Perjalanan ke Puncak Mantar

Sinyal dan Analogi Puncak Mantar

Hanya ada 7 albino. Setiap satu albino meninggal dunia, satu albino lain akan lahir. Itulah salah satu mitos yang terkenal di Desa Mantar, Sumbawa Barat.

Perjalanan ke Puncak Mantar beberapa tahun silam sangat berkesan. Saat itu keadaan infrastruktur jalan ke puncak belum memadai. Setelah menempuh jarak sekitar 120 km dari Sumbawa Besar dengan sepeda motor, kami menyewa angkutan khusus dengan bak terbuka yang punya tenaga untuk mendaki jalanan berbatu. Sudut elevasi jalanan lebih dari 45 derajat, layak dikatakan sangat curam. Adrenalin begitu terpacu apalagi melihat sisi jalan yang terbuka adalah jurang.

Mantar memang punya pesona tersendiri. Selain berbagai kisah yang ada, lokasi yang menjadi tempat pengambilan film Serdadu Kumbang itu menyajikan pemandangan awan berarak bila kita beruntung.

Mantar memiliki ketinggian kurang lebih 660 kaki di atas permukaan laut. Dari Puncak Mantar, kita dapat menyaksikan puncak Gunung Rinjani (yang luar biasa bila dilihat saat matahari mulai terbenam) dan Gunung Tambora (yang luar biasa bila dilihat saat matahari baru terbit).

Bagi komunitas pejalan seperti kami, perjalanan juga tentang mendapatkan konten. Saat itu, salah satu misi kami adalah mempromosikan pariwisata Sumbawa yang sebenarnya tidak kalah dari Lombok. Karena itulah, dalam setiap perjalanan, kami membutuhkan gawai untuk segera menangkap pengalaman itu dan membagikannya ke media massa.

Sayangnya, saat itu, masih jarang ada ponsel canggih seperti sekarang yang menyediakan kamera berkualitas. Sehingga dalam perjalanan, mau tak mau, ada yang bertugas membawa kamera DSLR (belum ada mirorrless), dan ada yang membawa laptop. Sensasi mengetik di waktu berisitirahat dengan ingatan akan sensasi perjalanan yang masih kental menjadi bahan bakar yang cukup ampuh.

Apalagi aku punya kebiasaan secara spontan menulis puisi saat berada di destinasi wisata.

Dari Puncak Mantar

ada jarak sejauh tatapan mata
garis pantai serupa lengkung alismu

tujuh orang albino bertanya tentang nenek moyang
aku yang mencari dan berlindung di bawah bayang-bayang

ada dosa-dosa yang terbayang ketika langit
terasa begitu dekat
seperti tuhan tengah menatap aku yang sedemikian kecil
seperti aku menatap kota-kota yang bagai titik
nun jauh, meringkuk, menekuk lututnya
lalu bersujud, bak sujud ilalang pada angin

kepada siapa pun yang telah kucintai
dan akan kucintai, mencintai
adalah hal yang tak akan selesai
batu-batu kerikil atau jalan menanjak terjal
dan sebuah nuansa puncak Rinjani dari kejauhan
yang ingin memeluk matahari yang serupa
perempuan pemalu
menyembunyikan dirinya

dan hal-hal yang kita sembunyikan, tak tersembunyikan
perasaan yang jujur, keinginan yang terlanjur diucapkan

aku tak tahu, jarak itu akan tertempuh
atau kaki yang terlebih dahulu melepuh
dalam langkah-langkah lugu mencari masa lalu

sesampainya kita di mantar, dan kata-kata terhampar
seperti jerami yang diabaikan

seperti daun-daun gugur yang penasaran
sebegitu teganyakah ranting melepaskan….

(2014)

Beruntung saat ke Mantar itu, kami mendapatkan sinyal yang cukup baik. Sehingga konten-konten yang sudah kami dapatkan, dapat langsung kami unggah ke media sosial.

Bila kalian ke Mantar sekarang, segala sesuatunya sudah jauh lebih baik. Mantar telah menjadi salah satu tujuan utama pelancong yang hendak ke Sumbawa. Berbagai fasilitas sudah dibangun, termasuk jalan dan bahkan ada tempat untuk paralayang.

Puncak Mantar adalah sebuah analogi. Sinyal dan kecanggihan gawai tidak bisa dipisahkan. Masih teringat jelas zaman ketika aku harus naik pohon jambu demi mampu menelepon (calon) pacarku–yang sekarang jadi istriku. Gawai secanggih apa pun tidak bisa berkutik apabila tidak ada sinyal.

Saat masih berada di Sumbawa itu, Blackberry masih merajai pasar ponsel pintar. Tak lama setelah itu Android baru populer di Indonesia dan pilihanku jatuh ke produk-produk Xiaomi. Masih teringat ponsel Xiaomi pertamaku adalah Mi 3. Dan kini, yang kupegang sudah seri Mi 8 Lite.

Ilustrasi Mi 8 Lite kalau masih mulus.

Mi 8 Lite ini menggantikan Redmi Note 4 ku sebelumnya, yang rusak karena aku jatuh dari perahu saat ke Belitung. Ponselku itu terlempar dan terendam air laut. Awalnya tampak tidak rusak. Masih menyala. Sekembalinya ke hotel, baterainya habis lalu kucharge dan kutinggal mandi. Selesainya dari kamar mandi, aku mencium bau hangus. Ternyata ponselku itu terbakar. Mungkin ada sisa air laut di dalamnya sehingga konslet.

Sebenarnya Mi 8 Lite ini sudah cukup mampu membantuku beraktivitas. Terlebih sejak pandemi melanda, Mi 8 Lite ini menjadi andalanku buat bekerja. Penerapan flexibility working space membuatku banyak bekerja dari rumah, bahkan dari tempat liburan. Beberapa kali aku rapat dari curug. Curug-curug di Bogor alhamdulillah tidak membuatku kesulitan cari sinyal. Sambil duduk di saung, makan mi rebus dan segelas kopi, rapat-rapat tetap bisa dengan lancar kuikuti.

Curug Lembah Pelangi. Dokumentasi pribadi dengan ponsel Mi.

Namun belakangan aku berpikir untuk mengganti ponselku. Selain sudah dua tahun menemani perjalanan, sudah ganti LCD dua kali, aku merasa kebutuhanku akan kapasitas gawai meningkat pesat.

Setidaknya ada beberapa pertimbangan untuk ponselku berikutnya. Pertama, kamera yang apik. Perjalanan membawa beberapa alat itu tidak efisien. Terutama apabila aku harus ke air terjun yang menjadi favoritku. Kalau harus bawa kamera digital, terasa kurang agile. Apalagi ada risiko jatuh terpeleset ke air. Karena itu, aku membutuhkan ponsel dengan kualitas kamera yang memadai yang memiliki fungsi-fungsi mendekati kamera digital. Kedua, performa yang menawan didukung keamanan yang memadai. Ponsel buatku bukan cuma buat hiburan. Di sana juga ada berbagai pekerjaan hingga investasi. Kecepatan dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan cepat. Berbagai aplikasi yang kubutuhkan juga menyaratkan RAM yang besar. Ketiga, kapasitas penyimpanan yang besar. Ponselku sekarang memiliki penyimpanan 64 GB tapi itu terasa tidak cukup. Karena itu ponselku selanjutnya minimal harus 128 GB. Keempat, kokoh dan tahan lama. Pengalaman sebelumnya, hapeku terasa sangat rentan. Jatuh lalu pecah. Jadi, aku membutuhkan ponsel yang lebih kuat. Juga kapasitas baterai yang lebih tahan lama.

Sebenarnya, pilihanku berkisar di antara Infinix Note 10 Pro, Mi Poco X3 Pro, atau Realme 8 Pro. Sembari menunggu promo 11.11, aku tengah mempertimbangkan masak-masak kelebihan dan kekurangan masing-masing sebelum memutuskan mana yang akan kubeli. Carisinyal cukup membantuku mendapatkan informasi ketiganya.

Bila perlu, aku harus beristikharah dulu, sembari mengingat perjalanan demi perjalanan yang telah kulalui, membacakan puisi demi puisi yang telah kutuliskan, untuk menentukan ponsel mana yang akan menjadi bagian dari takdir peneman perjalananku berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.