Batu Beleh Batu Betangkop

Dahulu kala di sebuah desa di pangkalan balai hiduplah seorang janda denngan kedua anaknya. Anaknya yang pertama berumur 10 tahun dan anaknya yang kedua masih bayi. Mereka telah menjadi yatim.
Ibunya mencari nafkah untuk kedua anaknya yang masih kecil-kecil itu. Mereka hidup sangat sederhana. Mereka mencari apa saja yang ada di hutan untuk dimakan. Ibunya juga mencari ikan di sungai dan dapatlah seekor ikan mas besar. Dibawanya ke rumah lalu dimasaknya. Tertapi ikan ma situ belum dimakan dan disimpan dalam lemari.
Sore hari ibu mencari jangkrik di hutan untuk dimakan. Selam berjam-jam ia mencari jangkrik untuk menjadi samtapan bagi mereka atau pun dijual. Hasil penjualan jangkrik dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Setelah ia medapatkan jangkrik yang banyak ia pulang ke rumahnya. Dilihatnya makanan telah habis. Anaknya yang bersikap kurang ajar kepada ibunya. Jangkrik-jangkrik yang ditangkap dari sore hingga malam itu dilepaskannya saja. Apa boleh buat. Ibuhnya menangis karena sikap anaknya yang kurang ajar terhadapnya.
Ia pun pergi ke hutan dan menangis di balik batu besar.
“Ya uhan, alangke kurang ajar anakkum temukelah aku dengan batu betangkop, gek aku ditelannya dem tu ak ketemu lagi dengan anakku.”
“Kau diamlah. Aku batu betangkop yang kau cari. Aku akan menelanmuj jika kau mau,” ujar batu besar uyang ia duduki.
Seketika batu itu terbelah dan menelan ibu itu dan hanya jari ibu yang tersisa di luar batu. Anaknya mersa bersalah akan kelakuakn yang ia perbuat pada ibunya. Ia lalu mencari ibunya di huan. Sambil menggendongg adiknya yang masih bayi. Ia menjerit memanggil ibunya.
“Umak…Umak kau di mane oi umak, aku tak sengaje kurang ajr deng umak,”jeriytnya
Lalu ia treingat dengan omongan ibunya mengenai batu betangkop yang ada di hutan. Ia mencari bau tersebut sambil bertembang
“Betu belah, betu betangkup, jengan kau telan umakku, kau di mane.”
I menjerit selalu me,mangggil nama ibunya dan tak henti-hentinya bertembang. Adiknya menangis karena kelaparan ingin menyusu dengna ibunya.
Tiba=tiba sebuah batu besar memangilnya.
“Umakkmu sudah kumakan. Potonglah jempol tangan umakmu ini untuk adekmu,” ujar batu.
Dipotongnyalah jempol ibunya untuk menjadi pengganti ASI dari ibunya untuk adiknya. Ia berlari meninggalkan hutan dan mengingat kejadian itu sampai tua.

Asal-usul Bom Berlian

Dahulu Kala ada suatu dermaga yang sangat ramai di kunjungi oleh para pedagang. Dermaga itu terletak di desa ujung. Di desa ujung ada saudagar kaya raya dan arif bijaksana. Ia biasa disapa orang dengan sebutan Pak Thalip. Pak Thalip mempunyai anak gadis yang sangat cantik. Kecantikannya bagai bidadari yang turun dari kayangan dan bagaikan berlian yang sudah diasah. Kepribadiannya sangat baik, tingkah lakunya sangat sopan, santun, dan ia juga tidak sombong Tidak heran orang-orang di desa ujung sangat senang kepadanya. Gadis itu bernama Munai.
Suatu hari seorang pemuda bernama Muning Saka yang berasal dari desa seberang datang ke desa ujung. Muning Saka pergi dari rumahnya karena orang tuanya ingin menjodohkannya dengan seorang gadis yang juga tinggal di desa ujung. Pemuda itu sangat tampan, gagah, berani, dan bijaksana. Pemuda tersebut datang ke desa ujung untuk mencari istri pilihannya sendiri. Ia ingin mencari istri yang ia cintai.
Setelah beberapa hari tinggal di desa ujung, ia belum juga berhasil menemukan gadis pujaan hatinya. Akan tetapi, ia tidak putus asa. Ia tetap tinggal di desa itu karena masyarakat di sana sangat ramah. Hal tersebut membuat Muning Saka betah tinggal di sana.
Suatu hari Muning Saka mendengar kabar bahwa di desa ujung ada seorang saudagar kaya yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik luar biasa. Muning Saka sangat penasaran dan ia ingin membuktikan sendiri kebenaran berita tersebut. Ia tidak percaya sebelum melihatnya sendiri. Ketika ia sedang duduk santai di atas kapal, dia melihat di sekitar dermaga ada seorang gadis yang sangat cantik. Ia amati baik-baik tingkah laku gadis itu. Sifat gadis itu terhadap orang-orang yang dijumpainya sangatlah sopan dan ramah. Muning Saka terpesona dan terkagum-kagum kepada. Ia pun menetapkan bahwa gadis yang dilihatnya itulah yang cocok untuk jadi pendamping hidupnya. Bertanyalah ia kepada orang-orang desa ujung tentang gadis cantik tersebut. Ternyata, gadis itu bernama munai. Muning Saka terkejut dan termenung ketika mendengar nama Munai. Munai adalah gadis yang ingin dijodohkan dan dinikahkan dengannya.
Pada suatu kesempatan Muning Saka mendatangi rumah Pak Thalip dengan maksud melamar munai. Dengan berani dia menyampaikan tujuan kedatangannya kepada Pak Thalip. Ia disambut dengan baik oleh Pak Thalip dan lamarannya pun diterima dengan senang hati.Munainya pun tidak keberatan sama sekali untuk menikah dengan Muning Saka. Ternyata, Munai telah menyukai Muning Saka sejak pertama kali melihatnya.
Hari pernikahan pun ditentukan. Muning Saka pulang ke rumahnya untuk memberitahukan kepada keluarganya dan ia akan kembali menjelang hari pernikahan.
Menjelang pernikahan, Pak Thalip bersama istrinya pergi untuk mengabarkan berita pernikahan munai.
“Munai anakku. Bapak dan Ibu akan pergi mengundang saudara-saudara kita. Bapak dan Ibu ingin hari pernikahan kamu nanti mereka semua bisa datang.”
“Iya, Pak.”
“Hati-hatilah di rumah.” Pesan Pak Thalip kepada anaknya.
Saat Pak Thalip dan istrinya pergi,datanglah segerombolan perampok memasuki rumah Pak Thalip. Gerombolan perampok tersebut mendatangi rumah Pak Thalip karena mereka merasa penasaran mendengar kabar tentang kecantikan Munai. Selain itu, mereka juga ingin mengambil harta Pak Thalip yang sangat banyak. Perbuatan perampok tersebut sangatlah keji. Selain mengambil semua harta Pak Thalip mereka juga memaksa munai melayani nafsu bejat mereka. Munai berusaha melawan, tetapi ia tidak berdaya melawan gerombolan perampok tersebut. Mulai diperkosa secara bergantian. Setelah puas, mereka membunuh Munai dan tubuh Munai mereka cicang seperti mereka mencincang hewan.
Ketika pak Thalip dan istrinya pulang, mereka sangat terkejut melihat kenyataan yang harus mereka terima.
“Anakku,” Jerit Pak Thalip dan istrinya. Mereka berlari meraih tubuh Munai yang sudah tidak karuan.
“Anakku Munai. Mengapa jadi begini, anakku!” jerit Ibu Munai keras-kerasnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit.“Bapak, apa yang telah mereka lakukan terhadap anak kita,”
“Bapak, aku menyesal telah meninggalkan Munai sendirian,”
“Aku juga menyesal, Bu.”
Pak Thalip dan istrinya segera mengabarkan kematian Munai kepada masyarakat dan keluarga Muning Saka.
Perih hati Muning saka menerima kabar kematian orang yang dicintainya. Ia pun berniat membalas dendam. Ia mengantarkan daging gajah yang dimasak dengan sangat sangat nikmat kepada gerombolan perampok. Daging gajah tersebut telah diberinya racun yang mematikan. Melihat sajian yang mengundang selera, gerombolan perampok langsung menyantap makanan yang diberikan Muning Saka kepada mereka. Setelah menyantap makanan tersebut, satu-persatu dari gerombolan perampok tersebut rubuh dan meninggal. Muning Saka mencincang tubuh para perampok seperti mereka mencincang munai. Tubuh para perampok itu dibuangnya ke laut.
Berita kematian munai membuat gempar desa ujung. Mereka membicarakan kematian seorang gadis cantik yang baik hati, berbudi luhur, sopan santun serta kecantikannya pun bak berlian yang berkilauan. Untuk mengenang kematian munai, masyarakat desa ujung mengganti desa ujung dengan nama “Bom Berlian”. “Bom”artinya gemparnya berita kematian munai, sedangkan “berlian”artinya kecantikan seorang gadis dan sifat yang berbudi luhur bagaikan berlian. Bom Berlian terletak di Pangkalan Balai, Banyuasin III, Sumatera Selatan.

Biawak Sisir

Tersebutlah kisah persahabatan dua Raja yaitu Raja Seberang Lautan dan Raja Sebelah Lautan. Merekaa berjanji apabila salah satu di antara mereka mempunyai anak laki-laki maka mereka akan mendatangi yang mempunyai anak perempuan.
Ternyata Raja Seberang Lautan mendapat seorang anak laki-laki, sehingga Raja Seberang Lautan mendatangi Raja Sebelah Lautan, akan tetapi sang Raja merasa malu karena anaknya berbentuk Biawak Sisir bukan berbentuk manusia biasa.
Beberapa waktu kemudian Biawak Sisir tumbuh dewasa dan ia pun menemui ibunya dan berkata
“Ibu aku ingin jalan-jalan ke kerajaan Sebelah Lautan”
“tapi kamu tidak sama dengan manusia yang lain, Nak”.
Namun Biawak Sisir tetap bersikeras pergi ke kerajaan seberang Lautan.
Biawak Sisir terus berjalan sampai ke kerajaan Sebelah Lautan dan bertemu dengan seorang putri.
“Hai pemuda siapa namamu dan darimana asalmu? “Tanya Putri.
“Aku Biawak Sisir berasal dari kerajaan Seberang Laut mencari teman yang dapat
kujadikan tempat berbagi suka dan duka”
“Kalau begitu maukah kau ke rumahku”
“Baiklah” jawab Biawak Sisir.
Akhirnya sampailah mereka di rumah sang Putri, mereka bercakap-cakap dan bertukar cincin mencocokkan jari Biawak Sisir dan Putri.
Tak terasa hari petang Biawak Sisir berpamitan pulang ke rumahnya.
“Darimana saja kamu, Nak?” Tanya ibu
“Aku dari kerajaan Sebelah Lautan bu!” jawab Biawak Sisir.
Kemudian Biawak Sisir menceritakan pertemuannya dengan Putri Kerajaan Sebelah Lautan tersebut ia merasa tertarik dengan Putrid an memperlihatkan cincin, selendang, kain dan baju pemberian Putri Raja tersebut.
Kemudian Biawak Sisir memohon kepada ayahnya untuk melamar sang Putri Raja Sebelah Lautan pada malam purnama ini.
Ayahnya berkata “Tapi ayah malu Nak, kamu bukan seperti orang biasa”.
“Kita turuti saja lah Pak” jawab ibu.
Dengan berat hati ayah menuruti permintaan Biawak Sisir.
Biawak Sisir merasa senang dan gembira mendengar permintaannya dipenuhi.

Sampailah waktu yang telah ditentukan lamaran pun dilaksanakan. Mereka disambut oleh sang Raja Sebelah Lautan, Ayah berkata “Maafkan aku sahabat anakku tidak sama dengan orang lain ia adalah Biawak Sisir”.
“Tidak mengapa, lamaran kalian tetap kuterima apalagi mereka sudah saling cinta tapi ada satu syarat” jawab Raja
Ayah Biawak Sisir berkata “Apa syaratnya”.
“Aku minta Biawak Sisir membuat sebuah Negeri, kalau Biawak Sisir mampu memenuhi permintaanku maka aku akan menerima kamu menjadi menantuku” jawab Raja Sebelah Lautan.

Ayah biawak Sisir bertanya “Apakah kamu sanggup memenuhi permintaan ayah sang Putri”.
“Baiklah aku akan memenuhi permintaan Ayah sang Putri untuk membuat sebuah Negeri asalkan kami dinikahkan terlebih dahulu,” jawab Biawak Sisir.
Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan, namun dua minggu pernikahan mereka ternyata permintaan Ayah sang Putri belum terpenuhi, melihat hal itu Ayah Putri marah “Hai Putri mengapa suamimu tidak menepati janjinya untuk membuat sebuah negeri, kalau ku tahu seperti ini tentu pernikahan ini tidak akan terjadi”. Mendengar hal itu Biawak Sisir berkata pada istrinya “Saya akan memenuhi permintaan ayahmu tapi tolong carikan jeruk nipis tujuh setangkai, budak turun tujuh”, kemudian Biawak Sisir mengajak istrinya ke laut untuk mandi, ia berpesan “jika kita sampai di laut ucapkanlah apa uang kau inginkan”
“Baiklah” jawab sang Istri

Sesampainya di laut sang istri berucap “Kembalikan suamiku seperti manusia biasa”. Biawak Sisir membakar kemenyan putih sambil berkata
“Jual anak jual kangkung kalau aku anak dewa terima sekali segala yang kuajung
(kuperintah) datang”.
Biawak Sisir turun ke laut dan menyelam cukup lama, tiba-tiba muncul kerumpang (kulit) Biawak Sisir itu lalu diambil oleh sang istri, tak lama kemudian muncullah seorang pemuda tampan yang tiada bandingannya. Pemuda itu tak lain adalah Biawak Sisir yang telah berubah wujud aslinya. Betapa senang hati sang Putri melihat suaminya telah menjadi manusia biasa.
Kemudian Putri diajak ke suatu tempat di tepi hutan, hutan tersebut dibakar dan dibersihkan, setelah dibersihkan Pemuda itu kembali membaca mantra “Jual anak jual anak kangkung kalau aku dewa turun sekali, segala yang kuajung (kuperintah) dating, jeramba emas banyak emas, angsa menjutai atau sampai ke laut”. Tiba-tiba keajaiban terjadi hutan yang telah merekaa bakar api pun reda tinggal asapnya kedua suami istri sudah berada di dalam istana yang sangat megah.
Akhirnya mereka pulang ke kerajaan dan menceritakan semuanya kepada Raja. Sebelum mereka pindah ke negeri baru itu Biawak Sisir berganti nama ‘MEGAT HARI’ Megat Hari kemudian menjadi Raja di negeri baru itu smapai turun temurun.

Asal-usul Tari Seluang Mudik

Dahulu kala di tepian Sungai Musi, di sekitar Desa Rantau Bayur dan Tebing Abang, tinggallah seorang bujangan yang hidup sendirian. Bujangan ini biasa dipanggil penduduk dengan sebutan Datuk Arenan. Karena usianya sudah sangat lanjut dan seumur hidupnya belum pernah menikah, tidak jarang orang menggelarinya dengan sebutan bujang tua.
Pekerjaan sehari-hari Datuk Arenan adalah mencari ikan di sungai. Ia mencari ikan dengan menggunakan ambat (rawai). Ambat adalah alat untuk mencari ikan yang dibuat dari rotan yang panjangnya sekitar 50 – 100 meter yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar. Di setiap 1 meter diletakkan kail yang diberi umpan. Pada bagian pangkal ambat diikatkan di pohon besar di pinggir sungai. Sementara di bagian ujung ambat diberi batu. Untuk mencari ikan ambat dibawa ke sungai dan ujung ambat diletakkan di tengah sungai. Ambat dipasang pagi atau sore hari dan diangkat pagi hari.
Seperti biasanya setiap pagi Datuk Arenan memeriksa ambatnya. Namun, tampaknya hari itu nasib baik tidak berpihak kepadanya.Di ambatnya tidak ada seekor ikanpun yang tersangkut, padahal saat itu sedang musim ikan mudik atau musim ikan kebangaran (mabuk). Pada musim itu biasanya air sungai warnanya berubah menjadi kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Di antara ikan-ikan mabuk itu yang paling banyak adalah ikan seluang. Ikan seluang mabuk itu sangat mudah didapatkan. Memang saat itu sedang musim kemarau. Rupanya ikan seluang yang berlimpah itu tidak menarik minat Datuk Arenan dan malah ia memasang ikan seluang sebagai umpan di setiap kail yang ada di ambatnya.
Walaupun ia sempat kecewa tidak mendapatkan satu ekor ikan pun, Datuk Arenan tidak patah semangat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Datuk Arenan melihat ambatnya. Rupanya, pagi ini Datuk Arenan kembali dibuat kecewa sebab tidak ada satu ikan pun yang melekat di ambatnya. Terpaksalah Datuk Arenan memasang lagi ambatnya dan menganti umpannya dengan yang baru. Setelah selesai, pulanglah ia ke rumah. Keesokan paginya ia periksa lagi ambatnya dan tetap tidak ada satu ikan pun yang ia dapatkan. Peristiwa ini berlangsung terus sampai satu minggu. Akan tetapi Datuk Arenan tidak pernah lelah. Tiap pagi ia terus berusaha dan tidak letih berharap sambil mengganti umpan dan memasang ambatnya.
Setelah satu minggu tidak mendapatkan hasil apa pun, tidak seperti malam-malam biasanya, pada malam itu itu Datuk Arenan tertidur sangat pulas. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi orang tua yang sangat bijak dan bersahaja. Orang tua itu mengenakan pakaian putih bersih, wajahnya berjenggot putih panjang, dan memegang tongkat layaknya seorang wali.
“Hai Datuk Arenan, jadilah Engkau orang yang sabar dan tabah. Besok pagi sekali pergilah Engkau melihat ambatmu dan akan Kau dapatkan keajaiban di sana,” ujar sang kakek.
“Keajaiban apakah yang akan aku temukan?” tanya Datuk Arenan.
“Aku tidak akan menjelaskannya. Sebaiknya Kau lihat sendiri keajaiban itu besok pagi,” jawab kakek.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sang kakek langsung menghilang dan Datuk Arenan pun terbangun dari tidurnya. Ia sangat heran dengan mimpinya karena seumur hidupnya belum pernah ia bermimpi seperti itu. Ia terus memikirkan mimpinya itu dan tidak bisa tertidur lagi. Ia pun tidak sabar menunggu pagi hari.
Untuk membuktikan mimpinya, pagi-pagi sekali Datuk Arernan pergi ke sungai untuk menarik ambatnya. Suasana masih sangat sepi, belum ada satu orang pun yang ia temui di perjalanan. Saat menarik ambatnya, ia melihat pada kail kedua dan ketiga tersangkut alat tenun yang lengkap dan sangat bagus. Diambilnyalah alat tenun itu. Ia pasang lagi ambatnya.
“Bagus sekali alat tenun ini, punya siapakah gerangan? Apakah ini merupakan pesan dari mimpiku tadi malam?” tanya Datuk Arenan dalam hati.
Setelah itu Datuk Arenan pun pulang membawa alat tenun tadi. Karena hari masih sangat pagi, tak ada seorang pun yang melihat ia membawa alat tenun tersebut. Setiba di rumah dibersihkannya alat tenun itu sehingga alat tenun itu terlihat semakin bagus, tidak rusak dan bisa dipakai untuk menenun.
Malam harinya, kembali ia bermimpi didatangi kakek yang muncul dalam mimpinya malam kemarin.
“Datuk Arenan cucuku, hari ini sudah kau dapatkan keajaiaban itu. Akan tetapi besok pagi kau harus pergi lebih pagi lagi dan akan kau dapatkan keajaiban yang tak terbayangkan,” ujar kakek tersebut.
“Keajaiban apa lagikah yang akan aku terima, Kek?” tanya Datuk Arenan.
Sang kakek tidak menjawab, tetapi langsung menghilang. Datuk Arenan terbangun dari tidurnya dan terus memikirkan arti mimpinya itu.
“Apa ya, kira-kira yang akan terjadi besok pagi?” tanya Datuk Arenan di dalam hati.
Karena sibuk memikirkan mimpinya, ia tidak bisa tidur lagi. Seperti hari kemarin, ia pun tidak sabar menunggu pagi hari dan ingin mengetahui apa yang ia akan dapatkan besok.
Menjelang subuh, ia pergi.untuk memeriksa ambatnya. Karena hari masih gelap, ia tidak bertemu dengan seorang pun selama perjalanan ke sungai. Setelah sampai di tepi sungai, ia langsung menarik ambatnya. Benar! Kali ini ambatnya terasa berat sekali, tetapi ia tidak melihat satu ekor ikan pun yang melekat di kailnya. Dengan tidak berputus asa, ia terus menarik ambatnya. Pada bagian ujung ambat, ia melihat sesuatu yang berkilauan melekat di ambatnya. Semakin mendekati ujung ambat, barulah terlihat olehnya seperti kain yang berkibar-kibar berkilauan. Setelah mencapai ujung ambat, terlihat jelas yang melekat di ujung ambat adalah seorang wanita. Ia sangat terkejut. Diangkatnya wanita itu dan dibawanya ke pinggir sungai. Bajunya yang putih berkilauan basah kuyup oleh air dan wanita itu sangat kedinginan. Segeralah dibawanya wanita tersebut pulang ke rumahnya.
Setiba di rumah, Datuk Arenan langsung membuka lemari pakaiannnya. Dicarinya pakaian yang cocok untuk wanita asing tersebut. Kemudian ia teringat bahwa ia pernah menyimpan baju almarhum ibunya. Baju itu sudah lama sekali ia simpan. Dicarinya baju tersebut dan dan ia berhasil menemukannya. Ternyata baju itu masih bagus.
“Ini handuk, baju, dan kain yang bisa kau pakai. Segeralah ganti pakaianmu yang basah itu. Nanti kamu masuk angin,” ujar Datuk Arenan.
Wanita itu menurut saja. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya.
Sementara itu, Datuk Arenan sangat bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Mula-mula terbesik di benaknya untuk merahasiakan saja apa yang ia temukan pagi ini. Sesaat kemudian pikirannya berubah. Cukup lama ia memikirkan hal tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada krio di kampungnya.
“Ada apa Datuk, panas terik begini Datuk menemui saya. Pasti ada hal yang sangat penting yang ingin Datuk sampaikan kepada saya,” ujar krio.
“Ada hal penting yang ingin saya katakan.”
“Katakanlah, Datuk. Jangan sungkan-sungkan. Saya siap mendengarnya. Kalau memang ada masalah, mudah-mudahan saya bisa bantu.”
“Begini, Krio. Tadi pagi seperti biasa saya memeriksa ambat yang saya pasang. Namun, saya mendapatkan suatu keajaiban Di ujung ambat saya tersangkut seorang wanita yang tidak saya kenal. Sekarang wanita itu ada di rumah saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan apakah yang saya lakukan ini sudah benar?”
“Benarkah Datuk apa yang Kau bicarakan?”
“Benar, Krio.”
“Jadi, sekarang ini wanita itu ada di rumahmu?”
“Betul, Krio.”
Cukup lama krio berpikir. Ia pun melanjutkan perkataannnya.
“Datuk adalah seorang laki-laki yang tinggal sendirian di rumah. Akan menjadi aib yang sangat besar kalau Datuk membiarkan wanita itu tinggal di rumah Datuk seperti sekarang ini. Menurut saya, karena Datuk belum punya istri, bagaimana kalau Datuk kawini saja wanita itu. Karena datuk yang menemukan wanita itu, Datuklah yang lebih berhak menjadi istrinya.”
Mendengar ucapan krio, Datuk Arenan sangat gembira. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik dan selama ini kecantikannya belum pernah ditemui pada wanita-wanita di kampungnya.
Tidak lama setelah pembicaraan Datuk Arenan dengan Krio, diumumkanlah berita pernikahan Datuk Arenan. Setelah itu, diadakanlah pesta besar-besaran di kampung itu. Semua masyarakat bergembira. Pada acara perkawinan tersebut, Datuk Arenan dan istrinya mengenakan pakaian adat perkawinan. Istri Datuk Arena yang memang cantik, semakin cantik dangan dandanan pengantin tersebut. Semua warga pun mengakui dan memuji kecantikan istri Datuk Arenan sehingga Datuk Arenan merasa sangat bangga.
Setelah pesta pernikahan usai, istri Datuk Arenan berpesan kepada suaminya.
“Kak, aku ikhlas dan rela menjadi istri Kakak karena kebaikan Kakak yang telah menyelamatkanku. Namun, ada satu permintaanku agar rumah tangga kita tetap langgeng.”
“Permintaan apakah gerangan itu, Dik.”
“Permintaanku tidaklah berat. Aku hanya meminta pakaianku yang pertama kali kukenakan saat Kakak menemukanku hendaknya disimpan dengan baik dan jangan pernah memintaku untuk mengenakannya kembali.”
“Kalau hanya itu permintaanmu, tentulah aku sanggupi.”
Mereka berdua kemudian hidup berbahagia. Datuk Arenan tetap meneruskan kebiasaannya menangkap ikan. Istrinya di rumah saja. Pekerjaan sehari-hari istrinya, di samping malayani suaminya, ia menenun benang menjadi kain menggunakan alat tenun yang ditemukan Datuk Arenan sebelum menemukan dirinya.

***

Selang beberapa bulan kemudian, desa tersebut kedatangan tamu jauh. Tamu yang datang adalah rombongan dari Kesultanan Palembang yang pergi berburu. Karena kemalaman, rombongan pun menginap di desa itu.
Seperti biasa, setiap ada tamu yang datang, masyarakat mengadakan jamuan untuk menghormati tamu. Selain dihidangkan makanan, tamu juga disuguhi dan dihibur dengan nyanyian dan tari-tarian.
Malam itu, semua tamu merasa senang dan mereka sangat menikmati suguhan yang disajikan. Banyak warga yang turut hadir dalam jamuan itu, termasuk Datuk Arenan dan istrinya.
Setelah semua tarian dan nyanyian ditampilkan, para tamu yang terpesona dengan kecantikan istri Datuk Arenan meminta kepada krio agar mengizinkan istri Datuk Arenan menari. Disampaikanlah keinginan para tamu kepada Datuk Arenan. Datuk Arenan merasa sangat gembira. Ia merasa tersanjung dan mendapat kehormatan yang luar biasa.
“Baiklah kalau begitu, kami berdua pamit pulang sebentar untuk berganti pakaian,” kata Datuk Arenan kepada krio yang menyampaikan permintaan para tamu.
“Sebenarnya, pakaian yang dipakai istrimu sudah cukup bagus, tetapi kalau istri Datuk ingin berganti pakaian kami persilakan. Kami semua menunggu di sini,” jawab krio.
Setelah berpamitan, pulanglah Datuk Arenan beserta istrinya. Kerena jarak dari tempat perjamuan menuju ke rumah Datuk Arenan tidak terlalu jauh, sebentar saja mereka sudah sampai di rumah.
“Dik, rasanya tidak ada pakaian yang paling pantas kau kenakan pada kesempatan baik ini selain pakaian yang engkau kenakan waktu pertama kali kita bertemu. Kenakanlah pakaian itu Kau akan kelihatan semakin cantik dan mempesona.”
“Kak, bukankah Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak menyuruhku memakai pakaian ini? Jadi, tolong jangan suruh aku memakainya. Lebih baik aku kenakan pakaian yang lain saja. Bagaimana kalau yang ini?” kata istrinya sambil menunjukkan baju yang cukup bagus yang baru selesai ia buat.
“Tapi, Dik, Kakak ingin engkau mengenakan pakaian ini. Kakak ingin sekali semua mata terpesona melihat kecantikanmu dalam balutan pakaian ini dan tentu ini akan membuat Kakak akan sangat bangga .”
“Kak, sekali lagi tolong, jangan…jangan Kakak paksa aku memakai pakaian ini. Aku takut Kak, kalau aku memakai pakaian ini akan terjadi keanehan yang aku yakin Kakak dan aku tidak menghendakinya. Percayalah padaku, Kak!”
“Percayalah Dik, Kakak yakin tidak akan terjadi apa-apa pada diri Adik. Sekarang cepat kenakan, mereka semua sudah menunggu kedatangan kita.”
“Jangan Kak, lebih baik aku memakai pakaian yang lain saja.”
“Ayolah Dik, cepatlah kenakan pakaian ini!”
“Baiklah kalau Kakak memaksa, saya akan turuti. Akan tetapi Kakak jangan pernah menyesal dan jangan menyalahkan saya jika terjadi sesuatu setelah saya mengenakan pakaian ini.”
Setelah mengenakan pakaian tersebut, mereka berdua pergi ke tempat perjamuan. Kemudian, menarilah istri Datuk Arenan pada acara jamuan itu. Keindahan tariannya membuat semua yang hadir terpesona. Gerakan tariannya yang lemah gemulai sangat menarik dan memikat hati. Semua bertepuk tangan dan memuji penampilan isri Datuk Arenan.
Istri Datuk Arenan terus menari dengan sungguh-sungguh.. Namun, semakin lama istri Datuk Arenan menari, timbulah keanehan. Perlahan-lahan kaki istri Datuk Arenan terangkat naik. Semakin lama tubuhnya melayang semakin tinggi dan terus naik hingga hilang dari pandangan mata.
Semua yang hadir terpaku, lalu menjadi panik. Mereka bingung seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Terlebih-lebih Datuk Arenan. Ia berlari-lari sambil menjerit-jerit memanggil istrinya.
“Dik, turun Dik, jangan tinggalkan Kakak sendirian. Kakak janji tidak akan menyuruhmu memakai pakaian itu lagi. Turunlah Dik!”
Berkali-kali Datuk Arenan menjerit memanggil istrinya. Setelah lelah menjerit dan berlari-lari, ia pun tersungkur di tanah.
“Oh Dik, mengapa kau tinggalkan kakak sendirian. Belum lama kita bertemu, mengapa Kau tega meninggalkan Kakak dengan cara seperti ini,” ucap Datuk Arenan sambil tak henti-hentinya menangis dan menyesali tindakannya.
Warga yang mendengar ratapan Datuk Arenan pun turut hanyut dalam kesedihan. Tidak sedikit pula yang meneteskan air mata. Salah sorang warga membimbing Datuk Arenan pulang ke rumahnya.
Malam itu datuk Arenan terus memanggil-manggil istrinya sambil matanya menatap ke langit.
Setelah kejadian itu Datuk Arenan terus dalam kesedihan. Sambil meratapi kepergian istrinya, ia menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba mengikuti gerakan tarian istrinya sebelum pergi. Ia ingat setiap gerakan istrinya. Setiap hari ia menari menirukan gerakan istrinya. Semakin sering ia menari, semakinlah ia sadar tarian istrinya itu seperti gerakan ikan seluang.
Untuk terus mengenang istrinya, Datuk Arenan pun mengajarkan garakan tarian istrinya kepada gadis-gadis di desanya. Tarian yang diajarkannya inilah yang diberi nama tari seluang mudik.

Asal-usul Desa Meranti

Dahulu kala hiduplah seorang petani yang kaya. Kekayaannya sangat melimpah. Dia mempunyai anak perempuan yang cantik jelita bernama Putri Merilianti. Ia sangat ditakuti di desanya, desanya bernama desa Talang Lama. Pak tani juga kaya tetapi pelit. Setiap kali warga datang ingin meminta bantuan setiap kali kembali tidak menimbulkan hasil.
Suatu hari datanglah seorang pemuda dari desa seberang, dia mendengar di daerah ini ada pak tani yang sangat pelit, dia ingin membuktikannya sendiri kepelitan pak tani, dia berpura-pura datang ingin meminta bantuan, pemuda itu berkata pada pak tani.
“Pak tani, boleh saya meminta sepiring nasi ?”
“Apa ? kamu ingin sepiring nasi ?” pak tani balik bertanya.
“Ya, kalau pak tani membolehkan !”
“Enak saja, di daerah ini lagi musim kering dan sawah kami lagi kekeringan, jdi tidak ada sepiring nasi untukmu.” Kata pak tani.
Melihat hal itu putri Merilianti merasa kasihan terhadap pemuda itu ia berkata pada ayahnya.
“Ayah, mengapa ayah tidak memberikan sedikit nasi untuk dia? Padahal ayah adalah orang kaya didaerah ini.”
Lagi-lagi ayah menjawab dengan kata-kata kasar.
“Apakah enak orang mencari sepiring nasi dengan susah payah, berpanas-panasan setiap hari, setelah itu dikasihkan dengan semudah itu apakah itu yang benar?”
“Ayah memang tidak pernah memikirkan rakyat kecil maunya menang sendiri, ayah pelit!!”
Sambil putri belari masuk kedalam rumah. Pak tani dengan sikap pelitnya itu menjadikan dia orang yang sombong. Ia setiap hari tidur bersama ayamnya. Kebetulan rumah pak tani tingai, mempunyai empat buah tiang, tiang rumahnya terbuat dari kayu meranti. Dikarenakan dia tidur di kandang ayamnya ia sangat sayang dengan kasurnya yang sangat bagus, supaya tidak cepat rusak ia memilih tidur di kandang ayam.
Suatu malam pemuda itu datang lagi ia melihat pak tani tidur di kandang ayamnya. Ia langsung masuk ke rumah pak tani. Pemuda itu ke dapur dan dia merebus air, setelah air itu mendidih lalu disiramnya air itu ke tubuh pak tani yang ada di bawah rumah. Seketika itu pak tani tidak bernyawa lagi. Besok harinya ditemukan oleh warga bahwa pak tani telah meninggal. Akhirnya pemuda itu menikahi putri Merilianti. Mereka hidup bahagia, dan mereka dikaruniai seorang anak yang diberi nama putri Meranti, sejak itulah desa itu diganti namanya menjadi desa Meranti.

Menguji Tol Baru dari Bakauheni ke Palembang

Hal yang menjadi alasan kenapa aku malas pulang kampung lewat darat adalah keharusan melalui Lintas Timur yang jalannya selalu rusak. Belum lagi ditambah ancaman ketidakamanan dari bajing loncat. Dulu, bila naik bis, kira-kira jam 8-9 berlabuh di Bakauheni, sampai ke Palembang paling cepat pukul 9 pagi. Atau minimal 12 jam perjalanan. Nah, mengatasi itu, Pak Jokowi berinisiatif mengeksekusi jalan tol baru dari Lampung ke Palembang yang baru diresmikan 11 Mei kemarin.

Klaimnya, hanya butuh waktu 6 jam dari Bakauheni ke Palembang. Benarkah demikian?

Pukul 6.15 kira-kira, aku baru keluar dari kapal laut. Berangkat dari Bogor sekitar pukul 9 malam, aku melaju dengan cepat tanpa hambatan berarti. Hanya karena keasikan ngobrol, abai pada rambu, sehingga kebablasan ke Pantai Indah Kapuk. Putar balik, sampai Bakauheni sekitar setengah 1 dini hari. Keadaan sudah begitu ramai sehingga kami harus mengantre. Pukul 3 lewat baru bisa masuk kapal laut. Penyeberangan pun kulalui tanpa gelombang yang berarti. Meski ya, kapal penuh sesak dengan penumpang, sehingga sulit sekali mencari tempat istirahat yang nyaman.

Bakauheni ke Terbanggi Besar

Begitu keluar pelabuhan, aku langsung masuk tol. Sayangnya, gerbang tol tampaknya gagal membaca kartu e-money milikku. Sang petugas datang dan bertanya apa ada kartu lain. Aku menggeleng. Sang petugas lalu memberi karcis tanda pembayaran manual.

Dokumentasi pribadi

Mobil kemudian melaju dengan kencang. Rata-rata kecepatan 100 km/jam. Pemandangan di sisi jalan begitu indah. Matahari yang baru terbit nampak di sisi kanan, memamerkan sinarnya yang kemerahan. Di sisi kiri, bukit hijau memanjakan mata. 

Dokumentasi pribadi

Kurang lebih 1,5 jam kemudian, nampak ada petugas yang mengarahkan kendaraan yang ingin menuju Palembang harus berbelok ke ruas jalan yang lain. Bagian jalan yang menuju Bakauheni diberikan sebagian kepada kendaraan yang menuju Palembang, dengan pembatas sekadarnya. Bahaya sebenarnya bila ada pengemudi yang abai dengan pembatas minim itu.

Tak lama kemudian baru kuketahui alasannya, terdapat penumpukan kendaraan. Entah apa sebabnya. 

Di sini, mulai kuragukan waktu tempuh 6 jam yang digadang-gadang itu.

Kurang lebih setengah jam sampai kuketahui penyebabnya. Ternyata penyebabnya adalah gerbang tol Terbanggi Besar. Gerbang pembayaran belum siap untuk melayani pembayaran. Seperti di gerbang masuk, e-money yang gagal terbaca bukan karena e-money ku yang rusak, melainkan alat mereka yang tidak berfungsi. Begitu juga di gerbang pembayaran, semuanya jadi manual. Petugas satu per satu melayani pembayaran. Dan tampaknya memakan waktu untuk memeberi kembalian.

Bagi yang mau keluar ke Bandar Lampung, bisa keluar di Terbanggi Besar ini. Tarif tol Bakauheni-Terbanggi Besar adalah Rp112.500. Tarif ini mulai berlaku sejak 17 Mei 2019.

Terbanggi Besar ke Palembang

Keluar dari Terbanggi Besar, mobil pun melesat bagai peluru. Selambat-lambatnya ya 100 km/jam. Jalan sudah bagus. Sebagian sudah diaspal. Sebagian besar masih semen beton. 

Ruas tol ini masih digratiskan lho buat arus balik mudik. Sayangnya karena baru, sepanjang perjalanan tidak ada rest area yang layak. Jadi, kusarankan untuk membawa makanan yang cukup saat berangkat. Begitu pula SPBU—tidak ada SPBU. Ada SPBU seperti pertamini di beberapa rest area yang terdapat di sepanjang jalan tol. Jadi lebih baik sebelum masuk Merak, pastikan tangki bahan bakar mobilmu terisi penuh ya.

Bagaimana dengan toilet? Toiletnya masih berupa toilet darurat seperti kalau kita ikut event olahraga. Belum ada toilet permanen. Namun, kualitasnya memadai. Hanya saja, di beberapa rest area, jumlahnya sangat terbatas sehingga memunculkan antrean yang panjang bila ingin ke toilet. Kami pun melewat satu demi satu rest area sampai menemukan rest area yang toiletnya banyak.

Sesampainya di Kayu Agung, kendaraan harus melambat. Kenapa? Karena jalan belum jadi secara sempurna. Sebagian besar ruas jalan masih berupa koral yang dipadatkan. Dan beberapa titik jalan bergelombang, tidak rata, sudah menunjukkan kerusakan. Cukup sulit melaju di atas 40 km/jam di jalan ini. Dari Kayu Agung sampai ke Palembang, waktu tempuh kira-kira 1,5 jam.

Total Waktu Tempuh

Dengan adanya macet di Terbanggi Besar ditambah jalan yang masih belum jadi di Kayu Agung, waktu tempuh yang kami catat masih tak sampai 6 jam. Menakjubkan bukan? Jarak tempuhnya sekitar 370 km. Kalau jalan mulus tanpa kemacetan, malah bisa 4-5 jam sepertinya.

Gila. Dibandingkan lewat Lintas Timur yang jalannya jelek dan tidak aman, efisiensinya luar biasa. Terima kasih banget ke Pemerintah yang berani mengambil keputusan pembangunan jalan tol ini. Palembang Lampung serasa selemparan cung.

Hanya, pesan sih, membangun lebih mudah dari memelihara. Dulu, aku masih ingat juga, awal-awal Lintas Timur dibangun, dari rumah ke Bakauheni ya cuma 8 jam. Tapi begitu rusak, ya rusak terus. Aku harap jalan tol baru ini tetap mulus terus. Bila perlu, truk-truk besar dilarang lewat jalan tol ini biar awet jalannya. 

Terima kasih sekali lagi buat Pak Jokowi. Semoga di tahap kedua jadi Presiden, bikin jalur kereta Sumatranya juga terealisasi. Biar makin asik.

Cerita Rakyat Banyuasin | Asal-Asul Pangkalan Panji

Dahulu kala di sebuah hutan belantara, tinggallah seorang pemuda yang sangat tampan dan baik hati. Pemuda itu tinggal bersama kakeknya di dalam rumah yang sangat sederhana yang beratap daun rumbia, dan berdinding papan. Kedua orang tuannya telah tiada. Kakeknyalah yang merawatnya sejak kecil. Pemuda itu bernama Panji.

Sang kakek memiliki ilmu bela diri dan juga memiliki kesaktian. Di bawah asuhan sang kakek, Panji diajarkan ilmu bela diri. Ia juga diajarkan hidup disiplin dan tidak sombong sebagai manusia. Bahkan, semua kesaktian yang dimiliki sang kakek pun diturunkannya kepada Panji karena sang kakek yakin Panji tidak akan menyalahgunakan ilmu yang telah diberikannya. Seiring bertambahnya waktu, Panji semakin mantap dengan ilmu yang diberikan sang kakek dan ia telah menguasai semua ilmu yang diajarkan sang kakek.

Seiring bertambahnya waktu, Kakek pun semakin bertambah umurnya. Tubuhnya semakin renta dan pandangannya pun sudah kabur dan sakit-sakitan.Hari itu sang kakek memanggil Panji.

“Panji cucuku, kemarilah!”
“Iya ,Kek. Aku di sini.” Panji mendekat dan memegang tubuh kakek.
“Panji cucuku, kakek sudah tua dan tidak ada lagi yang bisa kakek berikan kepadamu, mungkin umur kakek tinggal sebentar lagi.”
“Kakek!” ucap Panji dengan lirih.
“Kakek minta semua yang telah kakek berikan dapat kau gunakan dengan sebaiknya, jangan disalahgunakan.”
“Kek!” ucap Panji mencoba menahan emosi
“Setelah kakek tiada, pergilah ke kota, carilah pekerjaan dan hiduplah dengan uang hasil jerih payahmu. Akan tetapi, ingatlah, di kota banyak orang-orang jahat. Jagalah dirimu, jangan sampai engkau ikut-ikutan seperti mereka, tegakkanlah keadilan di sana!”
“Iya Kek, saya berjanji.” Jawab Panji mencoba meyakinkan kakeknya walaupun hatinya sangat sedih.

Tidak lama setelah kejadian itu, sang kakek meninggalkan Panji untuk selama-lamanya. Panji tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya. Ia merasa sendiri. Setelah memakamkan kakeknya, ia pun melaksanakan pesan terakhir kakeknya.Ia tinggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke kota.

Setelah lama berjalan, sampailah ia di kota. Ia pun bekerja dan tinggal di sana. Ia pun membuktikan sendiri ternyata apa yang disampaikan sang kakek memang benar. Perampok sangat sering terjadi. Saat melihat perampok beraksi, Panji langsung memberantasnya. Karena keberaniannya, Panji menjadi terkenal sebagai pemuda misterius yang berani melawan kejahatan.

Keberanian Panji melawan kejahatan sampailah ke telinga sang sang raja. Raja pun menyuruh pengawalnya untuk mencari Panji.

“Hulubalangku, kemarilah!”
“Duli Tuanku” jawab hulubalang.
“Segeralah kau Pergi mencari pemuda yang bernama Panji. Kudengar ia memiliki kesaktian yang tinggi dan bawalah ia menghadapku.”
“Baik Tuanku, hamba berangkat.”
Berangkatlah hulubalang raja untuk mencari pemuda bernama Panji. Setelah lama berjalan, akhirnya hulubalang raja berhasil menemukan Panji dan membawanya ke hadapan raja.
“Duli Tuanku, hamba Panji datang menghadap”
“Benar kau pemuda yang telah berani melawan setiap terjadi perampokan?” Tanya sang raja.
“Benar Tuanku,” Jawab Panji
“Aku telah mendengar keberanianmu dan kesaktianmu. Untuk itu, sekarang engkau kuangkat menjadi panglima perang kerajaan.”
“Hamba dengan senang hati menerima tugas yang Tuan berikan pada hamba.”
“Aku juga akan memberikan puteriku yang cantik ini sebagai istrimu”.
“Terima kasih, Tuan,” jawab Panji terbata-bata karena tidak menyangka raja memberinya sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang tidak pernah terbesit dalam hatinya.

Panji pun diangkat sebagai panglima perang dan dinikahkan dengan putri raja.
Di bawah pimpinan Panji, negeri itu menjadi makmur dan terkenal akan kekuatannya. Perampok dan pemberontak ditumpas habis, sehingga negeri itu menjadi sejahtera. Setiap ada peperangan, Panji selalu berada di barisan terdepan.

Karena jasa besar Panji, raja akhirnya mengubah nama negeri mereka menjadi Pangkalan Panji. Nama pangkalan di ambil dari pelabuhan dagang kerajaan yang merupakan pangkalan kerajaan yang telah menjadikan negeri itu sejahtera. Panji dan istrinya hidup bahagia.

Traveler Baper

Agak bingung, bagaimana harus memulai cerita di blog yang baru ini. Begini sih, sejak dua bulan lalu, aku kepikiran untuk memisahkan cerita perjalanan dari Catatan Pringadi. Terutama untuk lebih bebas menuangkan cerita yang ada di perjalanan tersebut, termasuk juga cerita kenapa aku memilih untuk melakukan perjalanan.

Traveler Baper. Nama ini yang akhirnya muncul setelah sebelumnya hadir nama seperti The Gendut Traveler dan Pejalan Kreatif. Kenapa harus Traveler Baper? Simpelnya, dulu, setiap aku traveling, pasti aku membuat puisi.

Ke depannya, mungkin aku ingin mengumpulkan kembali kisah-kisah yang tidak tertulis selama perjalanan itu. Ya, semoga saja blog ini cepat banyak kontennya dan bisa bermanfaat bagi orang lain.