tradisi petasan di Sumbawa

Petasan Terakhir di Sumbawa dan Napak Tilas Tanah Leluhur

Bunyi petasan menggelegar. Itu yang kurasakan saat kali pertama menikmati Idulfitri di Sumbawa. Biasanya, aku selalu pulang kampung saat lebaran. Namun, lebaran terakhir di Sumbawa—sebelum pindah karena tugas belajar—aku menyengajakan diri tidak pulang. Plus, lebaran ketiga, keluargaku di Palembang ramai-ramai mengunjungi tanah nenek moyang di Banyumas. Jadinya, kami janjian bertemu di Banyumas saja dan di sanalah kami bertemu, sungkem, dan saling memaafkan.

Aku baru tahu bahwa menyalakan petasan yang ukurannya tidak biasa (bunyinya juga) adalah tradisi di Sumbawa. Petasan itu mereka produksi sendiri dan sekitar 1 jam bunyi petasan akan bersahut-sahutan di daerah Labuhan. Saat itu, kantor dan rumah dinasku memang berada di Labuhan. Jadi, menarik juga mendengarkan petasan sebesar itu dibunyikan.

Aku pribadi sebenarnya agak trauma bila harus ikut membunyikan petasan. Waktu kecil, aku pernah iseng menyalakan petasan untuk membangunkan sepupuku sehabis Subuh. Bukannya membangunkan, petasan itu meledak lebih cepat dari yang kuperkirakan, tepat sesaat setelah kulemparkan. Untungnya petasan itu bukan petasan dengan daya ledak yang kuat. Alhasil, tanganku merah membengkak saja dan harus direndam air es agar tidak terasa menyakitkan.

Di Labuhan sendiri ada kawasan bernama Kauman yang dihuni oleh warga Sumbawa berketurunan Arab. Mereka hidup berdampingan dengan orang Sumbawa asli yang lebih dikenal dengan nama Tau Samawa, suku Mbojo yang lebih dikenal di Bima, dan beberapa suku lain seperti Bugis dan Bali.

Itu mungkin kenangan terakhirku di Sumbawa. Ya, tahun 2014 adalah tahun yang membahagiakan buatku. Banyak pencapaian pribadi yang kuraih saat itu termasuk lulus tugas belajar DIV STAN. Berkat itu, akhirnya, aku bisa kembali ke Bintaro setelah 3 tahun lebih di Sumbawa.

Setelah berlebaran di Sumbawa, malam harinya, aku naik travel terakhir ke Lombok. Dan naik penerbangan paling pagi yang berangkat dari Praya ke Yogyakarta. Dari Yogyakarta, kami menyewa mobil, menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam ke Tambak, Banyumas.

Rombongan dari Palembang baru datang beberapa jam kemudian. Nostalgia tentang perjalanan demi perjalanan dari SumateraSumatra ke Jawa saat aku masih kecil melintas di kepala.

Ya, Mbah punya anak yang banyak. Empat anaknya merantau ke SumateraSumatra Selatan. Termasuk Bapak. Dulu, waktu Mbah masih hidup, hampir setahun sekali kami akan konvoi jalan darat dari Sumatera. 

Perjalanan jauh itu selalu terasa seru dan menyenangkan sebab sebelum reformasi terutama, orang Sumatra memandang Pulau Jawa sebagai pusat peradaban, sesuatu yang lebih maju. Meski hal itu berubah setelah reformasi. Palembang kini sudah menjadi metropolitan baru.

Sialnya, Bapak juga mungkin bernostalgia. Setiap ke Jawa, ia akan mengajak kami melancong. Namun, tempatnya itu-itu saja. Pertama, Pantai Ayah/Lo Gending. Kedua, Goa Petruk. Ketiga, Jatijajar. Dan keempat, Baturraden. Pokoknya hanya di antara keempat tempat itu.

Hari pertama kami di Banyumas, kuliner menyambut makan malam kami. Bulik tentu saja menyiapkan pecel khasnya, mendoan, dan sate bebek. Tambak memang terkenal banget dengan sate bebeknya. Lembut.

Hari kedua, setelah berziarah, kami berjalan-jalan ke, untunglah, Pantai Cemara Sewu, yang letaknya nggak jauh dari Pantai Ayah. Ramai sekali orang berplesiran. 

Rasanya di Jawa, berwisata sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan saat lebaran. Terkadang aku tak bisa memahami apa gunanya berwisata ke tempat yang isinya penuh manusia. Sampai parkir saja susah. Macet pun di mana-mana. Mereka berbondong-bondong naik truk ke tempat wisata-wisata tersebut.

Sebuah gambar berisi langit, pantai, air, alam

Deskripsi dibuat secara otomatis

Pantai Cemara Sewu tidak berpasir putih. Melainkan hitam. Ombaknya lumayan tinggi. Khas ombak pantai selatan. Yang menyenangkan, garis pantainya sangat panjang. Hanna yang waktu itu berusia 2 tahun sangat bahagia bermain pasir di pantai.

Keesokan harinya, ya, kami ke Baturraden. Pemandian air panas. Aku lupa sudah berapa kali ke sini. Namun, ada satu tantangan tersendiri. Aku belum pernah sampai ke Pancuran 7. Aku membayangkan di sana sangat indah karena pancuran 1 saja sudah bagus.

Hanna kutitipkan ke eyang. Lalu aku bersama istriku, dan kakak iparku, pun mendaki hingga pancuran 7. Engap. Andai waktu itu aku nggak berhasil menurunkan berat badan 8 kg, mungkin aku nggak akan kuat sampai ke atas. Dengan kondisi itu saja, lututku sudah terasa kopong.

Sayangnya, kecewa rasanya ketika sampai di Pancuran 7. Bukan lanskap bebatuan bak air terjun yang megah yang kutemui, melainkan ya benar-benar pancuran air panas saja. 

Itulah kenangan terakhir kami berlebaran bersama, satu keluarga utuh. Tidak tahu lagi kapan bisa berlebaran bersama-sama. 

Pandemi pun menerpa. Tahun 2020 lalu, aku sekeluarga tidak pulang dan berlebaran di Bogor. Untunglah berkat memasang IndiHome, kami masih bisa silaturahmi tanpa batas via video call. Sesuatu yang belum bisa dilakukan saat masih berada di Sumbawa karena pada waktu itu jaringan di kampungku belum bagus, meski di kantorku sudah memadai. Internet stabil ternyata memang dibutuhkan di mana saja dari Sabang dan Merauke dan akan kita rasakan manfaat internet menyatukan Indonesia.

Tahun 2021 menjadi cobaan terberat. Bapak kena Covid saat bulan puasa dan harus masuk ruang ICU. Kondisinya sudah sangat parah. Awalnya, kami hanya berkomunikasi via video call. Namun beberapa hari, beliau sudah kepayahan untuk menerima panggilan. Hatiku pun berontak dan segera pulang meski tak bisa menjenguknya secara langsung. Hanya lewat layar dan penuh doa berharap kesembuhannya. Kondisinya sempat parah betul, lalu setelah mendapatkan plasma konvalesen, kondisinya pun berangsur-angsur membaik hingga dinyatakan sembuh—meski Covid-19 telah menyebabkan kerusakan pada pankreasnya sehingga kini harus rajin suntik insulin.

Tahun lalu aku berlebaran di Palembang dan harus terpisah dari istri dan anak-anakku. Untungnya ya internet menyatukan Indonesia sehingga rindu yang sedemikian membuncah bisa diobati sedikit dengan tatap muka di layar ponsel.

Tahun ini alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa tugas belajar kembali dan tidak perlu merasakan “tradisi mudik” yang sedemikian parah kemacetannya bila melihat berita. Ya, aku mendapatkan tugas belajar di kampung halamanku sendiri di Universitas Sriwijaya sehingga notabene aku tinggal di Palembang sekarang, sambil kuboyong seluruh keluargaku pindah ke sini. Dekat dengan bapak-ibuku, kakak-kakakku. Ini kali pertama aku berpuasa hingga berlebaran di kampung halaman sejak lulus SMA 17 tahun yang lalu.

Setelah lulus, tak tahu lagi akan ke mana lagi aku ditempatkan. Bisa jadi pindah ke ibukota baru di Kalimantan. Atau mendapatkan penugasan di wilayah lain. Tak ada yang tahu. Satu yang aku tahu, selama ada IndiHome di sana, aku tak begitu khawatir karena internet menyatukan Indonesia, aku tetap bisa berkomunikasi dengan keluargaku selalu—sambil menyalakan petasan atau kembang api, dan di langit lain mereka melakukan hal yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.