Kesenian Sunda Buhun

Mengenal Tutunggulan, Kesenian Sunda Buhun

Tahukah kamu, buhun adalah ajaran kuno para leluhur Sunda pra-Hindu dan sudah ada jauh sebelum agama-agama dari daratan Asia masuk ke kepulauan Nusantara. Nah, Sunda Buhun punya nilai kesenian. Salah satu kesenian Sunda Buhun yang masih bisa kita saksikan saat ini adalah Tutunggulan.

Kata tutunggulan berasal dari kata “nutu” yang artinya “menumbuk” sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Hal ini tidak terlepas dari masyarakat Sunda yang dominan agraris.

Seni Tutunggulan

Memang, kesenian Tutunggulan ini sepintas mirip dengan Kesenian Gondang. Hanya saja ada perbedaannya. Di dalam Kesenian Tutunggulan, tidak ada iringan lagu-lagu atau pantun yang bersautan-sautan. Seni Gondang sebaliknya, selalu menggunakan lagu-lagu dan sisindiran yang isinya menggambarkan kegembiraan masyarakat petani dan sisindiran terhadap perilaku para pengagung yang memberlakukan lingkungan seenaknya. Persamaan keduanya, alat dan sarana yang digunakannya sama, yaitu halu dan lisung.

Filosofi Kesenian Tutunggulan

Ada filosofi khusus di dalam kesenian tutunggulan. Salah satunya adalah gotong royong yang juga mewakili sikap kekompakan, kepedulian, dan ketertiban. Bila diperhatikan lebih dalam, kita akan melihat keikhlasan para tetangga yang bersukarela dan saling membantu sambil ber-tutunggulan, sedangkan nilai gotong-royong atau ketertiban tercermin dalam ber-tutunggulan itu sendiri. Dalam hal ini antar pemegang halu harus tahu persis kapan harus menumbuknya, sehingga tidak terjadi benturan antar penumbuk lainnya.

Fungsi Tutunggulan

Tutunggulan berfungsi sebagai alat komunikasi, sebelum berkembang menjadi sebuah kesenian. Ketika telah menjadi sebuah kesenian, fungsi komunikasi masih tetap ada, yaitu sebagai pemberitahuan bahwa calon pengantin laki-laki telah tiba. Ini artinya, kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi sekaligus juga sebagai hiburan.

Baca Juga: Pepatah Sunda Buhun dan Artinya

Pementasan Seni Tutunggulan

Untuk para pemain tutunggulan semuanya perempuan. Jumlahnya terdiri 8 orang, dengan rincian sebagai berikut:

  • Dua orang pemegang alu-indung yang bertugas sebagai angeran wiletan (ketukan),
  • Satu orang pemegang halu-koprek yang bertugas memainkan ketukan, 1 orang pemegang halu-mamanis yang bertugas memberi ornamen pada halu koprek, sehingga dapat terdengar bersahutan.
  • Untuk dua orang pemegang halu-ngalima mempunyai tugas memainkan tabuhan lagu.
  • Sedangkan untuk dua orang lagi yaitu sebagai pemegang nyiru yang berisi beras (Bangsal).

Untuk pakaian yang dikenakan adalah pakaian sehari-hari yang berupa sinjang, kain kebaya, dan tutup kepala (kerudung/samping).

Kesenian Tutunggulan biasa dimainkan dalam memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tutunggulan juga dipentaskan pada kegiatan yang berkenaan dengan khajatan, khususnya perkawinan, dan juga upacara penyimpanan padi ke lumbung.

Leave a Reply

Your email address will not be published.