TATO dalam bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Inggris TATTOO, sedangkan istilah tersebut berasal dari bahasa Polinesia (yang berada di Samudra Pasifik), yaitu TATAU. Polinesia adalah negeri kepulauan di sebelah timur Papua; penduduknya pun masih keturunan bangsa Austronesia. Bahasa Polinesia juga masih bersaudara dengan bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Tagalog, dll.

Kapten James Cook diyakini sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah “tatau” ke Eropa. Ia pertama kali melihat “seni melukis pada tubuh” di Tahiti, Polinesia. Makna harfiah “tatau” adalah “to strike”. Kata kerja “to strike” bisa bermakna “menyerang” atau “mencoret”. Dalam bahasa Jawa, ada yang mirip dengan “tatau”, yaitu “tatu”. Secara harfiah, kata “tatu” dalam bahasa Jawa bermakna “luka” atau “goresan”.

Apakah ada hubungan antara kata “tatau” (Polinesia), yang bermakna mencoret, dengan kata “tatu” (Jawa), yang bermakna goresan? Saya hanya berhenti pada tahap hipotesis saja. Biarlah para pakar linguistik yang meneliti soal ini.

Jadi, kata TATAU sebenarnya berhubungan dengan “proses mencoret tubuh”, sedangkan hasil coretannya dalam bahasa Proto-Melayu-Polinesia disebut BETIK atau BATIK. Misalnya, coretan tubuh pada bahasa Tagalog, Filipina, (keturunan bahasa Melayu-Polinesia juga) disebut BATOK, sedangkan ahli pembuatnya disebut MAMBABATOK.

Hipotesisnya:

– “Batik” yang makna aslinya “gambar atau coretan pada tubuh” kemudian dialihkan menjadi “gambar pada kain”.
– Bahasa Tagalog masih menggunakan kata “batok” untuk menyebut “gambar pada tubuh”, sedangkan ahlinya disebut “mambabatok”.
– “Tatau” yang makna aslinya “proses membuat gambar pada tubuh” diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “tattoing”, sedangkan hasil karyanya disebut “tattoo”.
– “Tatau” mirip dengan bahasa Jawa “tatu”, yang bermakna “luka” atau “goresan”. Mungkin masih ada hubungannya.

Sekali lagi, itu semua hanya hipotesis. Masih perlu diselidiki kebenarannya.

Penulis: Purwanto Heri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *