Wisata Brang Bako yang Eksotis

oleh Randal Patisamba

“Di balik foto-foto yang indah tentang sebuah tempat yang keren, butuh perjuangan untuk mencapainya.”

Kalimat di atas begitu pas menggambarkan perjalanan saya Sabtu Kemarin (16/11/19) bersama rekan Adventurous Sumbawa dan Pokdarwis Dararambado mengeksplorasi potensi pariwisata kawasan Tero dan Brang Bako di Desa Jotang Beru, Kecamatan Empang Sumbawa. Kondisi jalan yang belum beraspal disertai tanjakan yang cukup ekstrim menjadi tantangan tersendiri menuju kedua kampung ini.

Tujuan utama kami yaitu Kampung Brang (sungai) Bako (bakau). Sebuah perkampungan kecil di bagian paling selatan pulau Sumbawa yang hanya dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga. Rasa penasaran saya tentang kampung ini begitu besar, selain hutannya yang masih lebat juga memiliki garis pantai cukup panjang, berpasir putih, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Wilayah Brang Bako dan sekitarnya pernah menjadi lokasi syuting beberapa program TV swasta nasional.

Dari Desa Jotang Beru, mobil ranger yang kami tumpangi melesat di atas jalan beraspal. Matahari lumayan terik. Awal Bulan Nopember seperti sekarang ini, musim kemarau lagi panas-panasnya. Hujan pun tak kunjung turun. Setelah 3 kilometer lebih, kondisi jalan mulai menanjak, berkerikil, disertai batuan lepas dan berdebu. Tanjakan pertama yang cukup miring, si ranger agak kesulitan menaklukkannya. Setelah beberapa kali percobaan, baru kemudian berhasil. Benar-benar the real adventure.

Sebenarnya jarak ke Brang Bako tidak terlalu jauh, cuma sekitar 20-an kilometer, namun karena medan jalannya lumayan parah, perjalanan jadinya agak lama. Satu hal yang bikin saya sedih, di kiri kanan jalan, bukit-bukit sudah gundul, terbabat habis akibat jagungnisasi. Cuma di beberapa titik kondisi  hutannya masih cukup lebat. Bisa dibayangkan betapa sejuknya perjalanan kami seandainya hutan di sekitar masih terjaga dengan baik.

Kampung pertama yang kami jumpai yaitu Dusun Tero. Penduduknya sekitar 90-an jiwa. Berada di dataran sebuah lembah subur yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Di sini terdapat sebuah pantai berpasir putih bernama Dara Belang. Pantai yang sangat indah. Bersih berpasir putih. Jangan tanya jaringan seluler di sini karena kita sudah memasuki area blank spot. Otomatis hanya bisa berkomunikasi lewat radio.

Dari kampung Tero rute perjalanan kembali menanjak. Terdapat sebuah tanjakan yang cukup bikin sport jantung. Orang setempat menyebutnya Paruak Setekuk. Dari puncak tanjakan Satekuk nun jauh di sana keelokan ombak Dara Belang menghampiri pantai dengan genitnya. Tak jauh dari Paruak Satekuk terdapat spot paralayang. Angin yang relatif stabil, hamparan pasir putih pantai Dungko Kore di bawahnya serta birunya samudera, menjadi sensasi tersendiri para penghobi paralayang. Kami mampir sejenak. Kebetulan waktu itu beberapa atlet paralayang lokal sedang unjuk kebolehan.

Perjalanan kami lanjutkan. Kembali menyusuri perbukitan ladang-ladang tandus yang akan ditanami jagung. Jalan kembali menurun, berkelok, bebatuan lepas dan berdebu. Kemudian  menyusuri jalan sempit sepanjang pinggir pantai. Kami sampai di sebuah sungai kecil. Namanya Brang Rora. Walau mengalir kecil namun airnya sangat jernih.  

Kondisi hutan sekitar Brang Rora masih terjaga. Menurut orang tua yang punya lahan yang ikut bersama rombongan kami, dulunya antara Kampung Tero hingga Kampung Brang Bako vegetasi hutannya sangat padat. Sepanjang hari hampir tak bisa melihat matahari secara langsung karena tertutup rimbun pepohonan. Namun semuanya berubah karena alasan perut dan perut. Klasik memang.

Kami tiba di Brang Bako. Perkampungan kecil yang semua masyarakatnya sebagai petani dan peladang. Kadang-kadang mereka juga mencari ikan di sepanjang pantai saat air laut surut. Mereka menyebutnya Bakalili. Masyarakatnya sangat ramah dan menyambut kami dengan antusias. 

Suara dentuman ombak memecah pantai begitu keras terdengar hingga perkampungan. Serta merta saya bergegas mengikuti rasa penasaran saya. Deburan Ombak pantai selatan menyambut saya bersama rekan-rekan yang lain. Sempat ngeri juga melihatnya tapi ketakutan itu sirna dengan keelokan pantainya yang masih perawan. Tempat yang sunyi dan tersembunyi hanya deburan ombak yang menemani.

Pantai Brang Bako memiliki panjang kira-kira 4 kilometer. Sebagian berpasir putih halus dan seperti biji merica. Tumbuhan pandan dan semak belukar seakan menambah keasrian area pantai. Di pantai ini kita dapat menikmati sunrise dan sunset dengan indahnya. Dari sudut manapun, setiap foto yang diambil dijamin Instragramable banged. Pantai yang begitu eksotis!

Kami memilih mendirikan tenda di pinggir pantai, sebagian hanya memakai sleeping bag. Hal yang tak boleh lupa! pakai lotion antinyamuk kalau tidak ingin menjadi santapan nyamuk-nyamuk pantai yang terkenal ganasnya.

Malam semakin beranjak. Hanya suara deburan ombak menyapu pantai yang berjarak belasan meter dari tenda kami. Suasana sunyi  mendadak ramai. Air laut tiba-tiba menyapu sebagian peralatan dan perlengkapan kami. Sontak semua kaget! Rupanya malam itu lagi purnama. Pengaruh gravitasi bumi dan bulan berdampak pada gelombang pasang air laut. Konon ombak pantai selatan juga kadang sulit diprediksi. Malam yang panjang ditemani nyamuk-nyamuk nakal.

Tak kalah menariknya, di Pantai Brang Tiram dan Brang Bako terdapat spot surfing. Keunikan ombak surfing Brang Bako memiliki arah sapuan ke kiri yang disebut ombak kidal, bukan ke kanan seperti pada umumnya. Salah satu jenis ombak yang membutuhkan keahlian khusus untuk menaklukkannya sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para peselancar. Keunikan ini semakin lengkap dengan keindahan panorama pantai yang sangat mempesona serta kehidupan masyarakatnya yang sangat ramah dan bersahaja.

Ooh yaa, rombongan kami juga bersama para surfer yang tergabung dalam Maluk Sekongkang Surfing Club’s (MSSC) yang berniat menjajal ombak Brang Bako. Sensasi spot surfing Brang Bako dan Brang Tiram sudah pernah dijajal oleh para peselancar dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, Singapura, Brazil dan beberapa negara eropa. Oleh peselancar Amerika, spots ombak tersebut di namakan Ombak Macan (tiger waves).

Di sebelah timur spot surfing Brang Bako terdapat pantai yang tak kalah indahnya. Namanya Batu Dulang (nampan), karena terdapat sebuah batu menyerupai nampan. Namun bentuknya sudah tidak utuh. Disekitarnya tersebar bongkahan batu dengan aneka ukuran dan bentuk yang unik. Kemungkinan akibat gelombang pasang pantai selatan yang terkenal ganas sehingga batu-batu tersebut terlempar ke sisi pantai. Batu-batu ini pas banged buat berswafoto ataupun sebagai objek foto lanscape para pencinta fotografi ditambah dengan di sekitar pantainya terdapat hutan yang masih lebat dengan pohon-pohon menjulang tinggi. So amazing!

Selain Pantai Brang Bako dan Brang Tiram juga terdapat spot wisata alam lainnya seperti Air terjun Ai Ngarebas, Air Terjun Bukit Batu, Pantai Dungku Kore serta Pantai Batu Bangka.

Karena keterbatasan waktu. Cuma dua hari satu malam. Waktu yang tak cukup untuk mengeksplore spot-spot lainnya ataupun menemukan spot yang baru yang tak kalah menarik. Akan ada trip selanjutnya. Inshaa Allah saya pasti akan berbagi kisah perjalanan dengan pembaca sekalian yang budiman.

Entah kenapa namanya Tiram. Mungkin karena di muara sungai ini yang tak terlalu jauh dengan pantai, dulunya banyak ditemui kerang kerang laut.

Si Tampok Pinang | Cerita Rakyat Banyuasin

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda yang tinggal di sebuah hutan yang besar. Janda tersebut hidup sendirian setelah ditinggal oleh suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Ia sangat mendambakan seorang anak. Suatu hari, ia pergi ke belakang rumahnya. Dilihatnya sebuah tampok pinang. Ia pun berdoa agar diberikan seorang anak walaupun hanya sebesar tampok pinang itu.

Beberapa bulan kemudian, ia baru menyadari bahwa ia sedang mengandung seorang anak. Ia  merasa amat bahagia. Ia menganggap bahwa doanya benar-benar terkabul. Setelah beberapa bulan, anak yang dinanti-nantikannya pun lahir. Namun, alangkah terkejutnya janda tersebut  melihat anak laki-lakinya itu hanya sebesar tampok pinang, sama persis dengan doa yang ia ucapkan waktu itu.

Anak laki-lakinya itu dipanggil Si Tampok Pinang.

Waktu terus bergulir. Namun, Si Tampok Pinang masih saja sebesar tampok pinang. Setelah dewasa,Si Tampok Pinang  diusir oleh ibunya sendiri karena ia malu memiliki anak .yang sangat  kecil. Dengan sedih, Si Tampok Pinang meninggalkan ibunya dan pergi tanpa arah.

Di tengah jalan, ia melihat sebuah tenunan yang terjatuh dari atas maligai. Ternyata, tenunan itu milik seorang  Putri yang sangat rupawan yang tinggal di atas maligai. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat ada seorang yang menemukan tenunan itu. Ia pun mengajak orang tersebut, yaitu Si Tampok Pinang, untuk naik ke atas maligai karena Si Putri telah berjanji bahwa barang siapa yang menemukan tenunannya itu, jika laki-laki akan dijadikan sebagai suami, sedangkan jika perempuan akan dijadikan saudaranya.

Alangkah terkejutnya Si Putri ketika melihat bahwa laki-laki yang menemukan tenunannya itu hanya sebesar Tampok Pinang. Diusapkanlah Si Tampok Pinang ke rambut Si Putri yang sangat panjang itu. Secara ajaib, Si Tampok Pinang berubah menjadi pangeran yang tampan dan rupawan. Tentu saja memiliki tubuh yang normal layaknya manusia pada umumnya. Si Putri pun jatuh cinta kepada Si Tampok Pinang. Begitu juga sebaliknya. Sejak pertama kali melihat Si Putri, Si Tampok Pinang langsung jatuh hati kepada Si Putri.  Sesuai dengan janji Si Putri, mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan. Untuk itu, Si Tampok Pinang mengajak Si Putri untuk bertemu ibunya yang sudah mengusirnya dari rumah. Dia ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya karena sebenarnya ia masih sangat sayang kepada ibunya.

Awalnya, sang ibu tidak percaya bahwa lelaki yang tampan itu adalah anaknya sendiri, Si Tampok Pinang. Setelah dijelaskan  Si Putri, ibunya pun percaya dan merasa sangat bahagia. Tentu saja sang ibu menyetujui  rencana pernikahan anaknya itu dengan Si Putri. Ibu Si Tampok Pinang pun melakukan berbagai persiapan yang besar untuk membuat pesta pernikahan yang sangat meriah. Selama persiapan itu, Si Putri naik ke atas maligai untuk menunggu hingga hari pernikahan nanti.

Layaknya kebiasaan yang ada, ibu Si Tampok Pinang mengajak orang-orang yang ada di dusunnya untuk memasak makanan untuk acara pesta pernikahan anaknya. Banyak orang yang diajaknya, termasuk juga Si Kenam. Si Kenam adalah seorang perempuan yang berhati jahat dan juga buruk rupa. Diam-diam, dia juga jatuh hati akan ketampanan yang dimiliki oleh Si Tampok Pinang.

Pada acara masak-memasak, Si Kenam  mendapat tugas untuk mengambil air di sungai. Akan tetapi, ia tidak mau karena ia merasa tidak pantas untuk melakukan pekerjaan itu.  Ketika seseorang memberinya sebuah ember untuk mengangkut air, ia selalu memecahkannya. Hal itu dilakukannya berulang kali. Sampai akhirnya, orang-orang tidak memberinya ember lagi, melainkan sebuah kelingan. Kelingan adalah suatu wadah yang terbuat dari kulit sapi yang tidak bisa pecah, kecuali jika digigit anjing.

SI Kenam tidak kehilangan akal. Dia pun memanggil anjing untuk mengigit kelingan itu. Secara tidak sengaja, Si Putri melihat perbuatan itu dari atas maligai. Dia merasa geli dan akhirnya tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Si Kenam itu. Namun, itulah awal dari kekacauan yang besar. Entah kenapa, Si Kenam terkena sinaran cahaya dari Si Putri yang kemudian tiba-tiba membuatnya menjadi perempuan yang sangat cantik, sama persis seperti Si Putri. Namun sebaliknya, Si Putri menjadi seseorang yang sama persis seperti Si Kenam.

Melihat penampilan barunya itu, Si Kenam merasa sangat senang dan menjadi semakin sombong. Saking sombongnya, ia menyuruh Si  Putri untuk turun dari atas mahligai. Lain halnya dengan Si Putri. Dia menjadi stres karena memikirkan keadaannya sekarang. Karena merasa sangat terkesan ia mengacak-mengacak mukanya hingga menjadi tidak karuan. Akhirnya , ia turun dan bertemu dengan Si Kenam yang sudah menjadi secantik dirinya dulu. Mereka melakukan suatu pertukaran tugas. Si kenam akan menjadi “Si Putri” yang tinggal di atas maligai, sedangkan Si Putri akan menjadi “Si Kenam”. Mulai saat itu, Si Putri melakukan tugas seperti yang dilakukan oleh Si Kenam waktu itu.

Setelah beberapa waktu, orang-orang sekitar merasa aneh dengan perilaku “Si Kenam” yang sekarang. Ia menjadi seorang yang penurut dan baik hati.

Waktu pernikahan pun semakin dekat. Si Putri Kenam yang sekarang berada di atas maligai disuruh turun untuk melaksanakan pernikahan dengan Si Tampok Pinang di dusun seberang yang melewati laut. Si Putri” alias Si Kenam di suruh orang-orang untuk memanggil angin agar bisa menyeberangkan kapal ke seberang dusun. Hal itu adalah sesuatu hal yang biasa dilakukan bagi seorang putri yang tinggal di atas maligai. Ketika Si Kenam memanggil angin, entah kenapa bau busuk datang menyengat. Sementara itu, dari kejauhan Si Putri memanggil angin untuk bisa  menyeberangkan orang-orang ke seberang dusun. Kali ini, bau harumlah yang datang menghampiri. Seluruh rombongan naik kapal untuk pergi ke dusun seberang. Setelah sampai, mereka semua turun, termasuk juga “Si Putri” alias Si Kenam.

Setelah menikah, “Si Putri” alias Si Kenam tinggal bersama Si Tampok Pinang. Di sisi lain, Si Putri disuruh untuk menjaga padi milik Si Tampok Pinang. Ia menjaga padi dengan baik sambil menenun. Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang hendak memakan padi itu, ia pun menembangkan suatu lagu yang intinya, jika burung itu memakan padi itu, ia akan dibunuh oleh pemilik sawah itu. Tiba-tiba, Si Putri kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Ia pun merasa sangat senang.

Dari atas maligai, Si Kenam mengintip dan merasa bingung akan kejadian itu. Tak disangka-sangka, ternyata Si Tampok Pinang mendengar suara dari tembang yang dinyanyikan oleh Si Putri itu. Ia sangat mengenali suara itu. Ia pun menyadari bahwa putri yang bersamanya itu adalah putri palsu. Karena perbutannya, Si Kenam diusir dari dusunnya. Si Tampok Pinang kembali mengajak Si Putri untuk menikah. Akhirnya, mereka  menikah dan hidup bahagia selamanya.

Diceritakan kembali oleh: Neny Tryana, S.Pd. dan Putri Munawaroh

*) Cerita rakyat ini berasal dari daerah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Sumber.

Bujang Sungsang | Cerita Rakyat Banyuasin

Desa Sungsang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah sebuah sepasang suami istri. Suaminya sudah renta dan tidak lagi bekerja. Sehari-harinya istrinya berjualan kerupuk keliling di desa. Selama bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Mereka telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan anak. Akan tetapi, semua itu belum mendatangkan hasil. Meskipun demikian, mereka tidak putus asa dan tetap berusaha dan berdoa agar dikaruniai anak.

Suatu hari seperti biasa istrinya berdagang kerupuk keliling. Saat ia berkeliling menjajakan dagangannya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang tidak memakai baju. Anak kecil tersebut meminta makanan kepadanya.

“Mana orang tuamu?” tanya istrinya.

Anak tersebut tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

“Mana orang tuamu?”

Anak itu kembali menggelengkan kepalanya.

“Apakah kamu tidak mempunyai orang tua lagi?”

Anak itu selalu menggelengkan kepalanya.

Anak kecil itu pun diajak ke rumah istrinya. Mereka lalu merawat anak itu. Anak tersebut mereka beri nama Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun tumbuh dewasa. Ia melakukan perubahan pada desanya. Untuk menjaga keamanan desa, ia melakukan ronda pada malam hari. Ia pun sangat ringan tangan. Tidak segan-segan ia menolong orang banyak. Ia rajin bekerja dan sering melakukan kegiatan memacing ikan.
Perbuatan baik bujang Sungsang banyak ditentang oleh orang sekitarnya. Sebagian orang merasa terusik dengan perbuatan Bujang Sungsang. Mereka yang tidak menyukai Bujang Sungsang berencana untuk mencelakai Bujang Sungsang.

Sesuai rencana mereka, Bujang Sungsang pun ditangkap. Setelah ditangkap, Bujang Sungsang dimasukkan ke dalam kandang dan akan dibuang ke Sungai Musi. Saat itu, muncullah keajaiban. Bujang Sungsang yang sudah berada di kandang tiba-tiba telah berada di luar kandang.

Setelah di luar kandang, Bujang Sungsang berubah wujud menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Semua yang hadir terkejut dan terpesona melihat ketampanan Bujang Sungsang.

Baca juga: Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Rumah Lama

“Wahai warga sekalian, saya mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa kebersamaan dalam hidup itu sangat perlu. Percaya kepada kebaikan orang lain juga sangat perlu. Berbuat baiklah dan tolong-menolonglah sesama manusia,” ujar Bujang Sungsang. Perkataannya terdengar sangat berwibawa.

Bujang Sungsang segera mendekati kedua orang tua angkatnya, “Bapak, Ibu, terima kasih telah mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya selama ini. Bapak dan Ibu telah mengasuh saya dengan sangat baik. Saya tidak dapat membalas kebaikan yang telah Bapak dan Ibu lakukan, Bapak, Ibu, saya pamit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, ” kata Bujang Sungsang sambil menahan emosi.

Semua warga yang hadir menyaksikan perbuatan dan mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Bujang Sungsang. Mereka semua seolah terhipnotis dengan kata-kata Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun pergi ke tepian Sungai Musi. Sejenak ia amati sekelilingnya dan kemudian melompat ke dalam sungai tersebut. Semua warga menunggu kemunculan Bujang Sungsang dari sungai. Akan tetapi, setelah lama ditunggu, Bujang Sungsang tidak muncul-muncul. Warga yang berkumpul pun akhirnya bubar.

Perbuatan dan ucapan Bujang Sungsang jadi pembicaraan di desa itu. Siang malam mereka tak habis-habisnya membicarakan hilangnya Bujang Sungsang di Sungai Musi. Di warung kopi, di rumah, siang, malam, mereka terus membahas perkataan Bujang Sungsang sebelum menceburkan dirinya di sungai.

Akhirnya, penduduk desa tersebut sepakat memberi nama desa tempat Bujang Sungsang dengan nama Desa Sungsang. Warga Desa Sungsang yakin Bujang Sungsang membawa berkah pada para nelayan karena sejak Bujang Sungsang menceburkan diri di sungai tersebut banyak sekali ikan yang hidup dan nelayan selalu mendapatkan hasil yang melimpah.

Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Antu Ruak Belekang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah dua orang anak yatim piatu. Kakaknya bernama Bujang Lematang dan adiknya bernama Tanjung. Mereka hidup dalam kemiskinan. Namun, mereka berdua saling menyayangi.

Lematang berwajah tampan, orangnya baik, beriman, dan pemberani. Sedangkan adiknya seseorang yang sangat penakut.

Suatu hari Tanjung menangis karena kelaparan. Tidak ada sedikit pun makanan yang dapat mereka makan. Bahkan, untuk memasak, mereka tidak mempunyai api.

“Kak, lapar! Apa yang bisa aku makan? Api untuk masak pun kita tak punya,” ujar Tanjung.
“Iya Dik. Kalau begitu, sekarang kakak pergi dulu untuk mengambil api ke gunung,” jawab Lematang.

Ia pun berpesan, “Adik tidak usah takut. Kalau nanti datang Antu Ruak Belekang dan dia memanggil-manggilmu, janganlah sekali-kali engkau jawab. Selama Kakak pergi, tinggallah engkau di atas langit-langit.”

“Kak aku lapar nian, tapi cak manela makanan kite dek katik, apelagi api,” ujar Tanjung sambil memegang perutnya karena menahan lapar.
“La ngape adek tu tak ngomong ngan Kakak. Kalu mek tu, kakak pegi ngambek api ke gunung,” jawab Lematang. Ia pun berpesan, “Adek jengan takut kalu Antu Ruak Belakang detang. Kalu die manggel kau jengan kau simbet, diem ke be. Selame kakak pegi kau ngimbang di atas palang.”


