Desa Sungsang

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa, hiduplah sebuah sepasang suami istri. Suaminya sudah renta dan tidak lagi bekerja. Sehari-harinya istrinya berjualan kerupuk keliling di desa. Selama bertahun-tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Mereka telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan anak. Akan tetapi, semua itu belum mendatangkan hasil. Meskipun demikian, mereka tidak putus asa dan tetap berusaha dan berdoa agar dikaruniai anak.

Suatu hari seperti biasa istrinya berdagang kerupuk keliling. Saat ia berkeliling menjajakan dagangannya, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang tidak memakai baju. Anak kecil tersebut meminta makanan kepadanya.

“Mana orang tuamu?” tanya istrinya.

Anak tersebut tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

“Mana orang tuamu?”

Anak itu kembali menggelengkan kepalanya.

“Apakah kamu tidak mempunyai orang tua lagi?”

Anak itu selalu menggelengkan kepalanya.

Anak kecil itu pun diajak ke rumah istrinya. Mereka lalu merawat anak itu. Anak tersebut mereka beri nama Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun tumbuh dewasa. Ia melakukan perubahan pada desanya. Untuk menjaga keamanan desa, ia melakukan ronda pada malam hari. Ia pun sangat ringan tangan. Tidak segan-segan ia menolong orang banyak. Ia rajin bekerja dan sering melakukan kegiatan memacing ikan.
Perbuatan baik bujang Sungsang banyak ditentang oleh orang sekitarnya. Sebagian orang merasa terusik dengan perbuatan Bujang Sungsang. Mereka yang tidak menyukai Bujang Sungsang berencana untuk mencelakai Bujang Sungsang.

Sesuai rencana mereka, Bujang Sungsang pun ditangkap. Setelah ditangkap, Bujang Sungsang dimasukkan ke dalam kandang dan akan dibuang ke Sungai Musi. Saat itu, muncullah keajaiban. Bujang Sungsang yang sudah berada di kandang tiba-tiba telah berada di luar kandang.

Setelah di luar kandang, Bujang Sungsang berubah wujud menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Semua yang hadir terkejut dan terpesona melihat ketampanan Bujang Sungsang.

Baca juga: Cerita Rakyat Banyuasin: Asal Mula Rumah Lama

“Wahai warga sekalian, saya mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa kebersamaan dalam hidup itu sangat perlu. Percaya kepada kebaikan orang lain juga sangat perlu. Berbuat baiklah dan tolong-menolonglah sesama manusia,” ujar Bujang Sungsang. Perkataannya terdengar sangat berwibawa.

Bujang Sungsang segera mendekati kedua orang tua angkatnya, “Bapak, Ibu, terima kasih telah mengasuh, mendidik, dan membesarkan saya selama ini. Bapak dan Ibu telah mengasuh saya dengan sangat baik. Saya tidak dapat membalas kebaikan yang telah Bapak dan Ibu lakukan, Bapak, Ibu, saya pamit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya, ” kata Bujang Sungsang sambil menahan emosi.

Semua warga yang hadir menyaksikan perbuatan dan mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Bujang Sungsang. Mereka semua seolah terhipnotis dengan kata-kata Bujang Sungsang.

Bujang Sungsang pun pergi ke tepian Sungai Musi. Sejenak ia amati sekelilingnya dan kemudian melompat ke dalam sungai tersebut. Semua warga menunggu kemunculan Bujang Sungsang dari sungai. Akan tetapi, setelah lama ditunggu, Bujang Sungsang tidak muncul-muncul. Warga yang berkumpul pun akhirnya bubar.

Perbuatan dan ucapan Bujang Sungsang jadi pembicaraan di desa itu. Siang malam mereka tak habis-habisnya membicarakan hilangnya Bujang Sungsang di Sungai Musi. Di warung kopi, di rumah, siang, malam, mereka terus membahas perkataan Bujang Sungsang sebelum menceburkan dirinya di sungai.

Akhirnya, penduduk desa tersebut sepakat memberi nama desa tempat Bujang Sungsang dengan nama Desa Sungsang. Warga Desa Sungsang yakin Bujang Sungsang membawa berkah pada para nelayan karena sejak Bujang Sungsang menceburkan diri di sungai tersebut banyak sekali ikan yang hidup dan nelayan selalu mendapatkan hasil yang melimpah.

Cerita rakyat ini berasal dari Desa Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *