Dari Damar Hingga Pinang: Identitas Sejarah Sungai Musi di Palembang

Kapal-kapal kecil terapung di depan Benteng Kuto Besak. Jembatan merah yang megah kokoh berdiri, sabar menanti kereta LRT melintas tanpa hambatan. Di bawahnya, kapal-kapal besar bersedia merendahkan diri di hadapan Ampera. Itulah lanskap yang dapat dengan mudah disaksikan bila kita tengah menikmati Sungai Musi.

Menyaksikan pemandangan seperti itu, terkadang ada pikiran berkelana ke masa lalu. Tentang hal yang sampai kini diperdebatkan—di manakah pusat Kerajaan Sriwijaya berada? Sebagian ahli berpendapat, pusatnya berada di sisi Sungai Musi mengingat berbagai pusat peradaban kebanyakan berada di sisi sungai-sungai besar seperti peradaban Mesir kuno di sisi Sungai Nil atau peradaban Hindustan di tepi Sungai Gangga.

Sungai yang memiliki panjang sekitar 750 meter itu tentu saja menyimpan banyak kisah, yang nyata maupun legenda. Kisah Tan Bun Ann dan Siti Fatimah melahirkan Legenda Pulau Kemaro. Dan gelombang sungai yang memiliki sembilan anak sungai itu punya cerita tersendiri mengenai rempah-rempah.

Batanghari Sembilan namanya, merujuk kepada 9 anak sungai musi, yaitu Sungai Kelingi, Sungai Bliti, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai Rupit, Sungai Lematang, Sungai Leko, Sungai Ogan, dan Sungai Komering. Di sinilah, lalu lintas perdagangan itu terjadi. Masyarakat yang menetap di Sungai Musi dan sembilan anaknya itu berasal dari berbagai suku bangsa di Nusantara, yang membaur dengan masyarakat lokal yang membuat marak perdagangan.

Salah satu yang didagangkan saat itu adalah rempah damar. Begitu populernya damar saat itu, sampai-sampai ada suku yang dinamakan Pedamaran, untuk menyebut orang-orang yang dulu berkumpul untuk mencari damar.

Pohon damar tersebut diambil getahnya yang kemudian diolah menjadi kopal yang menjadi bahan dasar berbagai hal seperti pelapis kertas atau vernis.  Sevenhoven mencatat pada 1821-1822 rempah dibawa melalui jalur sungai untuk dijual di sejumlah pasar di Palembang, salah satunya ke Pasar Sekanak. Pasar Sekanak itu masih bertahan hingga kini dan menjadi pasar tertua di Palembang yang juga menjadi cagar budaya yang dilestarikan oleh Pemerintah. Di sana masih terdapat banyak sekali bangunan tua yang masih kokoh berdiri berupa gedung toko atau gudang dengan arsitektur zaman kolonial penjajahan Belanda dan Jepang.

Bangunan Tua di Pasar Sekanak tempo dulu. Sumber gambar: Infopublik Palembang

Sulit memang membayangkan bahwa di sekitar Sumatra Selatan terdapat pohon damar. Pertanian di Sumatra Selatan kini telah tergantikan dengan dominan karet dan sawit.

Namun, arkeolog dari Balar Sumatera Selatan meneliti dan menemukan banyak getah damar berusia ratusan hingga seribuan tahun di situs sejarah terkait Kedatuan Sriwijaya di wilayah pesisir timur Sumatera Selatan. Misalnya di wilayah Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Banyuasin. Dalam penelitian tersebut ditemukan banyak wadah berbentuk mangkok yang diyakini sebagai tempat pengolahan getah damar, meskipun belum jelas apakah wadah itu digunakan mengelola damar untuk kepentingan pembuatan perahu dan kapal atau ritual. Di beberapa daerah hulu anak sungai Musi itu juga ditemukan hutan damar yang masih tersisa seperti di daerah Danau Ranau yang merupakan hulu dari Sungai Ogan.

Pohon damar ini selaiknya harus dipertahankan di Sumatra Selatan karena memiliki nilai sejarah Kedatuan Sriwijaya.

Jika pohon damar hilang, maka selain hilangnya sejumlah tradisi, hilang juga satu kosa kata Bahasa Indonesia. Apalagi tradisi terkait damar erat dalam pembuatan perahu dan kapal kayu yang juga diiringi dengan sedekah sungai.

Tradisi pembuatan kapal itu masih dapat dijumpai di beberapa daerah seperti Sungai Rawas, Sungai Lakitan, Kayuagung, Cengal, Tulungselapan, dan pinggiran Kota Palembang. Dalam pembuatan kapal, getah damar tersebut bermanfaat untuk menutupi pembatas antar-papan perahu atau kapal. Dan bila terjadi kebocoran perahu, getah damaar dapat menambal kebocoran tersebut. Sedangkan tradisi sedekah sungai dilakukan dengan membakar getah damar laiknya kemenyan. Peninggalan kepercayaan lama di Sungai Musi membuat sebagian masyarakat masih percaya adanya makhluk halus yang hidup di sungai Musi. Sedekah sungai tersebut, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, juga diniatkan untuk media komunikasi kepada para makhluk halus tersebut agar tidak mengganggu manusia.

Perahu dan kapal kayu tersebut adalah identitas yang harus dijaga bahwa banyak hal dari Sumatra Selatan dimulai dari sungai. Dan karena itu, sungai Musi beserta anak-anaknya harus dijaga kelestariannya. Jangan sampai dirusak hingga suatu saat menghilang.

Yang menarik juga adalah nama damar itu sendiri. Bila mengunjungi Sumatra Selatan, kita akan menemukan bahwa daerah ini memiliki perbedaan bahasa atau dialek antar daerah. Perbedaaan itu bahkan begitu kental. Tapi, nama damar diterima di mana-mana sebagai kata tunggal yang sama. Tidak ada perbedaan dalam penyebutannya. Hal tersebut berbeda dengan penamaan lada yang punya sinonim sahang dan merica.

Ini menunjukkan setidaknya keharmonisan dalam perdagangan di masa lalu dari berbagai entitas yang ada di masing-masing anak sungai, bahkan yang berasal dari luar Sumatra, mengingat kata damar sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti lampu atau sesuatu yang mengeluarkan cahaya/api.

Damar hanya salah satu rempah yang memiliki jejak sejarah penting dalam masa kekuasaan Sriwijaya. Sungai sebesar Musi tentu saja memiliki banyak perdagangan rempah lain.

Lada misalnya, juga menjadi salah satu komoditas penting dalam masa Kesultanan Palembang Darussalam. Buktinya tercantum dalam sebuah layang piagam (perjanjian yang ditulis di atas logam) yang berisi tentang aturan sultan mengenai penanaman lada dan mekanisme perdagangannya. Layang Piagam tertua yang ada dikeluarkan oleh Sultan Abdurrahman yang berkuasa dari 1662-1706 M.

Kisah lainnya datang dari pinang. Sebelum abad ke-9, banyak ditemukan pohon pinang di sepanjang Sungai Komering. Di sana, banyak pedagang dari India datang. Saudagarnya yang paling terkemuka bernama Komring Singh. Saudagar tersebut wafat di sana sehingga daerah tersebut diberi nama Komering.

Ya, Batanghari Sembilan mencapai puncak perdagangan rempah diperkirakan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1821). Hasil perkebunan seperti lada, beras, dan kapas di Sungai Lematang; beras, lada, dan rotan di Sungai Ogan; serta lada, pinang, dan beras di Sungai Komering dan Banyuasin. Sevenhoven pun mencatat berbagai harga rempah dalam bukunya Lukisan tentang Ibukota Palembang:  lada panjang 10 buah dengan harga 0,06 gulden, lada biasa 1,5 gantang 0,06 gulden, kunyit segantang 0,075 gulden, jintan sekati 0,10 gulden, jahe muda seikat 0,05 gulden, daun sirih 50 helai 0,025 gulden, dan pinang 10 buah 0,025 gulden.

Sayangnya, peran sungai itu kemudian memudar seiring dengan runtuhnya Kesultanan Palembang. Penjajahan Belanda membuat hutan damar dibabat dan digantikan perkebunan karet dan kopi. Jalan-jalan darat dibangun hingga wilayah pedalaman Sumatra Selatan sehingga keberadaan sungai pelan-pelan ditinggalkan.

Begitulah, Sumatra Selatan (Palembang khususnya) bukan hanya tentang pempek. Melihat air surut dan pasang di Sungai Musi ternyata juga ada kisah yang dulu terkemuka, lalu kini perlahan menghilang. Tidak cukup menyeruput cuka, kuah pahit, asam dan kental, ada banyak kisah yang bisa dipelajari di Sumatra Selatan. Dan jejak rempah Indonesia hanyalah salah satunya—jejak yang harus kita telusuri kembali untuk melihat sebuah peradaban—bahkan bagaimana peradaban itu dimulai.

(2021)

One Reply to “Dari Damar Hingga Pinang: Identitas Sejarah Sungai Musi di Palembang”

Leave a Reply

Your email address will not be published.