Setelah menyembunyikan adiknya, Bujang Lematang segera pergi ke gunung. Berhari-hari Bujang Lematang pergi keluar masuk hutan. Akhirnya, sampailah ia di gunung untuk mengambil api. Sementara adiknya menunggu di rumah dalam ketakutan bukan kepalang.

Suatu hari di saat Tanjung sedang ketakutan, datanglah Antu Ruak Belekang. Antu Ruak Belekang sangat ditakuti di desa karena ia sering memakan manusia.

“Celendup-celentam,” terdengar suara hentakan kaki Antu Ruak Belekang. Tanjung hanya bisa terdiam di tengah ketakutannya.

“Celendup-celentam. Ini rumah siape?” tanya Antu Ruak Belekang.
“Rumah kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” sahut Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke tangga rumah, Celedup-celentam
”Tangge siape ini?”
“Tangge Kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepulo ari,” jawab Tanjung.

Antu Ruak belakang naik ke teras. Celedup-celentam…
“Gerang siape ini?”
“Gerang kakak Bujang Lematang. Die lagi pegi ke gunung mintak api. Sudah sebulan sepoloh ari,” jawab Tanjung.

Pintu rumah dibuka Antu Ruak Belakang. Secepatnya dicari sumber suara tadi. Antu Ruak Belekang berhasil menemukan Tanjung. Tanjung langsung disantapnya hidup-hidup.

Bujang Lematang pun pulang. Dari kejauhan ia melihat pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengingat lelahnya perjalanan yang telah dirasakan, ia berlari secepatnya agar segera tiba di rumah. Ia khawatir akan adiknya yang sendirian di rumah. Ternyata, apa yang menjadi kekhawatirannya memang benar terjadi. Tanjung adiknya telah tiada. Kini yang tersisa hanya rambut, bekas darah, dan kuku adiknya. Kesedihan mendalam dirasakan Lematang karena kehilangan adik satu-satunya. Akan tetapi, secara tidak sengaja Lematang meletakkan sapu lidi ke rambut, bekas darah, dan kuku adiknya.

“Hatciiiimm,” tiba-tiba Bujang Lematang bersin.

Keanehan pun terjadi. Tanjung hidup kembali. Kegembiraan Lematang pun tidak terlukiskan, walau ada rasa tidak percaya dalam dirinya kalau adiknya dapat hidup kembali.

Dasar Tanjung Anak yang manja. Kakaknya baru saja pulang dan belum lepas dari lelah, Tanjung menyuruh kakaknya pergi ke hutan untuk mencari makanan. Akhirnya Lematang pergi. Tetapi,seperti biasa sebelum ia pergi menyembunyikan adiknya dan meninggalkan pesan.

“Kalu Antu Ruak Belekang detang, jengan lupe kau tutup idongmu supaye die dek tau kalu di rumah ado urang.”
Setelah itu pergilah Lematang dengan hati cemas.

Celedup-celentam… bunyi kaki Antu Ruak Belekang.

Sayangnya pada saat itu Tanjung terlambat menutup hidungnya jadi kecurigaan Antu Ruak Belekang timbul karena waktu ia datang ia mencium bau manusia, tetapi sekarang tidak. Tanpa berkata lagi Sang Antu masuk ke rumah dan mencari-cari manusia untuk disantapnya.

Pada saat itu Bujang Lematang pulang dilihatnya pintu rumah terbuka ia tergesa-gesa karena takut hal yang lalu akan terulang kembali. Ketika Lematang sampai ia langsung berkelahi dengan Antu Ruak Belekang. Ternyata Lematang pun kalah dan ia pun dimakan Antu Ruak Belekang.

Tanjung kasihan melihat kakaknya dimakan Antu Ruak Belekang. Ia pun keluar dari persembunyianya. Pada akhirnya kakak beradik ini meninggal dunia. Yang tinggal hanya rambut, bekas darah, dan kuku mereka berdua.

Cerita ini berasal dari Desa Pangkalan Panji KM.38, Kabupaten Banyuasin III.


Upacara Odalan atau Piodalan

Upacara Odalan merupakan ritual keagamaan dalam rangka peringatan terhadap Mahalingga Padma Bhuwana Manggir yang merupakan sebuah situs peninggalan dari Ki Ageng Mangier. Dalam sebagai keyakinan, Odalan memiliki makna membawa umatnya ke dalam sebuah kehidupan beragama yang lebih baik.

UMAT Hindu di Bali, Indonesia merayakan odalan di masing-masing pura mereka setiap 210 hari. Odalan dirayakan berdasarkan kalender Pawukon Bali yang umurnya 210 hari, kira-kira setiap tujuh bulan menurut kalender Masehi. Setiap odalan biasanya berlangsung sekitar tiga hari hingga seminggu atau lebih, tergantung dari klasifikasi pura bersangkutan.

Piodalan berasal dari kata wedal yang memiliki arti keluar atau lahir. Jadi, layaknya kita merayakan hari ulang tahun, saat peringatan upacara Piodalan (odalan) tersebutlah ditetapkan sebagai hari lahir sebuah Pura atau bangunan suci. Dengan kata lain, piodalan/pujawali/petoyan merupakan peringatan hari lahirnya sebuah tempat suci umat Hindu.

Untuk hari-hari baik yang dipilih dan ditetapkan sebagai hari Piodalan atau Pujawali sebuah tempat suci diantaranya adalah, Purnama Kapat, Kalima, Kadasa. Anggar kasih Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Perangbakat dan Dukut. Saniscara Kliwon (Tumpek) Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye dan Wayang. Buda Wage Ukir, Warigadean, Langkir, Merakih, Menail dan Klawu, dan masih banyak hari baik lainnya.

Bage Samawa Alias Tamarindus Indica

Keberadaan Bage Samawa banyak ditemui di Pulau Sumbawa. Nama lainnya adalah pohon Asam, atau ilmiahnya, Tamarindus Indica. Saking banyaknya pohon ini, soal rasa pun, lidah Sumbawa sukanya yang asam-asam.

Di samping memiliki banyak manfaat, pohon ini jugalah yang mempercantik alam Sumbawa hingga di beberapa titik, terutama di dekat pantai, kesannya terasa magis. Buahnya sering mengisi bagasi-bagasi bus antar provinsi karena banyaknya permintaan paket kiriman dari Jawa, Bali dan Lombok, baik itu dari rekan-rekan luar daerah yang sudah mengenal manfaatnya, kerabat hingga anak-anak kost yang tidak bisa jauh dari Sepat Bage.

Biji buahnya telah mengukir banyak kenangan pada generasi 90-an, karena dengan mengunyah biji tersebut kita bisa buktikan gigi siapa yang paling kuat. Generasi zaman sekarang mungkin kurang pengalaman dalam hal ini 😁

Tamarindus Indica atau Bage Samawa adalah vegetasi yang harus dilestarikan karena itu menjadi salah satu identitas pulau Sumbawa. Ah kamu, sudah pernah merasakan minuman sirup Tamarin dicampur madu Sumbawa?

Credit: Cerca Trova

Petani Garam di Desa Kusamba

Tidak banyak orang yang tahu bahwa di Bali, tepatnya di Kabupaten Klungkung, ada Desa Kusamba yang menjadi sentra pembuatan garam secara tradisional yang dilakukan turun-temurun. Garam yang dihasilkan pun berkualitas tinggi, putih bagai kristal, dan diakui kualitasnya hingga ke Jepang. Karena kualitasnya yang baik ini, maka harganya pun relatif lebih mahal dibandingkan garam-garam yang biasa kita temukan di toko atau warung-warung.

Uniknya, petani garam di Kusamba masih mempertahankan cara-cara tradisional untuk proses pembuatannya, tanpa bantuan mesin sama sekali. Semua dilakukan dengan manual / tenaga manusia. Adapun yang menjadi faktor pendukung utama pengolahan garam secara tradisional adalah : sinar matahari. Para petani garam hanya bisa berproduksi pada saat musim panas atau saat ada cahaya matahari. Pada saat musim hujan, produksinya akan turun.

Proses pembuatannya secara garis besarnya begini :

Petani garam pergi ke pantai dengan membawa semacam pikulan dua ember besar, terbuat dari daun kelapa, kemudian mengisi ember tersebut dengan air laut, dan selanjutnya dibawa ke “sawah” mereka yang berupa sepetak area pantai yang berpasir hitam, yang tidak jauh dari lokasi mereka mengambil air laut tadi. Air laut di dalam ember yang mereka ambil tadi kemudian disebarkan/disiramkan secara merata di sawah mereka. Proses penyiraman ini dilakukan sebanyak 3 atau 4 kali. Jadi bolak balik, laut – pantai – nyiram.

Kemudian, sawah berpasir yang sudah disiram air laut tadi dibiarkan terjemur panas matahari, sekitar 3 sampai 4 jam, hingga sampai terbentuk semacam kristal-kristal garam. Kemudian, pasir tersebut diambil dan dibawa ke dalam gubuk yang ada di lokasi untuk selanjutnya dilakukan proses penyaringan dan disiram lagi dengan air laut dan ditaruh dalam wadah khusus. Air hasil penyaringan tadi kemudian dijemur dibawah terik matahari dan ditempatkan di sebuah wadah khusus yang panjang, yang terbuat dari pohon kelapa yang dibelah, yang tengahnya dibuat cekungan sehingga bisa menampung air hasil saringan tadi. Setelah dijemur beberapa waktu lamanya, airnya akan menggumpal, mengeras, dan setelah dikeruk akan menjadi butiran kristal garam.

Kurang lebih demikianlah proses pembuatannya.

Petani garam bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, generasi muda disana sudah jarang yang mau menekuni profesi ini. Yang saya temui pada saat saya memotret ke desa Kusamba ini hanyalah mereka yang usianya sudah tidak muda lagi.

Apakah profesi ini masih akan bisa bertahan kedepannya? Saya tidak bisa menjawabnya.

Oleh: Yogi Raharja
Tulisan diambil dari Grup Trilogi Indonesia

Sumur Abadi di Selodingin

Sumur abadi di Selodingin konon tak pernah kering. SELODINGIN adalah nama sebuah dusun di atas pegunungan. Tepatnya, Selodingin merupakan salah satu dusun di kawasan Desa Siwalan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Nah, Selodingin menyimpan sebuah sumur yg tak pernah kering walau kemarau berkepanjangan. Konon, sumur itu dibuat oleh seorang wali yaitu Sunan Kalijaga dan santrinya. Menurut warga sekitar, setahun sekali muncul ikan gabus yg berantinng-anting. Di situ juga ada larangan menyalakan dupa/kemenyan.

Sejarah Selodingin

Sejarah Dusun Selodingin sangat berkaitan erat dengan sebuah perjalanan dan perkembangan agama islam di masa lalu. Banyak versi mengenai asal-usul Selodingin dan makna nama Selodingin itu sendiri. Salah satunya mengatakan bahwa dulunya nama Selodingin yang sebenarnya adalah Siloringin. Hal tersebut terjadi karena  masyarakat lebih mudah menyebutnya dengan Selodingin. Siloringin berasal dari kata “Silo” dan “Ringin”, dan menurut warga sekitar kata Silo artinya adalah Bersila yang dalam hal ini adalah melakukan peristirahatan dari perjalan panjang yang ditempuh. Sedangkan kata Ringin disini artinya adalah pohon beringin. Dengan demikian maka makna kata Siloringin adalah sebuah aktivitas peristirahatan dari sebuah perjalanan yang panjang dan dilakukan di bawah pohon beringin. Selanjutnya, tokoh yang melakukan perjalanan tersebut adalah Sunan Kalijaga.

5 Destinasi Wisata di Kabupaten Banyuasin

Kabupaten Banyuasin yang merupakan pecahan Kabupaten Musi Banyuasin juga memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik. Kelima destinasi tersebut memiliki nilai sejarah dan sosial budaya yang luar biasa. Berikut 5 destinasi wisata di Kabupaten Banyuasin:

Sungsang, Desa Wisata Air

Sungsang sebagai Desa Wisata Air yang terkenal mempunyai pemandangan alam yang indah. Sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata air di daerah Kabupaten Banyuasin yang dapat meningkatkan pemasukan daerah dengan menempuh pembangunan industri pariwisata air dan lebih memantapkan dan menaruh perhatian yang lebih mendalam menyangkut pariwisata di Desa Sungsang.

Selain itu, adat istiadat pernikahan desa Sungsang yang dikenal dengan nama basengi juga menarik disaksikan. Upacara adat pernikahan ini diawali dengan pemotongan hewan kerbau sebagai persembahan untuk sang pencipta sebagai rasa syukur warga atas segala nikmat. Wisata Budaya ini di tampilkan saat acara Pawai Budaya Nusantara di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tim kesenian Kabupaten Banyuasin yang mewakili provinsi Sumatera Selatan dibawahkan oleh 45 penari dari sanggar seni Sedulang Setudung dibawah asuhan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuasin Hj Hafinalty Amiruddin Inoed. Ini menunjukan bahwa Wisata Budaya di Kabupaten Banyuasin memiliki potensi. Adat tersebut merupakan salah satu kekayaan kebudayaan Budaya Bumi Sedulang Setudung yang bisa dijadikan objek wisata dan memperkenalkan kebudayaan daerah yang sangat menarik.

Monumen Front Langkan

Front bersejarah yang terletak di Jalan palembang – betung KM 35. Banyuasin III. Monumen yang dibuat karena pristiwa pertempuran lima hari lima malam dikota palembang tanggal 1 Januari s/d 5 Januari 1947, merupakan salah satu ikon Kabupaten Banyuasin karena bangunan bersejarah ini memiliki daya tarik pengunjung, terkadang banyak para pengunjung yang berkunjung ketempat bersejarah ini untuk melihat monumen dan berfoto disini, Dengan adanya kegiatan pariwisata jangka pendek, misalnya pada akhir pekan atau dalam masa liburan sehingga orang dapat mengadakan perjalanan sekedar untuk melihat bangunan bersejarah, suasana pedesaan atau kehidupan  dan dengan di potensi tempat bersejarah ini diharapkan para wisatawan bisa berkunjung untuk mengetahui dan menambah wawasan tentang tempat bersejarah daerah Kabupaten Banyuasin.

Sembawa, Lokasi Penas KTNA XII

Lokasi Penas KTNA XII Desa Sembawa Kecamatan Banyuasin III, yang dicanangkan Presiden SBY sebagai kawasan percontohan pengembangan agrobisnis atau dikenal dengan agrocenter penelitian tanaman Holtikultura dan mempunyai banyak sarana bangunan yang dibangun pemerintah Propinsi Sumatera Selatan di Desa Lalang Sembawa, Kabupaten Banyuasin, baik itu berupa jalan, gedung, taman dan rumah adat. Tetapi karena kurang pemanfaatan, perawatan dan perhatian dari Pemerintah setempat sekarang kondisinya terlantar dan disalah gunakan pemanfaatannya oleh remaja. Mulai dari dijadikannya sebagai tempat berpacaran yang dinilai sudah melebihi batas diluar kewajaran sampai yang paling menonjol sekarang sarana jalan dijadikan arena balapan liar. Kondisi lokasi yang menghabiskan anggaran mencapai Rp 3 miliar ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai ikon daerah dan dijadikan objek wisata Kabupaten Banyuasin jika dirawat dan dikelola dengan baik.

Pulau Ekor Tikus

PEMERINTAH Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan akan mengembangkan Pulau Ekor Tikus atau Pulau Alangan Tikus yang berada dalam wilayah Desa Sungsang 2, Kecamatan Banyuasin II, sebagai lokasi wisata yang potensial.

Suasana alam yang menawan mengisyaratan lokasi ini mirip kawasan wisata di Raja Empat ataupun wisata sungai di Mekong Vietnam. Letaknya juga mudah dikunjungi dengan melalui akses Jalan sungai dan laut yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan Tanjung Siapi-api (TAA) hanya berkisar waktu 20 menit sudah dapat sampai.

Taman Nasional Sembilang

Secara administratif pemerintahan, TN Sembilang termasuk wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Aksesibilitas menuju Kawasan TN Sembilang dilakukan dengan menggunakan kendaraan air. Hal ini dikarenakan karakteristik dan lokasi kawasan yang merupakan perairan. Jalur yang umum digunakan untuk mencapai kawasan TN Sembilang adalah dengan menggunakan kendaraan air speedboat dari Palembang.

Peserta Kompetisi Foto Ekspedisi Burung Migran oleh Tribun Sumsel-Sriwijaya Post  membidik foto burung migran di Taman Nasional Sembilang, Sabtu (10/11/2018).
Peserta Kompetisi Foto Ekspedisi Burung Migran oleh Tribun Sumsel-Sriwijaya Post membidik foto burung migran di Taman Nasional Sembilang, Sabtu (10/11/2018). (Tribun Sumsel/ Agung Dwipayana)

Biasanya, masyarakat Palembang menempuh perjalanan sungai dari dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) selama 4 jam. Atau bisa juga menggunakan kendaraan darat dari Palembang ke Simpang PU atau Parit 5 yang terletak di Jalan Raya Tanjung Api Api sekitar 1 jam. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan speedboat sekitar 2 jam.

Terdapat beberapa tipe habitat, yakni hutan manrgrove, rawa dan dataran lumpur. Dan hutan mangrove di TN Sembilang merupakan yang terluas di Indonesia bagian barat dengan luas 87.000 hektar.

Potensi Satwa

a. Terdapat tidak kurang dari 53 spesies mamalia, di antaranya Berang-Berang (Lutra lutra) Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kucing Bakau (Felis bengalensis), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), Musang Air (Cynogale Bemetti), Babi (Sus Srofta).

b. Setidaknya terdapat lima primata termasuk Ungko (Hylobates agilis), Kera Ekor Panjang (Масаса Fascicularis), Beruk (M. nemestrina) dan Lutung Kelabu (Presbytis cristata).

Sejumlah burung-burung yang ada di Taman Nasional Sembilang, Sumsel
Sejumlah burung-burung yang ada di Taman Nasional Sembilang, Sumsel (Tribun Sumsel/ Agung Dwipayana)

c. Terdapat 213 jenis burung, 112 jenis ditemukan di daerah mangrove dan 44 jenis di antaranya menggunakan mangrove sebagai habitat utama. Hasil kajian 2016-2018, terdapat 28 spesies burung air migran.

Sekitar 80.000 ekor burung dapat dijumpai setiap harinya di Delta Banyuasin, di antaranya Bangau Bluwok (Mycteria Cinerea), Bangau Tongtong (Leptoptilos Javanicus), Cucuk Besi (Threskiornis Melanocephalus), Bangau Storm (Ciconia Stormy), Cangak Sumatera (Ardea Sumatrana), Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Rangkong Helm (Rhinoplax Virgil), Rangkong Hitam (Antrhacoceros Malayanus), Gajahan Timur (Numenius Madagascariensis), Dara Laut (Sternidae), Cerek (Charadrius), Biru Laut (Limosa) dan Kedidi (Calidris),

d. Reptil tercatat ditemukan Buaya Muara (Crocodylus Porosus), Buaya Sinyulong (Tomistoma Schlegelii), Ular Cincin Mas (Boiga Dendrophila) dan Ular Sawah (Phyton).

Cerita Rakyat Banyuasin | Asal Mula Rumah Lama Rantau Bayur

Zaman dahulu ada sebuah keluarga yang hidupnya susah. Keluarga ini mempunyai 7 anak laki-laki. 6 dari 7 anaknya ini merupakan anak yang rajin. Semua orang di desanya senang melihat mereka. Tapi, anaknya yang paling bungsu merupakan anak yang nakal, jelek, dan pemalas. Semua warga tidak menyenangi anak yang paling bungsu. Oleh saudaranya, si bungsu dijuluki Lanang Penyungkan.

Suatu hari, seperti biasa bapak dan ibunya pergi ke sawah. 6 anak laki-lakinya ikut semua. Tapi, anak yang paling bungsu tidak pernah ikut setiap kali diajak. Ketika bapaknya mengajak si bungsu pergi si bapak dimarahi olehnya.

Kemudian pergilah orang tuanya beserta saudara-saudaranya ke sawah. Di sawah, saudara-saudaranya teringat kata-kata si bungsu. Kemudian saudara-saudaranya merencanakan sesuatu untuk mencelakakan si bungsu. Mereka ingin menghanyutkan si bungsu ke aliran sungai Musi. Pulanglah mereka kerumah. Di rumah, mereka tambah tidak senang melihat si bungsu karena si bungsu seolah menari-nari di atas penderitaan keluarganya. Si bungsu sedang tertidur lelap sedangkan orang tuanya banting tulang di sawah. Dengan segera, saudaranya membuat sebuah rakit. Tidak lama berselang terbuatlah sebuah rakit. Dihanyutkanlah si bungsu ke aliran sungai Musi. Si bungsu tidak sadar kalau dia telah hanyut. Dengan perasaan sedih bercampur kesal saudara-saudara bertembang,

Bebuah kau kesek
Dak bebuah labu parang

Aman masih betuah, masih balek
Aman dak betuah ilang di jalan

Saudara-saudaranya terus bertembang sampai si bungsu tidak terlihat lagi. Sampai sore hari, rakit si bungsu itu tersangkut di sebuah batang kayu besar bernama Kayu Bayur. Si bungsu terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat ia tidak berada lagi di rumahnya. Dengan cepat ia naik ke atas batang bayur. Ia duduk termenung dan bertembang.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Tidak ada orang yang peduli dengan keadannya. Bertambah sedih hati si bungsu. Bertembang lagi dia.

Batang bayur di sungai Musi
Jadi saksi edop ku ini

Batang bayur di sungai Musi
Alangke malang naseb ku ini

Sadarlah si bungsu bahwa yang dilakukan selama ini salah.Akhirnya ia naik ke tebing. Di atas si bungsu berusaha keras banting tulang. Berkat kerja kerasnya ia dapat membangun sebuah rumah. Rumahnya besar. Di dalam rumah ini banyak terdapat barang berharga. Percaya atau tidak barang siapa mencuri barang tersebut niscaya ia akan gila sampai ia mengembalikan barang tersebut. Sampai sekarang rumah tersebut dinamakan Rumah Lame oleh penduduk sekitar. Rumah Lame masih dijaga dan di lestarikan sebagai peninggalan legenda.


Diceritakan oleh Dyan Rachmatullah
Cerita ini bersumber dari Desa Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin