar diriku. Tanpa rekan dan tripod, aku harus mencari batu untuk menyangga dan posisi yang tepat untuk mendapatkan gambar yang kukehendaki.

Air Terjun Siboruon. Dokumentasi pribadi.

Saat asik bercengkerama dengan karema itulah, tiba-tiba muncu suara. Pria tua muncul dari dalam kolam air terjun. Kupastikan dia manusia betulan apa bukan. Ternyata tertangkap di kamera. Syukurlah, manusia betulan. Namanya Siahaan. Kami pun mengobrol banyak dalam keterbatasan bahasa karena dia tidak memiliki banyak kosa kata dalam Bahasa Indonesia.

Itu adalah sekelumit perjalananku ke Toba. Sebenarnya masih panjang dan banyak ceritanya. Dari Tao Silalahi kami ke melanjutkan perjalanan, mencicipi kopi Sitalbak, hingga makan malam terakhir di Lagos. Seru sekali. Mungkin foto-fotonya bakal selalu update di Instagramku.

Bila ada kesempatan lain, ingin sekali aku mengajak istriku ke Toba. Sebab Toba sebenarnya sangat romantis. Sayang sekali hotel sebagus Labersa, pemandangan indah, makanan enak, hanya kunikmati sendiri tanpa kekasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.