Tradisi Arak Bako

Tradisi Arak Bako (Bararak) di Minangkabau

Ini adalah cerita lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat aku menikah dengan seorang gadis asal Solok, tanah Minangkabau. Ada satu tradisi yang sangat berkesan, yaitu kami berjalan kaki bakda pernikahan. Belakangan, aku baru tahu namanya bararak, atau juga tradisi arak bako.

Apa sih maksudnya tradisi arak bako?

Arak Bako berasal dari kata arak dan bakoArak berarti bawa sedangkan bako merupakan saudara perempuan dari pihak ayah, keluarga garis ibu dari pihak ayah. Saat anak daro (pengantin perempuan) akan melangsungkan pernikahan, pihak bako akan melakukan Arak Bako, yaitu tradisi iring-iringan anak daro. Bagi pihak bakoanak daro yang akan menikah disebut sebagai anak pisang. Tradisi ini merupakan wujud syukur dan kebahagian para bako atas pernikahan anak pisang mereka. Melalui tradisi ini, mereka juga mengabarkan kepada masyarakat bahwa anak pisang mereka akan menikah.

Tradisi Arak Bako dimulai dengan penjemputan anak daro oleh pihak bako menuju rumah induak bako. Bako juga mengundang anggota kerabat hingga tetangga untuk menghadiri acara tersebut. Kemudian, anak daro beserta pihak bako dan tamu undangan akan melakukan iring-iringan atau pawai dari rumah induak bako terdekat (kakak atau adik perempuan ayah) menuju rumah orang tua anak daro.

Ternyata, posisi dalam barisan ini diatur sedemikian rupa. Dari barisan paling depan berjajar anak darotuo arak bako (perempuan yang paling dihormati di pihak bako), keluarga dekat, hingga tetangga atau keluarga yang hubungan kekerabatannya jauh. Semakin di belakang, menandakan semakin jauh hubungan kekerabatan dengan anak daro. Di beberapa keluarga, anak daro terkadang didampingi juga oleh marapulai (pengantin laki-laki). Ada atau tidaknya marapulai tergantung dari kesepakatan kedua pihak. Nah, aku termasuk yang begini.

Sebenarnya di depan kami waktu itu ada tari piring. Ada musiknya juga tentu. Sayang saat itu tidak diabadikan dalam bentuk video.

Tradisi Arak Bako yang betulan, kata istri, sebenarnya lebih kompleks dan mendetail. Apa yang kami jalani saat itu hanya seperti formalitas. Detail-detailnya banyak dihilangkan.

Yang kuingat betul ya selesai bararak, istriku kelelahan. Suntiang di kepalanya berat, dan membuat dia pusing menahannya. Lihat saja, alih-alih tersenyum, wajahnya cemberut begitu.

Nah, yang detail ada begini: saat rombongan iring-iringan tiba di rumah anak daro, seorang panjawek baban (penerima beban) yang telah siap di halaman, akan menerima hadiah yang dibawa. Isinya akan dikeluarkan dari ketiding dan diganti dengan bingkisan berupa nasi, gulai nangka, dan nasi lamak sebagai imbalan dan ungkapan rasa terima kasih.

Selanjutnya, rombongan Arak Bako akan dijamu oleh tuan rumah dan menyantap hidangan bersama-sama. Usai jamuan, pihak bako akan menyerahkan anak daro pada orang tuanya, kemudian meninggalkan tempat, yang menandakan bahwa proses Arak Bako berakhir. Proses ini sekaligus sebagai pertanda bahwa pihak bako telah memberi restu atas pernikahan anak pisang mereka.

Gimana seru ‘kan? Tertarik buat mempersunting gadis Minangkabau?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *