Pengalaman Pertama Makan di Imperial Kitchen & Dimsum

Selesai bincang buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” pada Minggu (8/9), aku pun berhenti sejenak di Depok Town Square. Waktu telah menunjukkan pukul setengah lima lewat. Aku memutuskan early dinner karena nanti kalau sampai rumah, anak-anak tinggal lanjut tidur. Setelah berpikir sejenak, aku pun melangkahkan kaki ke Imperial Kitchen & Dimsum di Depk Town Square. Jujur, ini adalah pengalaman pertama makan di Imperial Kitchen & Dimsum.

Karena namanya “Imperial Kitchen & Dimsum”, jadilah wajib hukumnya makan dimsum. Aku sekeluarga belum pernah makan dimsum di restoran. Biasanya yang kubeli hanyalah dimsum murah yang dijual di gerobak. Harganya murah. Sepuluh ribu dapat tiga. Pernah juga makan dimsum di pesta nikahan. Rasanya hampir sama dengan dimsum yang di gerobak. Makanya, aku penasaran juga, bagaimana sih rasanya “dimsum beneran” yang dijual di restoran dengan spesialisasi dimsum seperti Imperial Kitchen & Dimsum?

Imperial Kitchen & Dimsum

Inilah dimsum yang kami pesan. Dimsum yang artistik, bukan? Dibentuk seperti burung bangau. Isinya sayuran dan udang. Teksturnya lembut dan rasanya memang terasa segar. Sayang, porsinya terlalu sedikit buat saya. Hehe.

Imperial Kitchen & Dimsum bukan cuma soal Dimsum

Kenapa pilihan makan early dinner jatuh ke Imperial Kitchen & Dimsum? Sebabnya sederhana. Anakku yang masih balita suka susah makan di luar. Aku pun mencari restoran yang menjual bubur. Biasanya ada Ta-Wan. Namun, di Depok Town Square tidak ada Ta-Wan, makanya kami mencoba ke Imperial Kirchen & Dimsum. Biasanya di restoran bernuansa oriental selalu menjual bubur.

Imperial Kitchen & Dimsum

Varian buburnya bisa sampai tiga rasa. Kami pilih yang satu rasa saja. Bubur ayam. Ada rasa lain seperti udang juga. Namun, karena kami nggak mau macam-macam dulu, biarlah dipilih rasa yang paling familiar yakni bubur ayam.

Kayaknya ada ciri khas cita rasa dari Imperial Kitchen & Dimsum yakni fresh. Bubur ayamnya juga terasa segar sehingga anakku makan tanpa penolakan sama sekali. Sesekali aku juga ikut mencicip. Hanya sayangnya, cakuenya terlalu garing. Mungkin hanya soal selera, tapi aku lebih suka cakue yang lembut,

Imperial Kitchen & Dimsum

Nasi goreng Yangchow  juga enak sekali. Di atasnya ada daging ikan yang lembut. Teksturnya mirip dengan ikan dori. Namun tidak tahu apa nama ikannya. Yang seperti burung itu adalah telur yang digoreng kering. Nasi goreng ini juga cocok buat lidahku. Anakku yang pertama bahkan ikut rebutan makan nasi goreng Yangchow ini. Enak katanya.

Imperial Kitchen & Dimsum

Menu lain yang kupesan adalah ayam goreng saung jeruk. Yang unik, bentuknya bulat-bulat kayak chicken ball. Saus jeruknya terasa asam manis. Suapan pertama membuatku mendapatkan pengalaman rasa yang baru. Jujur, aku menyukainya. Anakku juga suka. Namun, setelah makan yang ke-3, anakku bilang, rasanya terlalu manis sehingga kalau kebanyakan jadi berasa kurang enak.

Aku menyetujuinya. Hal itu kemudian kusiasati dengan menambahkan sambal sehingga campuran antara rasa asam, manis, dan pedas menjadi satu kesatuan. Aku suka sekali.

Minumnya aku memesan teh krisan panas. Disajikan dalam teko kecil. Satu teko untuk kami saja masih bersisa.

Sungguh tidak menyesal bisa mendapatkan pengalaman makan di Imperial Kitchen & Dimsum. Total yang kuhabiskan untuk makan malam dini ini tidak sampai 150 ribu. Kami makan berempat. Puas rasanya.

Resep membuat tekwan

Resep Membuat Tekwan

Tekwan adalah salah satu masakan khas Palembang. Adonannya mirip dengan pempek, sama-sama berbahan dasar ikan (utamanya ikan tenggiri). Hanya saja, tekwan lebih pas bila disebut “sup pempek” karena kuahnya seperti kuah sup berkaldu udang yang menghangatkan badan. Resep membuat tekwan ini sebenarnya cukup mudah lho.

Resep Membuat Tekwan

Untuk membuat tekwan, pertama kita harus bagi bahan menjadi tiga bagian yaitu, bahan untuk membuat tekwan, bahan untuk membuat kuah, dan bahan pelengkap.

Bahan untuk membuat tekwan

250 gr ikan tenggiri giling
250 gr sagu tani
1 sdm garam
200 ml air

Bahan untuk membuat kuah

1000 ml air
5 siung bawang merah
100 gr udang cincang
3 siung bawang putih
1/2 sdt lada bubuk
jamur kuping hitam
sedap malam
daun bawang iris
bengkuang (potong korek api)

Bahan Pelengkap

daun sop
cabe rawit giling
bawang goreng
kecap manis
Jeruk nipis
kecap asin
Sohun
Mentimun, potong kecil-kecil

Cara Membuat Tekwan

  • Langkah pertama, Campur ikan beserta garam serta air.Lalu aduk hingga terlihat mengembang. Kemudian
    tambahkan sagu, setelah itu masukkan adonan sedikit demi sedikit ke dalam air mendidih hingga terlihat mengapung, lalu diangkat.
  • Selanjutnya, untuk membuat kuah. Pertama,  tumis bawang merah beserta bawang putih yang sebelumnya telah dicincang hingga harum. Lalu masukkan udang cincang beserta bengkuang, sedap malam, daun bawang dan jamur kuping. Kemudian masukkan hasil tumisan ke dalam air mendidih. Setelah itu hidangkan tekwan dan kuah bersama dengan bahan pelengkap sesuai seleramu.

Gampang ‘kan? Jadi ayok, bikin tekwan sendiri di rumah.

 

Bali Niksoma

Makan di Bali Niksoma & Soal Wisata Halal

Dalam rangkaian acara Danone Blogger Academy 2019 lalu, aku berkesempatan mencicipi makanan di Bali Niksoma. Bali Niksoma terletak di Jalan 69, Seminyak. Di depannya tersaji pantai yang bersih dan tidak terlalu ramai.

Kami mengadakan acara inagurasi, penutupan DBA 2019 di tempat tersebut. Aku beruntung bisa diikutsertakan dalam DBA kali ini bersama 10 peserta lain yang keren-keren. Posisiku hanya sebagai alumni DBA sebelumnya yang mencoba membantu mereka mengerjakan outline tugas akhir.

Aku mengernyit sebenarnya saat melihat menu yang diperlihatkan ke kami sejak siang di hotel. Menu ini akan kami makan buat dinner. Early dinner sebenarnya karena maghrib kami sudah harus berangkat ke bandara.

Lihat saja makanan pembukanya. Vegetables Spring Roll dan Caesar Salad. Aku memilih Caesar Salad karena aku belum pernah makan salad. Nggak suka. Tapi karena ini di Bali, sekalian saja aku mencoba pengalaman baru makan salad. Untuk menu utamanya, aku memilih Aglio Olio. Meski sebenarnya aku kepengen sekali makan Mahi-mahi. Sayang di situ tertera “white wine”. Aku takut itu haram.

Menu datang satu per satu. Mulanya appetizer datang. Salad terhidang di meja.

Caesar Salad

Jadi beginilah bentuk Caesar Salad itu. Yang dimaksud dengan Prawn in weet potato coat adalah seekor udang goreng yang dibalut sehelai ubi ungu seakan-akan udang tersebut memakai jaket. Indah kelihatannya, tapi buat orang Indonesia sepertiku, sepertinya ada aroma yang asing. Mungkin kejunya atau apanya. Entahlah.

Aglio Olio

Hidangan utamanya adalah Aglio Olio. Yang tidak kusangka adalah porsinya besar sekali. Wah, ini tidak sesuai dengan teori “Isi Piringku” karena seharusnya karbohidratnya cukup sepertiga porsi saja, ditambah sepertiga protein, dan sepertiganya lagi sayur dan buah. Proteinnya yang kurang. Aku tadinya berharap ada suwiran ayam atau ikan yang lumayan banyak di Aglio Olio ini.

Meski rasanya enak, tetap saja ada aroma yang asing buatku. Hatiku agak tak nyaman karenanya.

Kuliner dan Wisata Halal

Wisata Halal

Baru-baru ini ramai soal Wisata Halal. Banyak yang masih salah kaprah dalam wisata halal ini, baik yang mendukung maupun yang kontra. Padahal Wisata Halal sebenarnya adalah terminologi pariwasata dalam memarketing toleransi.

Misalnya, dalam kasus Bali, yang banyak hotel dan restonya juga menyediakan babi dan wine. Ketika konsep wisata halal diterapkan, maka di hotel dan resto tersebut akan menerapkan SOP yang terpisah soal memasak makanannya. Sebab, kehalal-dan-haraman suatu makanan bukan cuma karena tidak makan babi atau minum wine, melainkan juga dalam prosesnya, alat masaknya tidak tercampur dengan alat yang digunakan untuk memasak babi dan wine.

Boleh jadi ketidaknyamananku keliru. Aroma yang kuhidu saat memakan makanan itu, yang asing itu, kucurigai berasal dari sesuatu “yang berbeda”.

Seorang teman kemudian tahu ketidaknyamananku dan menyuruhku mengonfirmasi. Namun kukatakan padanya, “Kalau kita nggak tahu, kita nggak dosa saat memakan ini semua. Tapi kalau tahu, kan jadi nggak boleh makan….” Wakakaka.