Air Terjun Oehala

Tuah Sihir Mollo

“Kalau bisa pulang kampung, apa yang akan kita bangun, Ne?”

Pertanyaan semacam itu sudah menjadi rutinitas dalam pillow talk aku dan istriku. Terlebih saat aku baru pulang dari Mollo, Timor Tengah Selatan. Di sana aku bertemu Christian Dicky Senda, seorang penulis dan aktivis, yang mendirikan Lakoat Kujawas, sebuah komunitas kewirausahaan sosial anak muda yang bergerak di bidang seni dan budaya.

Cerita panjang mengalir dari bibirnya. Tidak seperti kebanyakan perantau lain, yang lebih memilih bekerja di “pusat peradaban”, Dicky justru kembali ke kampung halamannya, di kaki gunung Mutis, setelah menyelesaikan kuliah di Yogyakarta. Dia merasa terpanggil untuk menggali apa yang ada di kampung halamannya.

Mulanya Dicky bekerja di Kupang. Ia menjadi konselor pendidikan. Dalam risetnya, ia melihat kampung-kampung semakin tertinggal karena anak-anak mudanya tidak pernah kembali ke kampung setelah menempuh pendidikan. Ada pula yang putus sekolah, mencari pekerjaan di luar daerah, bahkan menjadi buruh migran di Negeri Jiran. Tak sedikit yang statusnya buruh ilegal.

Kerja Dicky yang sangat percaya pada “kedaulatan budaya” guna mendefinisikan identitas kampung halaman, salah satunya dengan cara riset-riset yang ia lakukan bersama teman-temannya yang juga mencakup resep-resep nenek moyang membuahkan perhatian publik. Dicky sangat rajin membagikan eksperimen-eksperimen resep itu di media sosialnya. Mulai dari sambal hingga selai. Mulai dari percobaan minuman dari buah-buahan asli Mollo, kopi, hingga jagung bose-nya yang ia buat dari jagung berbiji ungu. Produk makanan yang sudah layak dipasarkan ia siapkan bersama mama-mama Mollo.

Pizza Buatan Dicky Senda dengan bahan asli alam Mollo (Sumber: BBC)

Sihir Mollo itu cukup membuatku gelisah. Sebagai eks anak ITB, kami mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan. Tugas akhirnya adalah membuat proposal bisnis yang memiliki efek baik ke masyarakat. Berbagai barang pernah kami tekuni, mulai dari ponsel refurbish, mutiara, mukena, batik, hingga buku-buku sastra, kami jual di media sosial. Hal itu kulakukan sebagai pembelajaran meski profesi utamaku adalah seorang ASN.

Namun, kegelisahan melihat Dicky Senda adalah sesuatu yang kami rindukan selama ini. Bagaimana sebuah pekerjaan bisa berdampak langsung bagi lingkungan, terutama masyarakat sekitar?

Selain Dicky Senda, aku juga menyaksikan beberapa teman lain bertumbuh. Salah satu yang paling mentereng adalah Pamitra Wineka, Co-Founder dari Tani Group. Teman seangkatan di Matematika ITB 2005 itu membuat sebuah start-up yang menangani masalah pertanian mulai dari pembiayaan hingga penjualan produk pertanian.

Apa yang dilakukan Dicky Senda dan Pamitra Wineka ini adalah sebuah masa depan. Ini juga yang sempat dicita-citakan Mohammad Hatta dengan konsep koperasinya. Desa jangan dianggap sebagai unsur terkecil pemerintahan. Namun, desa adalah pondasi terpenting dari pemerintahan yang akan membangun perekonomian dengan cara menghimpun dana dalam kelompok-kelompok desa, lalu setiap desa membangun kekhususannya dalam berekonomi.

Tatkala pandemi menghajar berbagai sektor, banyak usaha limbung, tenaga kerja dirumahkan. Mereka yang masih percaya hidup bisa disambung, bisa lebih sukses ketimbang saat masih menjadi pegawai. Beberapa kenalanku yang sempat buntung itu kemudian menemukan ikan. Ya, mereka beternak dan membudidayakan ikan. Ada yang ikan hias, ada yang ikan buat dimakan. Sebulan minimal 5 juta mereka dapatkan.

Pandemi ini seakan membukakan mata, pekerjaan masa depan termaktub dalam sebuah frasa bernama green jobs. Sederhananya, green jobs adalah berbagai jenis pekerjaan yang ramah lingkungan. Namun, makna lain di balik itu adalah soal sustainability alias keberlanjutan pekerjaan tersebut yang tentu saja harus mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar.

Nah, Indonesia dalam frasa “kedaulatan budaya” yang didefinisikan Dicky Senda sebenarnya sudah memiliki akar itu. Hal yang paling utama adalah bidang pertanian/perkebunan. Pandemi membuktikan satu-satunya sektor yang tumbuh dengan terjaga adalah sektor ini. Ketika otoritas tampak “memunggungi” lahan pertanian utama untuk kebutuhan pangan, untungnya ada insan yang tergerak terjun memadu-padankan segala aspek yang ada dengan teknologi. Dari Ricky Elson yang kembali ke Cijerah dan mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin sendiri hingga Pamitra Wineka yang mendukung naik harkatnya menjadi petani dan mengonsumsi produk pertanian produksi asli petani Indonesia.

Perjalanan demi perjalanan sejak beberapa tahun lalu saat melihat Sungai Pusur dibersihkan dan dikelola menjadi arena river tubing, kembalinya para sarjana ke Desa Kemudo Makmur yang terus berupaya mencapai kemandirian desa, membuat pembicaraan pillow talk kami malam itu jadi begitu kaya.

“Kalau bisa pulang kampung, apa yang akan kita bangun, Ne?”

Pertanyaan itu terus-menerus memanggil kami untuk mencari jawabannya. Pulang menjadi kata paling sublim yang tidak tahu kapan menemu artinya. Sebab, panggilan negara, pengabdian kepada ibu pertiwi masih terjaga di dalam dada. Meski nun jauh di sana, ada bentuk pengabdian masyarakat lain yang sedang menanti kami… seperti menjadi pelopor instalasi sampah di Sungai Batang Gumanti, yang menjadi PR Besar karena masyarakat masih membuang sampah-sampahnya ke sungai. Sayang sekali, padahal sungai itu begitu indah. Dan keindahan itu seperti meminta kami pulang untuk merawatnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *