Wisata Brang Bako yang Eksotis

oleh Randal Patisamba

“Di balik foto-foto yang indah tentang sebuah tempat yang keren, butuh perjuangan untuk mencapainya.”

Kalimat di atas begitu pas menggambarkan perjalanan saya Sabtu Kemarin (16/11/19) bersama rekan Adventurous Sumbawa dan Pokdarwis Dararambado mengeksplorasi potensi pariwisata kawasan Tero dan Brang Bako di Desa Jotang Beru, Kecamatan Empang Sumbawa. Kondisi jalan yang belum beraspal disertai tanjakan yang cukup ekstrim menjadi tantangan tersendiri menuju kedua kampung ini.

Tujuan utama kami yaitu Kampung Brang (sungai) Bako (bakau). Sebuah perkampungan kecil di bagian paling selatan pulau Sumbawa yang hanya dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga. Rasa penasaran saya tentang kampung ini begitu besar, selain hutannya yang masih lebat juga memiliki garis pantai cukup panjang, berpasir putih, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Wilayah Brang Bako dan sekitarnya pernah menjadi lokasi syuting beberapa program TV swasta nasional.

Dari Desa Jotang Beru, mobil ranger yang kami tumpangi melesat di atas jalan beraspal. Matahari lumayan terik. Awal Bulan Nopember seperti sekarang ini, musim kemarau lagi panas-panasnya. Hujan pun tak kunjung turun. Setelah 3 kilometer lebih, kondisi jalan mulai menanjak, berkerikil, disertai batuan lepas dan berdebu. Tanjakan pertama yang cukup miring, si ranger agak kesulitan menaklukkannya. Setelah beberapa kali percobaan, baru kemudian berhasil. Benar-benar the real adventure.

Sebenarnya jarak ke Brang Bako tidak terlalu jauh, cuma sekitar 20-an kilometer, namun karena medan jalannya lumayan parah, perjalanan jadinya agak lama. Satu hal yang bikin saya sedih, di kiri kanan jalan, bukit-bukit sudah gundul, terbabat habis akibat jagungnisasi. Cuma di beberapa titik kondisi  hutannya masih cukup lebat. Bisa dibayangkan betapa sejuknya perjalanan kami seandainya hutan di sekitar masih terjaga dengan baik.

Kampung pertama yang kami jumpai yaitu Dusun Tero. Penduduknya sekitar 90-an jiwa. Berada di dataran sebuah lembah subur yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Di sini terdapat sebuah pantai berpasir putih bernama Dara Belang. Pantai yang sangat indah. Bersih berpasir putih. Jangan tanya jaringan seluler di sini karena kita sudah memasuki area blank spot. Otomatis hanya bisa berkomunikasi lewat radio.

Dari kampung Tero rute perjalanan kembali menanjak. Terdapat sebuah tanjakan yang cukup bikin sport jantung. Orang setempat menyebutnya Paruak Setekuk. Dari puncak tanjakan Satekuk nun jauh di sana keelokan ombak Dara Belang menghampiri pantai dengan genitnya. Tak jauh dari Paruak Satekuk terdapat spot paralayang. Angin yang relatif stabil, hamparan pasir putih pantai Dungko Kore di bawahnya serta birunya samudera, menjadi sensasi tersendiri para penghobi paralayang. Kami mampir sejenak. Kebetulan waktu itu beberapa atlet paralayang lokal sedang unjuk kebolehan.

Perjalanan kami lanjutkan. Kembali menyusuri perbukitan ladang-ladang tandus yang akan ditanami jagung. Jalan kembali menurun, berkelok, bebatuan lepas dan berdebu. Kemudian  menyusuri jalan sempit sepanjang pinggir pantai. Kami sampai di sebuah sungai kecil. Namanya Brang Rora. Walau mengalir kecil namun airnya sangat jernih.  

Kondisi hutan sekitar Brang Rora masih terjaga. Menurut orang tua yang punya lahan yang ikut bersama rombongan kami, dulunya antara Kampung Tero hingga Kampung Brang Bako vegetasi hutannya sangat padat. Sepanjang hari hampir tak bisa melihat matahari secara langsung karena tertutup rimbun pepohonan. Namun semuanya berubah karena alasan perut dan perut. Klasik memang.

Kami tiba di Brang Bako. Perkampungan kecil yang semua masyarakatnya sebagai petani dan peladang. Kadang-kadang mereka juga mencari ikan di sepanjang pantai saat air laut surut. Mereka menyebutnya Bakalili. Masyarakatnya sangat ramah dan menyambut kami dengan antusias. 

Suara dentuman ombak memecah pantai begitu keras terdengar hingga perkampungan. Serta merta saya bergegas mengikuti rasa penasaran saya. Deburan Ombak pantai selatan menyambut saya bersama rekan-rekan yang lain. Sempat ngeri juga melihatnya tapi ketakutan itu sirna dengan keelokan pantainya yang masih perawan. Tempat yang sunyi dan tersembunyi hanya deburan ombak yang menemani.

Pantai Brang Bako memiliki panjang kira-kira 4 kilometer. Sebagian berpasir putih halus dan seperti biji merica. Tumbuhan pandan dan semak belukar seakan menambah keasrian area pantai. Di pantai ini kita dapat menikmati sunrise dan sunset dengan indahnya. Dari sudut manapun, setiap foto yang diambil dijamin Instragramable banged. Pantai yang begitu eksotis!

Kami memilih mendirikan tenda di pinggir pantai, sebagian hanya memakai sleeping bag. Hal yang tak boleh lupa! pakai lotion antinyamuk kalau tidak ingin menjadi santapan nyamuk-nyamuk pantai yang terkenal ganasnya.

Malam semakin beranjak. Hanya suara deburan ombak menyapu pantai yang berjarak belasan meter dari tenda kami. Suasana sunyi  mendadak ramai. Air laut tiba-tiba menyapu sebagian peralatan dan perlengkapan kami. Sontak semua kaget! Rupanya malam itu lagi purnama. Pengaruh gravitasi bumi dan bulan berdampak pada gelombang pasang air laut. Konon ombak pantai selatan juga kadang sulit diprediksi. Malam yang panjang ditemani nyamuk-nyamuk nakal.

Tak kalah menariknya, di Pantai Brang Tiram dan Brang Bako terdapat spot surfing. Keunikan ombak surfing Brang Bako memiliki arah sapuan ke kiri yang disebut ombak kidal, bukan ke kanan seperti pada umumnya. Salah satu jenis ombak yang membutuhkan keahlian khusus untuk menaklukkannya sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para peselancar. Keunikan ini semakin lengkap dengan keindahan panorama pantai yang sangat mempesona serta kehidupan masyarakatnya yang sangat ramah dan bersahaja.

Ooh yaa, rombongan kami juga bersama para surfer yang tergabung dalam Maluk Sekongkang Surfing Club’s (MSSC) yang berniat menjajal ombak Brang Bako. Sensasi spot surfing Brang Bako dan Brang Tiram sudah pernah dijajal oleh para peselancar dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, Singapura, Brazil dan beberapa negara eropa. Oleh peselancar Amerika, spots ombak tersebut di namakan Ombak Macan (tiger waves).

Di sebelah timur spot surfing Brang Bako terdapat pantai yang tak kalah indahnya. Namanya Batu Dulang (nampan), karena terdapat sebuah batu menyerupai nampan. Namun bentuknya sudah tidak utuh. Disekitarnya tersebar bongkahan batu dengan aneka ukuran dan bentuk yang unik. Kemungkinan akibat gelombang pasang pantai selatan yang terkenal ganas sehingga batu-batu tersebut terlempar ke sisi pantai. Batu-batu ini pas banged buat berswafoto ataupun sebagai objek foto lanscape para pencinta fotografi ditambah dengan di sekitar pantainya terdapat hutan yang masih lebat dengan pohon-pohon menjulang tinggi. So amazing!

Selain Pantai Brang Bako dan Brang Tiram juga terdapat spot wisata alam lainnya seperti Air terjun Ai Ngarebas, Air Terjun Bukit Batu, Pantai Dungku Kore serta Pantai Batu Bangka.

Karena keterbatasan waktu. Cuma dua hari satu malam. Waktu yang tak cukup untuk mengeksplore spot-spot lainnya ataupun menemukan spot yang baru yang tak kalah menarik. Akan ada trip selanjutnya. Inshaa Allah saya pasti akan berbagi kisah perjalanan dengan pembaca sekalian yang budiman.

Entah kenapa namanya Tiram. Mungkin karena di muara sungai ini yang tak terlalu jauh dengan pantai, dulunya banyak ditemui kerang kerang laut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *