ASAL MULA DESA TANJUNG AGUNG | Cerita Rakyat Banyuasin


ALKISAH pada zaman dahulu kala terdapat sebuah desa yang sangat sepi karena tidak berpenghuni. Semua wilayahnya berupa hutan. Panjang wilayahnya kurang lebih empat kilometer. Desa tersebut berada di perbatasan Pangkalan Panji yang di dalam karena desa ini menyambung dan dibatasi oleh Sungai Kertak, anak dari Sungai Musi.

Cukup lama desa tersebut baru perpenghuni. Itu pun masih sangat sedikit. Karena penduduknya masih sangat sedikit, tentu saja desanya masih sangat sepi.

Pada saat itu hiduplah seorang pemuda bernama Agung. Ia sangat suka bermain di sekitar muara Sungai Kertak. Ia selalu sendirian saat bermain karena ia memang tidak punya teman. Selain bermain, ia juga memancing hampir setiap hari di sana.

Suatu hari, seperti biasa, Agung bermain dan memancing di muara Sungai Kertak, Hari itu ia berhasil mendapatkan ikan yang sangat banyak. Karena mendapatkan ikan yang banyak, ia semakin asik memancing. Setelah lama memancing, tiba-tiba pancingannya tersangkut di kumpai (rumput). Karena kejadian itu, ia menghentikan kegiatan memancingnya dan  memutuskan pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang, di tengah hutan yang sepi ia dihadang  oleh dua orang pemuda.“Hei pemuda, mau ke mana, hah!?” tanya salah seorang dari pemuda yang menghadangnya.
“Saya mau pulang,” jawab Agung.
“Heh, tidak bisa. Kamu pikir kamu siapa?”
“Permisi, maaf saya mau pulang.”
“Tidak semudah itu. Apa yang kau bawa itu?”
“Ini ikan hasil pancingan saya.”
“Bagus, kalau begitu cepat kau serahkan ikanmu. Baru kau poleh pulang.”
“Maaf, saya seharian memancing untuk mendapatkan ikan ini,” jawab Agung mencoba mempertahankan miliknya.
“Baik kalau itu maumu,” jawab kedua pemuda itu. Kedua pemuda itu pun langsung merampas secara paksa ikan milik Agung  yang sudah dengan susah payah dan seharian dipancingnya.“Sekarang pulanglah!” teriak salah satu dari pemuda itu.

Agung tidak berani melawan. Ia ketakutan dan ia pun pulang sambil menangis.

Keesokan harinya, Agung kembali ke Sungai Kertak. Setelah sampai, ia langsung memasang pancing dan mulai memancing. Hari ini ia berhasil memancing, Ia mendapatkan ikan yang sangat banyak. Ia kembali memasang umpan dan kembali melemparkan pancingnya. Umpannya selalu disambar ikan. Pada saat ia kembali melemparkan pancingnya, tiba-tiba pancingnya tersangkut. Ia pun langsung mengambil pancingannya yang tersangkut. Setelah itu, entah dari mana datangnya, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik berambut panjang yang sedang mandi di muara.

“Agung, ke mari,” teriak si gadis itu.
Mendengar seorang wanita yang sangat cantik memanggil namanya, tentu saja Agung sangat senang. Segera ia mendekati si gadis.”
“Kita main-main dan mandi di sini, yuk,” ajak si gadis.
Karena senangnya, Agung menurut saja ajakan si gadis dan hatinya tidak mungkin menolak. Tidak lama setelah itu, Agung tenggelam ditarik hantu air. Ternyata, gadis cantik yang mengajak Agung bermain tadi adalah hantu air.

Sementara itu, Ibu Agung yang menunggu kepulangan anaknya menjadi sangat cemas karena sampai sore dan hampir malam, anaknya belum pulang juga. Padahal, selama ini tidak pernah anaknya pulang sesore ini.
Ibu Agung tidak tinggal diam. Ia pun meminta bantuan seorang dukun untuk mencari anaknya. Semalaman Agung dicari, tetapi tidak berhasil. Pagi harinya Agung baru berhasil ditemukan. Agung ditemukan berada di dalam kumpai yang tebal. Dukun yang membantu mencari Agung langsung mengangkat Agung ke darat. Ternyata, Agung tidak bernyawa lagi. Ibu Agung berteriak histeris mengetahui anaknya tidak bernyawa lagi. Warga di sana pun turut merasakan kesedihan yang dialami ibu Agung. Warga di desa itu pun akhirnya sepakat memberi nama desa itu dengan nama Talang Sabrang (Tanjung Agung).

Saat ini Desa Tanjung Agung sudah cukup maju, sudah ada rumah-rumah walaupun jumlahnya tidak begitu banyak hingga sekarang. Kini Desa Tanjung Agung lebih dikenal dengan nama Desa Panji Sabrang.

ASAL USUL TANJUNG BERINGIN | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu, penduduk masih hidup pindah-pindah tempat dari satu daerah ke daerah yang lain. Akhirnya mereka menetap di suatu tempat yang kelak daerah tersebut diberi nama desa Tanjung Beringin.

Desa Tanjung Beringin terdiri atas beberapa wilayah yaitu Pulau Simpang Pelantar, Pulau Jemewe, Pulau Belatek, Pangkalan Kijang, Matang Mecang Air Rempah, Sake Tige, Bundud Satu, Bundud Dua, Pulau Enau, Pulau Pak Meben, dan Gaung Beringin.

Pada Tahun 1909, para penduduk dari berbagai wilayah yang ada di desa tanjung beringin bersatu membentuk sebuah kampung yang dinamakan Rengan Nangka yang dipimpin oleh seorang Karie yaitu Karim bin Jaiman serta seorang Depati bernama Seman. Beberapa tahun kemudian Karienya diganti oleh Hamid dan Depatinya Mamad. 

Pada masa kepemimpinan Karie Muhammad Yahya dan tepatnya Aziz dan Nurhasan, banyak kejadian yang ditemukan oleh salah satu penduduk. Temuan tersebut adanya sebuah rumah bersake tige yang letaknya tidak jauh dari Pulau Air Rempah dan Pulau Sake Tige. Kemudian Kerie tersebut mengumpulkan penduduk desa dan bertanya. “Wahai penduduk siapakah yang telah membuat rumah bersake tige ini, karena rumah itu berbeda dengan rumah penduduk yang lain, serta rumah tersebut dari kayu besar dan diikat menggunakan rotan tanpa dibelah?”

Salah satu penduduk menjawab. “Pemilik rumah bersake tige itu adalah orang Kubu yang bertelapak lebar, mereka hidup berpindah-pindah dan melakukan perjalanan dari Pulau Ipuh menuju ke Pulau Sake Tige, kemudian menyusuri Sungai Air Palal yang terletak di antara jalan Pangkalan Balai menuju Pengumbuk. Selain itu juga di kampung Rengan Nangke terdapat tiga pulau dan tiga sungai yang melingkari Rengan Nangke, di antaranya Pulau Simpang Pelatar, Pulau Sake Tige, Pulau Gaung Beringin. Sejak saat itulah, kampung Rengan Nangke berubah nama menjadi Kampung Sake Tige.”

Karie Muhammad Yahya kemudian digantikan oleh Karie Bujang Ayu. Pada saat kepemimpinan Karie Bujang Ayu tidak ada lagi Depati tetap, digantikan oleh seorang Pesiranya Sabidi Majid. Kemudian Kaarie Bujang Ayu mengusulkan agar nama kampung Sake Tige diubah namanya menjadi dusun Tanjung Beringin. Hal ini dikarenakan di daerah tersebut terdapat telaga atau gaung yang di sampingnya ada pohon beringin dan kira-kira 200 meter terdapat pula pohon Tanjung yang apabila berbunga harumnya semerbak mengharumi Dusun Tanjung Beringin.

Pada awalnya dusun tersebut namanya Gaung Beringin bukan Tanjung Beringin tetapi dalam suatu musyawarah dusun mufakat diberi nama Dusun Tanjung Beringin.

Kira-kira lebih kurang satu tahun di bawah pimpinan Karie Hasim bin Duliman muncullah peraturan baru yang mengusulkan bahwa pemilihan pimpinan atau kepala desa harus dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilihan pun berlangsung dan dimenangkan oleh Arifin bin Hasim pada tahun 1982, maka Arifin bin Hasim mengubah nama dusun menjadi desa yaitu Desa Tanjung Beringin. Sampai pemilihan kepala desa berikutnya yang dipimpin oleh Mesir bin M. Zaini di bawah pemerintahan Syarkowi, MH nama desa tersebut tidak mengalami perubahan, tetap Desa Tanjung Beringin yang terletak di Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Pangkalan Balai – Sumatera Selatan.

Burong Kuwaw | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu, di salah satu desa hiduplah seorang anak perempuan dan ibunya. Anak perempuannya bernama Siti Gelembung (Gelembungan). Nasib Gelembung sangat malang. Setiap hari, pagi-pagi sekali Gelembungan ditinggalkan Ibunya ke kebun dan menjelang malam Ibunya baru pulang ke rumah. Setiap sebelum pergi Ibunya selalu berpesan kepada Gelembungan agar tidak pergi ke mana-mana apalagi pergi jauh dari rumah.

Gelembung anak yang patuh. Dia selalu ingat pesan Ibunya, maka dia tidak pernah keluar rumah. Akibatnya, dia tidak mempunyai seorang pun teman. Sehari- hari ia hanya di rumah sendirian. Setiap hari menjelang subuh dia selalu bangun lebih dahulu. Disiapkannya semua keperluan Ibunya. Setelah semuanya siap, ia membangunkan Ibunya.

“Bu, hari ini di kebun panen tebu, ya?” tanya Gelembung pada suatu pagi setelah ibunya bangun. 
“Iya, Nak.”
“Bu, aku ingin sekali makan tebu. Pulang nanti bawakan aku tebu ya!” 
“Iya, kalau ibu ingat.”

Pagi itu seperti biasa pergilah ibunya ke kebun. Ternyata, Ibunya berpacaran di kebun. Pacar Ibunya bernama Nang Cik. Sambil memanen tebu mereka berpacaran. Semua hasil panen tebu yang bagus-bagus diberikan ibunya kepada Nang Cik. Sementara, tebu yang busuk dibawanya pulang. Setelah sore, Ibunya pun pulang.

“Hore, Ibu pulang. Pasti Ibu membawa tebu pesananku. Iya kan Bu?”
“Ya, Nak,” kata Ibunya sambil memberikan tebu yang dibawanya.
“Bu, kok tebunya busuk semua?”
“Oh,sepertinya Ibu salah ambil.”

Hati gelembung menjadi sangat sedih. Apa yang dinantikannya seharian tidak diperolehnya. Keesokan harinya dia seperti biasa bangun pagi dan menyiapkan segala keperluan Ibunya. Setelah Ibunya bangun, ia kembali menyampaikan keinginannya.

“Bu, hari ini aku ikut ke kebun ya?”
“Tidak usah, Nak, Di sana banyak pekerjaan, nanti kamu lelah.”
“Tidak apa-apa Bu, aku ikut ya Bu?” Gelembung kembali memohon kepada Ibunya.
“Tidak usah, kamu di rumah saja!”
“Ya sudah kalu begitu, tapi pulang nanti jangan lupa bawakan aku tebu, ya Bu!”
“Ya,” jawab Ibunya sambil meninggalkan Gelembung.

Seperti biasa, Ibunya berpacaran di kebun. Setelah sore Ia pulang dengan membawa tebu pesanan anaknya.
“Ini tebu pesananmu!”
Gelembung bergegas mengambil tebu yang dibawakan Ibunya. “Bu, kok tebu busuk lagi yang dibawa? Mana tebu yang bagusnya Bu?”

Ibunya langsung meninggalkan Gelembung tanpa menghiraukan pertanyaan Gelembung. Pedih hati Gelembung melihat sikap Ibunya. Ia pun bertembang

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Nyanyian Gelembung terdengar sangat merdu. Beberapa hari kemudian, Ia terus meminta dibawakan tebu, tetapi selalu tebu busuk yang dibawakan oleh Ibunya. Setiap Ibunya membawakan tebu busuk, Ia selalu bertembang dan berdoa agar Ia ditumbuhkan sayap.

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Suatu malam ia bermimpi bertemu ayahnya.
“Nak, kalau kau ingin tumbuh sayap dan berubah menjadi burung. Banyak-banyaklah bertembang. Jangan berhenti sebelum kau berubah menjadi burung,” pesan ayahnya.

Gelembung pun terbangun. Ia tidak sabar menanti pagi hari. Pagi itu, ia pun langsung bertembang, merdu sekali tembang yang ia nyanyikan.

Tebu sebetang umak sayang
Anak sekok Umak tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Beberapa kali ia bertembang, tumbuhlah sayap di tangannya. Ia pun kembali bertembang. Setelah berkali-kali bertembang, Gelembung berubah menjadi seekor burung. Ketika Ibunya melihat gelembung, ia sangat terkejut melihat anaknya telah berubah menjadi burung. Dikejarnya anaknya. Gelembung terbang ke suatu ranting pohon yang kecil. Ditebanglah pohon itu oleh Ibunya agar anaknya turun. Gelembung pun pergi ke pohon yang lebih tinggi.

“Nak turun Nak, nanti Ibu bawakan tebu yang bagus-bagus untukmu. Turunlah Nak, turun!” jerit Ibunya sambil menangis.

Gelembung semakin tinggi terbang meninggalkan Ibunya. Ibunya hanya dapat menyesali perbuatan yang ia lakukan pada anaknya. Lalu, Ibunya pun bertembang

Tebu sebetang aku sayang
Anak sekok aku tak sayang
Anak sekok jedi burong
Burong kuwaw di pajer ari

Burung ini dikenal dengan sebutan Burung Kuwaw karena setiap pagi mengeluarkan bunyi “Kuwaw, kuwaw.”

Si Tampok Pinang | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda yang tinggal di sebuah hutan yang besar. Janda tersebut hidup sendirian setelah ditinggal oleh suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Ia sangat mendambakan seorang anak. Suatu hari, ia pergi ke belakang rumahnya. Dilihatnya sebuah tampok pinang. Ia pun berdoa agar diberikan seorang anak walaupun hanya sebesar tampok pinang itu.

Beberapa bulan kemudian, ia baru menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang anak. Ia  merasa amat bahagia. Ia menganggap bahwa doanya benar-benar terkabul. Setelah beberapa bulan, anak yang dinanti-nantikannya pun lahir. Namun, alangkah terkejutnya janda tersebut  melihat anak laki-lakinya itu hanya sebesar tampok pinang, sama persis dengan doa yang ia ucapkan waktu itu.

Anak laki-lakinya itu dipanggil Si Tampok Pinang.

Waktu terus bergulir. Namun, Si Tampok Pinang masih saja sebesar tampok pinang. Setelah dewasa,Si Tampok Pinang  diusir oleh ibunya sendiri karena ia malu memiliki anak .yang sangat  kecil. Dengan sedih, Si Tampok Pinang meninggalkan ibunya dan pergi tanpa arah.

Di tengah jalan, ia melihat sebuah tenunan yang terjatuh dari atas maligai. Ternyata, tenunan itu milik seorang  Putri yang sangat rupawan yang tinggal di atas maligai. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat ada seorang yang menemukan tenunan itu. Ia pun mengajak orang tersebut, yaitu Si Tampok Pinang, untuk naik ke atas maligai karena Si Putri telah berjanji bahwa barang siapa yang menemukan tenunannya itu, jika laki-laki akan dijadikan sebagai suami, sedangkan jika perempuan akan dijadikan saudaranya.

Alangkah terkejutnya Si Putri ketika melihat bahwa laki-laki yang menemukan tenunannya itu hanya sebesar Tampok Pinang. Diusapkanlah Si Tampok Pinang ke rambut Si Putri yang sangat panjang itu. Secara ajaib, Si Tampok Pinang berubah menjadi pangeran yang tampan dan rupawan. Tentu saja memiliki tubuh yang normal layaknya manusia pada umumnya. Si Putri pun jatuh cinta kepada Si Tampok Pinang. Begitu juga sebaliknya. Sejak pertama kali melihat Si Putri, Si Tampok Pinang langsung jatuh hati kepada Si Putri.  Sesuai dengan janji Si Putri, mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan. Untuk itu, Si Tampok Pinang mengajak Si Putri untuk bertemu ibunya yang sudah mengusirnya dari rumah. Dia ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya karena sebenarnya ia masih sangat sayang kepada ibunya.

Awalnya, sang ibu tidak percaya bahwa lelaki yang tampan itu adalah anaknya sendiri, Si Tampok Pinang. Setelah dijelaskan  Si Putri, ibunya pun percaya dan merasa sangat bahagia. Tentu saja sang ibu menyetujui  rencana pernikahan anaknya itu dengan Si Putri. Ibu Si Tampok Pinang pun melakukan berbagai persiapan yang besar untuk membuat pesta pernikahan yang sangat meriah. Selama persiapan itu, Si Putri naik ke atas maligai untuk menunggu hingga hari pernikahan nanti.

Layaknya kebiasaan yang ada, ibu Si Tampok Pinang mengajak orang-orang yang ada di dusunnya untuk memasak makanan untuk acara pesta pernikahan anaknya. Banyak orang yang diajaknya, termasuk juga Si Kenam. Si Kenam adalah seorang perempuan yang berhati jahat dan juga buruk rupa. Diam-diam, dia juga jatuh hati akan ketampanan yang dimiliki oleh Si Tampok Pinang.

Pada acara masak-memasak, Si Kenam  mendapat tugas untuk mengambil air di sungai. Akan tetapi, ia tidak mau karena ia merasa tidak pantas untuk melakukan pekerjaan itu.  Ketika seseorang memberinya sebuah ember untuk mengangkut air, ia selalu memecahkannya. Hal itu dilakukannya berulang kali. Sampai akhirnya, orang-orang tidak memberinya ember lagi, melainkan sebuah kelingan. Kelingan adalah suatu wadah yang terbuat dari kulit sapi yang tidak bisa pecah, kecuali jika digigit anjing.

SI Kenam tidak kehilangan akal. Dia pun memanggil anjing untuk mengigit kelingan itu. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat perbuatan itu dari atas maligai. Dia merasa geli dan akhirnya tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Si Kenam itu. Namun, itulah awal dari kekacauan yang besar. Entah kenapa, Si Kenam terkena sinaran cahaya dari Si Putri yang kemudian tiba-tiba membuatnya menjadi perempuan yang sangat cantik, sama persis seperti Si Putri. Namun sebaliknya, Si Putri menjadi seseorang yang sama persis seperti Si Kenam.

Melihat penampilan barunya itu, Si Kenam merasa sangat senang dan menjadi semakin sombong. Saking sombongnya, ia menyuruh Si  Putri untuk turun dari atas mahligai. Lain halnya dengan Si Putri. Dia menjadi stres karena memikirkan keadaannya sekarang. Karena merasa sangat terkesan ia mengacak-mengacak mukanya hingga menjadi tidak karuan. Akhirnya , ia turun dan bertemu dengan Si Kenam yang sudah menjadi secantik dirinya dulu. Mereka melakukan suatu pertukaran tugas. Si kenam akan menjadi “Si Putri” yang tinggal di atas maligai, sedangkan Si Putri akan menjadi “Si Kenam”. Mulai saat itu, Si Putri melakukan tugas seperti yang dilakukan oleh Si Kenam waktu itu.

Setelah beberapa waktu, orang-orang sekitar merasa aneh dengan perilaku “Si Kenam” yang sekarang. Ia menjadi seorang yang penurut dan baik hati.

Waktu pernikahan pun semakin dekat. Si Putri Kenam yang sekarang berada di atas maligai disuruh turun untuk melaksanakan pernikahan dengan Si Tampok Pinang di dusun seberang yang melewati laut. Si Putri” alias Si Kenam di suruh orang-orang untuk memanggil angin agar bisa menyeberangkan kapal ke seberang dusun. Hal itu adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan bagi seorang putri yang tinggal di atas maligai. Ketika Si Kenam memanggil angin, entah kenapa bau busuk datang menyengat. Sementara itu, dari kejauhan Si Putri memanggil angin untuk bisa  menyeberangkan orang-orang ke seberang dusun. Kali ini, bau harumlah yang datang menghampiri. Seluruh rombongan naik kapal untuk pergi ke dusun seberang. Setelah sampai, mereka semua turun, termasuk juga “Si Putri” alias Si Kenam.

Setelah menikah, “Si Putri” alias Si Kenam tinggal bersama Si Tampok Pinang. Di sisi lain, Si Putri disuruh untuk menjaga padi milik Si Tampok Pinang. Ia menjaga padi dengan baik sambil menenun. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang hendak memakan padi itu, ia pun menembangkan suatu lagu yang intinya, jika burung itu memakan padi itu, ia akan dibunuh oleh pemilik sawah itu. Tiba-tiba, Si Putri kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Ia pun merasa sangat senang.

Dari atas maligai, Si Kenam mengintip dan merasa bingung akan kejadian itu. Tak disangka-sangka, ternyata Si Tampok Pinang mendengar suara dari tembang yang dinyanyikan oleh Si Putri itu. Ia sangat mengenali suara itu. Ia pun menyadari bahwa putri yang bersamanya itu adalah putri palsu. Karena perbutannya, Si Kenam diusir dari dusunnya. Si Tampok Pinang kembali mengajak Si Putri untuk menikah. Akhirnya, mereka  menikah dan hidup bahagia selamanya.

Diceritakan kembali oleh: Neny Tryana, S.Pd. dan Putri Munawaroh

*) Cerita rakyat ini berasal dari daerah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Sumber.

Bujang Sungsang | Cerita Rakyat Banyuasin

Desa Sungsang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah sebuah sepasang suami istri. Suaminya sudah renta dan tidak lagi bekerja. Sehari-harinya istrinya berjualan kerupuk keliling di desa. Selama bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Mereka telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan anak. Akan tetapi, semua itu belum mendatangkan hasil. Meskipun demikian, mereka tidak putus asa dan tetap berusaha dan berdoa agar dikaruniai anak.

Suatu hari seperti biasa istrinya berdagang kerupuk keliling. Saat ia berkeliling menjajakan dagangannya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang tidak memakai baju. Anak kecil tersebut meminta makanan kepadanya.

“Mana orang tuamu?” tanya istrinya.

Anak tersebut tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

“Mana orang tuamu?”

Anak itu kembali menggelengkan kepalanya.

“Apakah kamu tidak mempunyai orang tua lagi?”

Anak itu selalu menggelengkan kepalanya.

Anak kecil itu pun diajak ke rumah istrinya. Mereka lalu merawat anak itu. Anak tersebut mereka beri nama Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun tumbuh dewasa. Ia melakukan perubahan pada desanya. Untuk menjaga keamanan desa, ia melakukan ronda pada malam hari. Ia pun sangat ringan tangan. Tidak segan-segan ia menolong orang banyak. Ia rajin bekerja dan sering melakukan kegiatan memacing ikan.
Perbuatan baik bujang Sungsang banyak ditentang oleh orang sekitarnya. Sebagian orang merasa terusik dengan perbuatan Bujang Sungsang. Mereka yang tidak menyukai Bujang Sungsang berencana untuk mencelakai Bujang Sungsang.

Sesuai rencana mereka, Bujang Sungsang pun ditangkap. Setelah ditangkap, Bujang Sungsang dimasukkan ke dalam kandang dan akan dibuang ke Sungai Musi. Saat itu, muncullah keajaiban. Bujang Sungsang yang sudah berada di kandang tiba-tiba telah berada di luar kandang.

Setelah di luar kandang, Bujang Sungsang berubah wujud menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Semua yang hadir terkejut dan terpesona melihat ketampanan Bujang Sungsang.

Baca juga: Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Rumah Lama

“Wahai warga sekalian, saya mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa kebersamaan dalam hidup itu sangat perlu. Percaya kepada kebaikan orang lain juga sangat perlu. Berbuat baiklah dan tolong-menolonglah sesama manusia,” ujar Bujang Sungsang. Perkataannya terdengar sangat berwibawa.

Bujang Sungsang segera mendekati kedua orang tua angkatnya, “Bapak, Ibu, terima kasih telah mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya selama ini. Bapak dan Ibu telah mengasuh saya dengan sangat baik. Saya tidak dapat membalas kebaikan yang telah Bapak dan Ibu lakukan, Bapak, Ibu, saya pamit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, ” kata Bujang Sungsang sambil menahan emosi.

Semua warga yang hadir menyaksikan perbuatan dan mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Bujang Sungsang. Mereka semua seolah terhipnotis dengan kata-kata Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun pergi ke tepian Sungai Musi. Sejenak ia amati sekelilingnya dan kemudian melompat ke dalam sungai tersebut. Semua warga menunggu kemunculan Bujang Sungsang dari sungai. Akan tetapi, setelah lama ditunggu, Bujang Sungsang tidak muncul-muncul. Warga yang berkumpul pun akhirnya bubar.

Perbuatan dan ucapan Bujang Sungsang jadi pembicaraan di desa itu. Siang malam mereka tak habis-habisnya membicarakan hilangnya Bujang Sungsang di Sungai Musi. Di warung kopi, di rumah, siang, malam, mereka terus membahas perkataan Bujang Sungsang sebelum menceburkan dirinya di sungai.

Akhirnya, penduduk desa tersebut sepakat memberi nama desa tempat Bujang Sungsang dengan nama Desa Sungsang. Warga Desa Sungsang yakin Bujang Sungsang membawa berkah pada para nelayan karena sejak Bujang Sungsang menceburkan diri di sungai tersebut banyak sekali ikan yang hidup dan nelayan selalu mendapatkan hasil yang melimpah.

Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Antu Ruak Belekang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Bujang Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Namun, mereka berdua saling menyayangi.

Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seseorang yang sangat penakut.

Suatu hari Tanjung menangis karena kelaparan. Tidak ada sedikit pun makanan yang dapat mereka makan. Bahkan, untuk memasak, mereka tidak mempunyai api.

“Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan? Api untuk masak pun kita tak punya,” ujar Tanjung.
“Iya Dik. Kalau begitu, sekarang kakak pergi dulu untuk mengambil api ke gunung,” jawab Lematang.

Ia pun berpesan, “Adik tidak usah takut. Kalau nanti datang Antu Ruak Belekang dan dia memanggil-manggilmu, janganlah sekali-kali engkau jawab. Selama Kakak pergi, tinggallah engkau di atas langit-langit.”

“Kak aku lapar nian, tapi cak manela makanan kite dek katik, apelagi api,” ujar Tanjung sambil memegang perutnya karena menahan lapar.
“La ngape adek tu tak ngomong ngan Kakak. Kalu mek tu, kakak pegi ngambek api ke gunung,” jawab Lematang. Ia pun berpesan, “Adek jengan takut kalu Antu Ruak Belakang detang. Kalu die manggel kau jengan kau simbet, diem ke be. Selame kakak pegi kau ngimbang di atas palang.”


Setelah menyembunyikan adiknya, Bujang Lematang segera pergi ke gunung. Berhari-hari Bujang Lematang pergi keluar masuk hutan. Akhirnya, sampailah ia di gunung untuk mengambil api. Sementara adiknya menunggu di rumah dalam ketakutan bukan kepalang.

Suatu hari di saat Tanjung sedang ketakutan, datanglah Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang sangat ditakuti di desa karena ia sering memakan manusia.

“Celendup-celentam,” terdengar suara hentakan kaki Antu Ruak Belekang. Tanjung hanya bisa terdiam di tengah ketakutannya.

“Celendup-celentam. Ini rumah siape?” tanya Antu Ruak Belekang.
“Rumah kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” sahut Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke tangga rumah, Celedup-celentam
”Tangge siape ini?”
“Tangge Kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” jawab Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke teras. Celedup-celentam…
“Gerang siape ini?”
“Gerang kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepoloh ari,” jawab Tanjung.

Pintu rumah dibuka Antu Ruak Belakang. Secepatnya dicari sumber suara tadi. Antu Ruak Belekang berhasil menemukan Tanjung. Tanjung langsung disantapnya hidup-hidup.

Bujang Lematang pun pulang. Dari kejauhan ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengingat lelahnya perjalanan yang telah dirasakan, ia berlari secepatnya agar segera tiba di rumah. Ia khawatir akan adiknya yang sendirian di rumah. Ternyata, apa yang menjadi kekhawatirannya memang benar terjadi. Tanjung adiknya telah tiada. Kini yang tersisa hanya rambut, bekas darah, dan kuku adiknya. Kesedihan mendalam dirasakan Lematang karena kehilangan adik satu-satunya. Akan tetapi, secara tidak sengaja Lematang meletakkan sapu lidi ke rambut, bekas darah, dan kuku adiknya.

“Hatciiiimm,” tiba-tiba Bujang Lematang bersin.

Keanehan pun terjadi. Tanjung hidup kembali. Kegembiraan Lematang pun tidak terlukiskan, walau ada rasa tidak percaya dalam dirinya kalau adiknya dapat hidup kembali.

Dasar Tanjung Anak yang manja. Kakaknya baru saja pulang dan belum lepas dari lelah, Tanjung menyuruh kakaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Akhirnya Lematang pergi. Tetapi,seperti biasa sebelum ia pergi menyembunyikan adiknya dan meninggalkan pesan.

“Kalu Antu Ruak Belekang detang, jengan lupe kau tutup idongmu supaye die dek tau kalu di rumah ado urang.”
Setelah itu pergilah Lematang dengan hati cemas.

Celedup-celentam… bunyi kaki Antu Ruak Belekang.

Sayangnya pada saat itu Tanjung terlambat menutup hidungnya jadi kecurigaan Antu Ruak Belekang timbul karena waktu ia datang ia mencium bau manusia, tetapi sekarang tidak. Tanpa berkata lagi Sang Antu masuk ke rumah dan mencari-cari manusia untuk disantapnya.

Pada saat itu Bujang Lematang pulang dilihatnya pintu rumah terbuka ia tergesa-gesa karena takut hal yang lalu akan terulang kembali. Ketika Lematang sampai ia langsung berkelahi dengan Antu Ruak Belekang. Ternyata Lematang pun kalah dan ia pun dimakan Antu Ruak Belekang.

Tanjung kasihan melihat kakaknya dimakan Antu Ruak Belekang. Ia pun keluar dari persembunyianya. Pada akhirnya kakak beradik ini meninggal dunia. Yang tinggal hanya rambut, bekas darah, dan kuku mereka berdua.

Cerita ini berasal dari Desa Pangkalan Panji KM.38, Kabupaten Banyuasin III.


Sumur Abadi di Selodingin

Sumur abadi di Selodingin konon tak pernah kering. SELODINGIN adalah nama sebuah dusun di atas pegunungan. Tepatnya, Selodingin merupakan salah satu dusun di kawasan Desa Siwalan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Nah, Selodingin menyimpan sebuah sumur yg tak pernah kering walau kemarau berkepanjangan. Konon, sumur itu dibuat oleh seorang wali yaitu Sunan Kalijaga dan santrinya. Menurut warga sekitar, setahun sekali muncul ikan gabus yg berantinng-anting. Di situ juga ada larangan menyalakan dupa/kemenyan.

Sejarah Selodingin

Sejarah Dusun Selodingin sangat berkaitan erat dengan sebuah perjalanan dan perkembangan agama islam di masa lalu. Banyak versi mengenai asal-usul Selodingin dan makna nama Selodingin itu sendiri. Salah satunya mengatakan bahwa dulunya nama Selodingin yang sebenarnya adalah Siloringin. Hal tersebut terjadi karena  masyarakat lebih mudah menyebutnya dengan Selodingin. Siloringin berasal dari kata “Silo” dan “Ringin”, dan menurut warga sekitar kata Silo artinya adalah Bersila yang dalam hal ini adalah melakukan peristirahatan dari perjalan panjang yang ditempuh. Sedangkan kata Ringin disini artinya adalah pohon beringin. Dengan demikian maka makna kata Siloringin adalah sebuah aktivitas peristirahatan dari sebuah perjalanan yang panjang dan dilakukan di bawah pohon beringin. Selanjutnya, tokoh yang melakukan perjalanan tersebut adalah Sunan Kalijaga.

Cerita Rakyat Banyuasin | Asal Mula Rumah Lama Rantau Bayur

Zaman dahulu ada sebuah keluarga yang hidupnya susah. Keluarga ini mempunyai 7 anak laki-laki. 6 dari 7 anaknya ini merupakan anak yang rajin. Semua orang di desanya senang melihat mereka. Tapi, anaknya yang paling bungsu merupakan anak yang nakal, jelek, dan pemalas. Semua warga tidak menyenangi anak yang paling bungsu. Oleh saudaranya, si bungsu dijuluki Lanang Penyungkan.

Suatu hari, seperti biasa bapak dan ibunya pergi ke sawah. 6 anak laki-lakinya ikut semua. Tapi, anak yang paling bungsu tidak pernah ikut setiap kali diajak. Ketika bapaknya mengajak si bungsu pergi si bapak dimarahi olehnya.

Kemudian pergilah orang tuanya beserta saudara-saudaranya ke sawah. Di sawah, saudara-saudaranya teringat kata-kata si bungsu. Kemudian saudara-saudaranya merencanakan sesuatu untuk mencelakakan si bungsu. Mereka ingin menghanyutkan si bungsu ke aliran sungai Musi. Pulanglah mereka kerumah. Di rumah, mereka tambah tidak senang melihat si bungsu karena si bungsu seolah menari-nari di atas penderitaan keluarganya. Si bungsu sedang tertidur lelap sedangkan orang tuanya banting tulang di sawah. Dengan segera, saudaranya membuat sebuah rakit. Tidak lama berselang terbuatlah sebuah rakit. Dihanyutkanlah si bungsu ke aliran sungai Musi. Si bungsu tidak sadar kalau dia telah hanyut. Dengan perasaan sedih bercampur kesal saudara-saudara bertembang,

Bebuah kau kesek
Dak bebuah labu parang

Aman masih betuah, masih balek
Aman dak betuah ilang di jalan

Saudara-saudaranya terus bertembang sampai si bungsu tidak terlihat lagi. Sampai sore hari, rakit si bungsu itu tersangkut di sebuah batang kayu besar bernama Kayu Bayur. Si bungsu terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat ia tidak berada lagi di rumahnya. Dengan cepat ia naik ke atas batang bayur. Ia duduk termenung dan bertembang.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Tidak ada orang yang peduli dengan keadannya. Bertambah sedih hati si bungsu. Bertembang lagi dia.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Sadarlah si bungsu bahwa yang dilakukan selama ini salah.Akhirnya ia naik ke tebing. Di atas si bungsu berusaha keras banting tulang. Berkat kerja kerasnya ia dapat membangun sebuah rumah. Rumahnya besar. Di dalam rumah ini banyak terdapat barang berharga. Percaya atau tidak barang siapa mencuri barang tersebut niscaya ia akan gila sampai ia mengembalikan barang tersebut. Sampai sekarang rumah tersebut dinamakan Rumah Lame oleh penduduk sekitar. Rumah Lame masih dijaga dan di lestarikan sebagai peninggalan legenda.


Diceritakan oleh Dyan Rachmatullah
Cerita ini bersumber dari Desa Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin

asal-usul pangkalan balai

Asal-usul Pangkalan Balai | Cerita Rakyat Banyuasin

Pangkalan Balai, ibukota Kabupaten Banyuasin yang dimekarkan sejak 2002. memiliki cerita asal-usul yang menarik. Cerita ini menjadi semacam mitos atau pun cerita rakyat di Banyuasin, Sumatra Selatan.

Dulu, ada perkampungan yang diberi nama ‘Talang Gelumbang’. Di kampung tersebut, awalnya hanya dihuni tujuh buah rumah oleh beberapa keluarga yang dipimpin oleh tiga tokoh masyarakat. Ketiga tokoh masyarakat tersebut yaitu Puyang Beremban Besi (seorang pahlawan). Ia adalah penduduk asli yang mempunyai kekuatan kebaal terhadap berbagai senjata tajam, Kedua Bujang Merawan selaku pimpinan Pemerintahan, dan ketiga adalah Cahaya Bintang selaku pimpinan adat.

Di antara ketiga tokoh tersebut, ada yang berasal dari Cirebon. Ia adalah anak Mangkubumi dari kesultanan Cirebon. Dikarenakan kebijaksanaan dan wibawa mereka, desa kecil itu terus berkembang, Satu per satu rumah bertambah. Banyak daya tarik dari desa ini. Akhirnya desa ini menjadi perkampungan yang ramai.

Mata pencaharian penduduk desa ini adalah bercocok tanam dan sebagai nelayan. Kehidupan masyarakat desa ini selalu dalam suasana aman dan damai. Sekitar tahun 1600, datanglah seorang yang tak dikenal dengan kapal layar bernama ‘Tuan Bangsali’. Beliau adalah seorang ulama yang menyebarkan agama Islam sehingga penduduk baik laki-laki maupun perempuan belajar agama islam. Tuan Bangsali memilih Thalib Wali sebagai orang kepercayaannya atau orang yang pandai ilmu agama.

Setelah kedatangan Tuan Bangsali desa ini mengalami perkembangan yang pesat. Karena kampung ini kecil dan kurang memadai, pemimpin desa ini memperluas kampung dan memindahkan penduduknya ke seberang yang diberi nama Napal. Di desa Napal ini mereka membangun perkampungan baru dan banyak rumah kokoh berdiri. Penduduk pun membangun sebuah Balai Desa yang cukup besar dan sebuah pangkalan tempat berlabuhnya perahu dagang dan perahu nelayan Pangkalan ini diberi nama Pangkalan Napal atau Pangkalan Bangsali.

Puyang Beremban Besi Wafat

Beberapa tahun kemudian Puyang Beremban Besi wafat dan berwasiat agar dimakamkan di hilir dusun (kira-kira dua kilometer dari Boom Berlian). Ternyata di tempat makam beliau ditumbuhi nipah kuning. Setelah wafatnya Puyang Beremban Besi, Bujang Merawan dan Cahaya Bintang pun mengundurkan diri karena sudah tua dan sering sakit-sakitan.

Akhirnya kepemimpinan beralih ke tangan Thalib Wali. Thalib Wali menunjuk dua orang yaitu Puyang Rantau Pendodo sebagai kepala pemerintahan dan Muning Cana sebagai orang yang gagah berani. Thalib Wali ini bernama Munai maka orang-orang desa ini memanggil beliau dengan sebutan ‘Muning Munai’. Perkembangan desa dan keadaan pemerintahan yang kurang memadai, maka Thalib Wali mengambil kebijaksanaan bersama musyawarah rakyat setempat untuk memilih wakil-wakilnya. Mereka yang terpilih adalah Ngunang sebagai Rio (Kerio) Desa untuk pertama kalinya. Kemudian Thalib Wali ditetapkan menjadi khotib yang mengemban tugas agama sebagai pencatat nikah, tolak, dan rujuk, mengurus kelahiran dan kematian serta mengurus persedekahan rakyat.

Beberapa tahun kemudian Tuan Bangsali menilai ada beberapa orang yang pandai ilmu agama Islam. Mereka adalah Thalib Wali dan Dul. Dul berasal dari Talang Majapani (Lubuk Rengas) dan kedua orang ini diajak pergi haji ke tanah suci Mekkah dengan menggunakan perahu layar. Setahun kemudian mereka yang pergi haji tersebut kembali ke desa ini. Thalib Ali menanam dua jenis pohon yaitu Serumpun Pohon Paojenggih dan Serumpun Pohon Beringin Nyusang. Dengan ketentuan harus ditanam di dusun, pohon Poejenggih ditanam di sebelah kiri dan Pohon Beringin Nyusang ditanam di sebelah kanan. Sedangkan Dul membawa serumpun Maje. Dari tahun ke tahun dusun ini terus mengalami kemajuan dan masih tetap bernama ‘Talang Gelumbang’ dan pangkalannya masih tetap bernama Pangkalan Bangsali.

Setelah 40 tahun, wafatlah Kerio Ngunang, kerena perkembangan dusun sangat pesat maka dipilih seorang pasira (Depati) oleh Susuhunan Raja-raja Palembang, yang kedudukan di dusun Limau.

Menurut ceritanya, Dusun Limau ini dibuat oleh anak dalam Muara Bengkulu. Rio Bayyung seorang anak dari Mangku Bumi Kesultanan Majapahit. Pada waktu Majapahit jatuh, kelima anak dari Mangku Bumi melarikan diri ke Sumatera yaitu yang tertua ke daerah Sung Sang bernama Ratu Senuhun, yang kedua di daerah Limau bernama Rio Bayung, yang ketiga di daerah Betung bernama Rima Demam, dan dua orang wanita di daerh Abad Penungkal (Air Hitam).

Ratu Senuhun pada waktu berlayar perahunya tersangsang (tersangkut) dan tidak bisa turun lagi. Maka daerah tersebut dinamakan Sung Sang, tetapi sebenarnya adalah Sang-Sang. Sedangkan Depati Bang Seman, anaknya yang menjabat sebagai depati, namun istrinya meninggal. Maka Depati Buta, karena matanya buta sebelah, tetapi kewibawaannya tinggi dan pergaulannya sangatlah luas, orang-orang hormat padanya. Setelah tujuh tahun beliau memegang tampuk pemerintahan, kemudian beliau sakit dan wafat.

Seorang Khotib di Tiap Rio

Setiap dusun yang ada Rio (kepala desa) harus mempunyai seorang khotib, yang bertugas mencatat nikah, tolak, rujuk, kematian, kelahiran, dan persedekahan rakyat. Perhubungan laut di Dusun Limau sulit untuk dijangkau maka diambil suatu kebijaksanaan bahwa pemerintahan Stap Pasirah dipindahkan ke Dusun Galang Tinggi. Dusun Galang Tinggi konon ceritanya dibuat oleh Si Pahit Lidah. Setelah di dusun Galang Tinggi diadakan musyawarah dan hasil musyawarah itu terpilihlah Depati Jebah sebagai depati pertama di dusun Galang Tinggi. Lima tahun kemudian Jebah wafat dan digantikan oleh depati Renyab.

Di suatu desa yang bernama dusun Galang Tinggi, ada seseorang yang sangat sakti mandraguna karena apa yang diucapkannya akan menjadi nyata. Si Pahit Lidah namanya. Jika berucap menjadi batu maka gajah itu pun akan berubah menjadi batu dan banyak lagi kejadian yang lain.

Oleh karena itu, dia dijuluki si Pahit Lidah dan bukti-bukti peristiwa itu masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Di dusun Galing Tinggi ini kemudian ada pertarungan untuk memilih depati harus dengan keputusan musyawarah bersama, hingga terpilihlah Mentadi. Mentadi adalah saudara kandung ibu Depati Berdin yang bungsu Thalib Wali bernama Mentadi dipilih menjadi depati.

Mentadi

Setelah lebih kurang empat tahun Mentadi menjadi depati di Tanjung Menang, terjadi kemarau panjang selama sembilan bulan. Pada waktu itu kayu bergesekan maka keluarlah api. Pada saat itu pula Mentadi sedang membuat sebuah ladang ketika ia membakar ladangnya untuk dibersihkan ternyata api itu pun menyebar luas lalu membakar hutan-hutan dan kampung-kampung kecil sekitarnya. Ada dua rumah yang di dalamnya ada orang tua yang sedang sakit dan anak berumur dua tahun ikut terbakar dan meninggal dunia.

Karena peristiwa itu maka Depati Mentadi dijatuhi hukuman oleh hakim pada waktu itu. Dia dihukum selama tiga tahun penjara dan diberhentikan sebagai depati. Penjara (obak) itu dinamakan Macan Lindung. Akan tetapi Mentadi mempunyai sahabat karib yang bernama Marem Bubok dan Jamaer yang nama aslinya Tamsi.

Kedua sahabat Mentadi mengharap pengadilan akan menemani Mentadi selama dalam penjara. Pengadilan pun memperbolehkan. Akhirnya hukuman Mentadi diputuskan hanya satu tahun berkat bantuan sahabatnya itu. Setelaah Mentadi berhenti dari jabatannya sebagai depati, dari hasil musyawarah terpilihlah Betiah sebagai depati dan beliau digelari sebagai Depati Bungkuk. Sayangnya beliau ini buta huruf dan hanya bisa menjabat depati selama tiga tahun.

Semasa pemerintahan Depati Bungkuk, Palembang telah jatuh kepada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Depati Bungkuk berhenti. Hasil musyawarah terpilih kembali Mentadi sebagai Depati untuk jabatan selama dua puluh tahun. Pada masa kepemimpinan Depati Mentadi, pejabat-pejabat pemerintah Hindia Belanda datang ke dusun Tanjung Menang dan menanyakan mengapa nama dusun ini Tanjung Menang dan nama Pangkalannya adalah Pangkalan Bangsali. Depati Mentadi menerangkan bahwa dinamakan Tanjung Menang karena dusun ini telah berhasil memenangkan peperangan melawan Lanun (bajak laut) sedangkan Pangkalan Bangsali karena dibuat oleh Tuan Bangsali sendiri.

Setelah Pemerintah Hindia Belanda mendengar alasan yang dikemukan oleh Depati Mentadi, maka mereka mengadakan musyawarah untuk mengubah nama dusun Tanjung Menang menjadi Pangkalan Bali. Oleh karena dusun Tanjung Menang mempunyai Balai, maka namanya pun diubah menjadi Pangkalan Balai. Pangkalan Balai adalah pelabuhan Balai tempat pertemuan. Pangkalan Balai mempunyai arti tempat berlabuh yang digunakan untuk pertemuan-pertemuan. Itulah asal usul nama kota Pangkalan Balai.