Petani Garam di Desa Kusamba

Tidak banyak orang yang tahu bahwa di Bali, tepatnya di Kabupaten Klungkung, ada Desa Kusamba yang menjadi sentra pembuatan garam secara tradisional yang dilakukan turun-temurun. Garam yang dihasilkan pun berkualitas tinggi, putih bagai kristal, dan diakui kualitasnya hingga ke Jepang. Karena kualitasnya yang baik ini, maka harganya pun relatif lebih mahal dibandingkan garam-garam yang biasa kita temukan di toko atau warung-warung.

Uniknya, petani garam di Kusamba masih mempertahankan cara-cara tradisional untuk proses pembuatannya, tanpa bantuan mesin sama sekali. Semua dilakukan dengan manual / tenaga manusia. Adapun yang menjadi faktor pendukung utama pengolahan garam secara tradisional adalah : sinar matahari. Para petani garam hanya bisa berproduksi pada saat musim panas atau saat ada cahaya matahari. Pada saat musim hujan, produksinya akan turun.

Proses pembuatannya secara garis besarnya begini :

Petani garam pergi ke pantai dengan membawa semacam pikulan dua ember besar, terbuat dari daun kelapa, kemudian mengisi ember tersebut dengan air laut, dan selanjutnya dibawa ke “sawah” mereka yang berupa sepetak area pantai yang berpasir hitam, yang tidak jauh dari lokasi mereka mengambil air laut tadi. Air laut di dalam ember yang mereka ambil tadi kemudian disebarkan/disiramkan secara merata di sawah mereka. Proses penyiraman ini dilakukan sebanyak 3 atau 4 kali. Jadi bolak balik, laut – pantai – nyiram.

Kemudian, sawah berpasir yang sudah disiram air laut tadi dibiarkan terjemur panas matahari, sekitar 3 sampai 4 jam, hingga sampai terbentuk semacam kristal-kristal garam. Kemudian, pasir tersebut diambil dan dibawa ke dalam gubuk yang ada di lokasi untuk selanjutnya dilakukan proses penyaringan dan disiram lagi dengan air laut dan ditaruh dalam wadah khusus. Air hasil penyaringan tadi kemudian dijemur dibawah terik matahari dan ditempatkan di sebuah wadah khusus yang panjang, yang terbuat dari pohon kelapa yang dibelah, yang tengahnya dibuat cekungan sehingga bisa menampung air hasil saringan tadi. Setelah dijemur beberapa waktu lamanya, airnya akan menggumpal, mengeras, dan setelah dikeruk akan menjadi butiran kristal garam.

Kurang lebih demikianlah proses pembuatannya.

Petani garam bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, generasi muda disana sudah jarang yang mau menekuni profesi ini. Yang saya temui pada saat saya memotret ke desa Kusamba ini hanyalah mereka yang usianya sudah tidak muda lagi.

Apakah profesi ini masih akan bisa bertahan kedepannya? Saya tidak bisa menjawabnya.

Oleh: Yogi Raharja
Tulisan diambil dari Grup Trilogi Indonesia

Kesamaan Batik dan Tato

TATO dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Inggris TATTOO, sedangkan istilah tersebut berasal dari bahasa Polinesia (yang berada di Samudra Pasifik), yaitu TATAU. Polinesia adalah negeri kepulauan di sebelah timur Papua; penduduknya pun masih keturunan bangsa Austronesia. Bahasa Polinesia juga masih bersaudara dengan bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Tagalog, dll.

Kapten James Cook diyakini sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah “tatau” ke Eropa. Ia pertama kali melihat “seni melukis pada tubuh” di Tahiti, Polinesia. Makna harfiah “tatau” adalah “to strike”. Kata kerja “to strike” bisa bermakna “menyerang” atau “mencoret”. Dalam bahasa Jawa, ada yang mirip dengan “tatau”, yaitu “tatu”. Secara harfiah, kata “tatu” dalam bahasa Jawa bermakna “luka” atau “goresan”.

Apakah ada hubungan antara kata “tatau” (Polinesia), yang bermakna mencoret, dengan kata “tatu” (Jawa), yang bermakna goresan? Saya hanya berhenti pada tahap hipotesis saja. Biarlah para pakar linguistik yang meneliti soal ini.

Jadi, kata TATAU sebenarnya berhubungan dengan “proses mencoret tubuh”, sedangkan hasil coretannya dalam bahasa Proto-Melayu-Polinesia disebut BETIK atau BATIK. Misalnya, coretan tubuh pada bahasa Tagalog, Filipina, (keturunan bahasa Melayu-Polinesia juga) disebut BATOK, sedangkan ahli pembuatnya disebut MAMBABATOK.

Hipotesisnya:

– “Batik” yang makna aslinya “gambar atau coretan pada tubuh” kemudian dialihkan menjadi “gambar pada kain”.
– Bahasa Tagalog masih menggunakan kata “batok” untuk menyebut “gambar pada tubuh”, sedangkan ahlinya disebut “mambabatok”.
– “Tatau” yang makna aslinya “proses membuat gambar pada tubuh” diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “tattoing”, sedangkan hasil karyanya disebut “tattoo”.
– “Tatau” mirip dengan bahasa Jawa “tatu”, yang bermakna “luka” atau “goresan”. Mungkin masih ada hubungannya.

Sekali lagi, itu semua hanya hipotesis. Masih perlu diselidiki kebenarannya.

Penulis: Purwanto Heri.

Kbal Sapean, River of Thousand Linggas

Kbal Spean

Di ulu sungai ada ukiran Brahma sebagai sang pencipta, dan pas air terjun diukir dengan Wisnu dengan kisah avatar dan dilanjutkan dengan ukiran beribu-ribu lingga setelah air terjun pertama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan dan tempat ruwatan yang sangat sakral sampai sekarang.

Kbal Spean begitulah daerah ini dikenal. Ini adalah salah satu sungai di Angkor yang airnya sangatlah jernih. Dasar dari sungai ini telah diukir dengan beribu ribu lingga dan kedua sisinya juga diukir dengan berbagai ukiran dari jaman keemasan raja raja Khmer pada waktu itu yaitu raja Suryawarman I dan raja Udayadityawarman II sekitar abad 11-12 Masehi. Daerah ini sekarang dikenal denga ‘River of Thousand Linggas’.

Belajar “Kawin Culik” dari Dusun Sade, Lombok

“Proses pernikahan di sini, Pak, tidak ada yang namanya lamaran sebelumnya. Kita memiliki tradisi kawin culik.

Kutajamkan pendengaranku lagi. Mungkin aku salah dengar. Tapi sang pemandu mengulanginya lagi. Kawin culik. Ya, kawin culik.

Kalau liburan ke Lombok, jangan lupa datanglah ke Dusun Sade. Dusun Sade yang terletak di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah (tidak jauh dari Bandara Praya) ini memiliki tradisi yang unik. Salah satunya, sang calon suami harus menculik calon istrinya. Sang perempuan kemudian diinapkan di kediaman keluarga atau kerabatnya di luar desa.

Bila berhasil sampai matahari terbit lagi tanpa ditemukan oleh keluarga sang perempuan, maka kedua pasangan ini harus dinikahkan. Sebelumnya, pihak pria akan meminta keluarga atau kepala dusun untuk memberikan informasi ke keluarga wanita, bahwa anaknya sudah diculik.

Lalu, kedua pihak keluarga akan menjalani adat ‘Selabar’, ‘Mesejati’, dan ‘Mbait Wali’, yaitu proses meminta izin pernikahan dari pihak pria ke wanita.

Proses penculikannya pun lebih unik lagi. Penculikan ini direncanakan oleh kedua belah pasangan. Mereka sebelumnya sudah berpacaran. Penculikan akan dibantu oleh beberapa kerabat dari pihak laki-laki dan tidak boleh ketahuan oleh keluarga perempuan. Jika ketahuan, penculikan pun batal.

Pohon Cinta. Dokumentasi pribadi.
Pohon Cinta. Dokumentasi pribadi.

Tidak ada rekayasa sedikit pun dari pihak keluarga perempuan. Penjagaan di rumah pihak perempuan pun sekarang sangat ketat. Menurut pemandu, sudah tidak mungkin lagi sekarang menculik anak gadis dari dalam kediamannya.

Karena itu, biasanya mereka janjian di sebuah pohon di tengah desa. Sebatang pohon nangka tanpa daun berdiri di sana. Pohon ini kini disebut sebagai Pohon Cinta, karena menjadi tempat pertemuan sebelum kawin culik dilaksanakan.

Karena sifat dasarku yang kepo, aku bertanya lagi, “Pernah tidak, ada kawin culik yang tidak dilandasi suka sama suka?”

Ternyata pernah. Meski sulit, hal itu pernah terjadi. Pihak keluarga akan menikahkan jika kedua pasangan masih dalam satu kakek. Jika di luar itu, akan ribet.

okumentasi pribadi
Dusun Sade adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya) dusun yang masih menjaga adat Sasak dengan teguh. Sasak adalah suku asli di Lombok yang berarti rumpun bambu. Karena itulah, rumah-rumah di Sade semuanya terbuat dari bambu.

Bangunan rumah di Sade sangat tradisional. Dindingnya bambu beratapkan alang–alang, dan beralaskan tanah liat. Lantainya itu sama sekali tidak memakai semen.

Percaya atau tidak, perekat pengganti semen itu adalah tahi kerbau, yang dioles (seperti dipel) seminggu sekali. Bangunan ini disebut dengan bale dan dikategorikan menjadi delapan bagian yaitu Bale Jajar Sekenam, Bonter, Bale Tani, Beleq, Tajuk, Bencingah dan Berugag.

Pintu rumah adat itu dibuat rendah agar setiap tamu yang datang menghormati pemilik rumah, ruangan depan atau bale luar adalah untuk menerima tamu dan sebagai tempat tidur laki-laki sedangkan bale dalam diperuntukkan tempat tidur wanita dan sebagai tempat melahirkan. Untuk mencapai bale dalam, kita harus menaiki 3 anak tangga yang mencerminkan kehidupan, yaitu, dilahirkan, berkembang, dan meninggal.

Bale tani, tempat menyimpan beras. Dokumentasi pribadi.
Bale tani, tempat menyimpan beras. Dokumentasi pribadi.

Kurang-lebih sudah 200 tahun dusun ini menjaga tradisi mereka. Satu dusun ini masih satu kerabat (leluhur). Mata pencaharian utama mereka bertani. Namun, Lombok Tengah terbilang sulit air, sehingga masa tani mereka hanya sebanyak 4 bulan dalam satu tahun mengikuti musim hujan dari Januari-April.

Pihak perempuan di Dusun Sade terkenal dengan keahliannya membuat kain tenun. Kurekomendasikan banget buat membeli kain tenun dari Sade karena bukan hanya kain, kain tenun ini menurutku adalah barang seni sekaligus barang budaya, bahkan sejarah. Pembuatannya masih serba manual, bahkan dari pembuatan benangnya dibuat dari kapas langsung.

Begitu pun proses menenunnya dan pewarnaannya masih dari pewarna alami. Harganya memang relatif lebih mahal dari “kain Lombok” di pasaran. Namun, buatku, itu terasa murah karena nilai yang ada di baliknya.

Kain tenun dan berbagai motifnya ini punya peran penting dalam perkawinan di Lombok. Jadi, kain tenun ini akan menjadi semacam mas kawin yang harus diberikan. Jumlahnya ada 25 motif. Namanya ajikrame.

Kira-kira saya beli yang mana? Dokumentasi pribadi.
Kira-kira saya beli yang mana? Dokumentasi pribadi.

Beda halnya jika perkawinan terjadi antara desa yang berbeda. Laki-laki Sade diperbolehkan mencari pengantin dari luar Sade, namun di Lombok ada adat tagih-menagih bila perkawinan beda keluarga terjadi. Seperti halnya potong kerbau.

Laki-laki Sade juga diperbolehkan merantau, sedangkan perempuan tidak. Rata-rata tingkat pendidikan perempuan Sade pun hanya sebatas SMP. Mereka sudah diajari menenun sejak usia 8-9 tahun. Rata-rata usia pernikahannya pun sangat muda yakni 15 tahun bagi perempuan dan 17 tahun bagi laki-laki.

Kalau feminis pasti gatal buat mengkritik. Tapi kita harus menghormati bagaimana teguhnya pendirian orang-orang Sade menjaga adat mereka.

Buat yang hendak ke Sade, biaya masuknya hanya Rp 25.000. Kita akan ditemani pemandu yang dibayar seikhlasnya. Ia akan menemani kita keliling Sade dan menjelaskan segala seluk beluknya. Jangan segan bertanya.

Dan biasanya ia akan mengajak kita ke toko keluarganya untuk melihat berbagai jenis kain mulai dari bahan batik, songket, sarung, dan kain tenun. Semuanya alami. Harga kain-kain itu mulai 150 ribu – 700 ribu. Aku sarankan untuk membelinya. Selain bagus dan bernilai, kalau ada rejeki, tak ada salah kita membantu mereka.

Selong Belanak. 15 menitan dari Sade.
Selong Belanak. 15 menitan dari Sade.

Begitulah salah satu catatan perjalananku ke Lombok pada Sabtu kemarin. Lombok tak cuma alamnya yang indah. Kita juga bisa melakukan wisata budaya, mengenali saudara sebangsa kita dari Suku Sasak.